Pantai Kolbano di Kabupaten TTS, NTT

Pantai Kolbano di Kabupaten TTS, NTT (Istimewa)

Kolbano- Berbeda dengan pantai pada umumnya yang berhiaskan hamparan pasir, Pantai Kolbano justru dihiasi batu-batu kecil berwarna-warni yang indah. Ada yang berwarna hitam, putih, merah, biru, merah muda, jingga, coklat, hijau keabu-abuan, dan berbagai warna gradasi.

Kehadiran bebatuan berwarna ini kian menambah eksotiknya pantai dengan hamparan air laut berwarna biru sejauh mata memandang. Taburan batu berwarna-warni di bibir pantai yang dipadu dengan birunya laut ini membuat takjub siapa pun yang berkunjung ke pantai tersebut.

Keunikan lainya yakni wisatawan bisa melihat matahari terbit dan terbenam dari tempat yang sama. Tak heran jika Kolbano menjadi tempat favorit fotografer yang ingin mengabadikan momen langkah tersebut. Menurut warga setempat, pada malam hari mereka pun bisa melihat gemerlapnya lampu di Kota Darwin, Australia.

Kolbano juga menjadi salah satu tempat bersejarah dalam perjuangan melawan penjajah. Pada tahun 1907 terjadi perang besar di Kolbano melawan Belanda. Hal ini bisa dilihat dari prasasti yang dibangun untuk memperingati perang tersebut. Sayangnya, prasasti yang ada tak jauh dari pantai ini terlihat tidak terawat sama sekali dan biarkan terlantar.

Tak mengherankan, jika banyak pengunjung yang datang ke pantai ini mendapatkan kesan yang luar biasa. Bahkan, mereka menganggap Pantai Kolbano sebagai surga tersembunyi yang ada di Bumi Flobamora.

Setidaknya hal itu diungkapkan salah satu warga Indonesia yang sudah lama menetap di Australia, Serly Singli saat mengunjungi pantai ini beberapa waktu lalu.

Maklum saja, lokasi Pantai Kolbano termasuk wilayah terluar Indonesia. Pantai Kolbano yang berada di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini berada persis di bibir Laut Timor dan Samudera Hindia yang langsung berhadapan dengan Kota Darwin, Australia.

Jarak dari Kupang, ibu kota Provinsi NTT ke Kolbano sekitar 135 kilometer, yang bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi sekitar tiga jam perjalanan. Meskipun perjalanannya cukup jauh dan melelahkan, namun saat menginjakkan kaki di Pantai Kolbano dan disambut dengan semilirnya angin, desiran ombak, birunya laut, serta uniknya kerikil berwarna, membuat semua kepenatan pun terhempas.

Sayangnya, eksotisme pantai yang menjadi salah satu ikon promosi pariwisata NTT ini jarang dikunjungi oleh wisatawan. Jangankan wisatawan asing, wisatawan nusantara saja jarang yang mampir ke tempat ini. Sebagian besar pengunjung yang datang ke sini adalah warga sekitar Kabupaten TTS, Kabupaten Kupang, dan Kota Kupang yang relatif bisa ditempuh sekitar dua sampai tiga jam perjalanan dengan kendaraan pribadi.

Terbatasnya angkutan umum ke lokasi ini menjadi salah satu kendalanya. Kendati ada angkutan pedesaan yang melayani warga sekitar untuk ke Kota Soe, Ibukota TTS dan juga ke Kupang, tetapi jumlahnya relatif sangat minim. Sebagian besar warga yang berkunjung ke tempat ini menggunakan kendaraan pribadi. Selain itu, infrastruktur jalannya pun tidak mulus. Kendati sudah diaspal, tetapi jalannya masih bergelombang dan banyak berlubang di sepanjang jalan menuju Kolbano.

Kondisi tersebut diperparah lagi dengan tidak adanya fasilitas pendukung sebagaimana layaknya tempat wisata. Jangankan tempat penginapan, fasilitas umum untuk pengunjung saja tidak ada. Di Pantai Kolbano tidak ada toilet umum, gazebo atau pondok untuk pengunjung berteduh, air bersih, dan warung makan, serta tempat sampah.

Mereka yang berkunjung ke pantai ini biasanya berteduh di bawah pepohonan yang ada di tepi pantai dan harus membawa makanan sendiri karena tidak ada warung atau restoran. Selain itu, tak adanya tempat sampah mengakibatkan sebagian pengunjung seenaknya membuang sampah di pinggir pantai atau meninggalkan sampah bekas makanan dan minuman yang mereka bawa begitu saja. Akibatnya, keindahan pantai ini pun tercoreng.

Mereka yang hendak menginap untuk menikmati keindahan alam pantai biasanya menyewa rumah warga yang ada di sekitar pantai. Demikian pula, mereka yang kebetulan ingin membuang air kecil atau besar, biasanya meminjam toilet warga yang tinggal di sekitar pantai tersebut.

Batu berwarna-warni di Pantai Kolbani

Batu berwarna-warni di Pantai Kolbano

Tradisi

Beruntung, warga sekitar memiliki adat dan tradisi yang luar biasa dalam menyambut tamu atau pendatang. Mereka dengan ikhlas meminjamkan rumah mereka bagi para pengunjung Pantai Kolbano untuk berteduh di kala hujan ataupun memakai toilet mereka secara gratis. Sebagian pengunjung memang membalas keramahan warga dengan memberikan uang ala kadarnya sebagai ungkapan terima kasih.

Selain eksotisme pantai, warga setempat juga masih memegang teguh prinsip adat dan tradisi turun-temurun dari para leluhur mereka untuk menjaga keasrian pantai. Bagi mereka, Pantai Kolbano adalah masa depan mereka. Karena itu, mereka harus menjaganya dengan baik. Bagi mereka, Pantai Kolbano juga merupakan kehidupan mereka. Karena itu, mereka tidak pernah menggunakan berbagai peralatan yang bisa merusak biota laut seperti bom ikan atau pukat harimau untuk menangkap ikan.

Mereka secara turun-temurun hanya menggunakan peralatan tradisional seperti jaring atau alat pancing sederhana untuk menangkap ikan. Perahu nelayan pun hanya berlayar paling jauh satu kilo meter dari pantai untuk menangkap ikan. Mereka menangkap ikan hanya secukupnya untuk kebutuhan sehari-hari atau dijual ke kota untuk memenuhi kebutuhan mereka seperti biaya pendidikan anak-anak.

Justru belakangan ini, warga setempat sering melihat kapal-kapal ikan besar yang berada di tengah lautan, baik yang berbendara Indonesia maupun berbendera asing. Kapal-kapal itu mengeruk kekayaan laut di sana dan dibawa entah ke mana tanpa memberikan nilai tambah bagi warga setempat.

Selain itu, akhir-akhir ini aktivitas penambangan batu berwarna-warni di Kolbano meningkat drastis. Banyak warga dari Kupang, bahkan, Surabaya dan Jakarta berburu batu berwarna ini untuk dijual ke kota-kota besar di Indonesia. Jika hal ini tidak segera dilarang oleh pemerintah, maka tidak mustahil eksotisme Pantai Kolbano hanya tinggal kenangan.

Pantai Oetune

Pantai Kolbano tidak sendirian. Tak jauh dari Pantai Kolbano, ada pula Pantai Oetune. Berbeda dengan Pantai Kolbano, Pantai Oetune justru ditemani hamparan pasir putih agak kekuning-kuningan yang cukup luas dan panjang lebih dari lima kilo meter. Pasir yang ada di pantai ini jauh lebih halus dari pasir Pantai Kuta di Bali. Selain itu, Pantai Oetune juga memiliki gundukan pasir yang membentuk bukit kecil bak gurun pasir.

Deburan ombak dan hamparan pasir yang cukup luas membuat setiap pengunjung yang datang ingin cepat-cepat menjejakan kakinya di pasir yang halus tersebut serta bermain di tengah ombak yang bergulung-gulung sebanyak empat hingga lima kali selama hampir satu menit sebelum akhirnya pecah menghempas pasir di tepi pantai.

Jika Anda merasa lelah, Anda bisa berteduh di bawah pepohonan di tepi pantai atau di pondok yang ada sambil menikmati segarnya air kelapa muda yang sengaja dijajakan oleh anak-anak di sekitar pantai ini.

Di pantai ini telah dibangun beberapa pondok atau dalam bahasa setempat lopo sebagai tempat berteduh bagi wisatawan. Selain itu, tempat ini juga sudah dibangun toilet dan kamar mandi walaupun dengan fasilitas yang masih sangat minim dan tampak kurang terawat. Selain itu, tidak ada petunjuk jalan menuju ke pantai ini. Jalan ke pantai ini masih berupa tanah yang banyak ditumbuhi rerumputan. Sehingga, banyak pengunjung yang kecele atau kelewatan karena memang tidak ada penunjuk arahnya.

Perbaikan Infrastruktur

Jika saja pemerintah bisa membangun infrastruktur dan fasilitas pendukung yang memadai, tak mustahil suatu waktu kelak Pantai Kolbano dan kawasan pantai di sekitarnya bisa menjadi alternatif destinasi bagi wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Bahkan, bukan mustahil pula Kolbano dan kawasan pantai sekitarnya bisa mengalahkan Bali atau Lombok.

Jelas untuk mendatangkan wisawatan ke Kolbano dan pantai sekitarnya, keindahan alam semata tidaklah cukup tanpa dibarengi dengan infrastruktur dan fasilitas yang memadai. Jalanan menuju Kolbano dan pantai-pantai di sekitarnya harus diperbaiki sehingga membuat nyaman para wisatawan yang hendak ke sana.

Alat transportasi dari dan ke Kolbano juga harus diperbanyak, terutama angkutan umum yang memadai, sehingga ada banyak pilihan bagi wisawatan untuk menjangkau lokasi tersebut.

Selain itu, fasilitas di lokasi wisata itu sendiri juga harus dibangun seperti tempat penginapan yang layak, rumah makan atau restoran, fasilitas umum seperti toilet yang layak, pendopo-pendopo untuk tempat berteduh, fasilitas air bersih, tempat sampah, dan sebagainya.

Tentu saja ini bukan pekerjaan pemerintah semata, tetapi merupakan pekerjaan bersama semua pemangku kepentingan, tak terkecuali masyarakat setempat. Semua pihak harus memberikan kontribusi untuk menjadikan Kolbano sebagai destinasi baru wisata di NTT dan Indonesia.

Berbagai paket tur wisata bahari bisa dipadu dengan wisata tradisional dengan melihat adat dan tradisi dari warga setempat. Misalnya, membawa para wisatawan melihat langsung cara pembuatan selimut yang menggunakan bahan-bahan alamiah dan juga suguhan tari-tarian khas daerah setempat yang unik.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT Welly Rame Rohimone mengakui, kendala saat ini adalah ketersediaan infrastruktur, sarana dan prasarana terkait, dan keterbatasan anggaran serta sumber daya manusia.

Ia mengakui, untuk meningkatkan kunjungan wisatawan, selain promosi, perbaikan infrastruktur, sarana dan prasarana terkait seperti perbaikan jalan, jembatan ke destinasi wisata, ketersediaan listrik, ketersediaan transportasi dan juga dukungan SDM yang memadai juga harus diperhatikan.


Pantai Oetune

Pantai Oetune

Atasi Kemiskinan

Karena itu, sudah selayaknya pemerintah memperhatikan infrastruktur jika ingin menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu ujung tombak mengatasi kemiskinan di NTT. Apalagi, Pemprov NTT sendiri tahun ini menargetkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan nusantara sekitar satu juta wisatawan.

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang Dr Fritz Fanggidae mengatakan pariwisata yang dikenal memiliki dampak ganda, khususnya bagi perkembangan perekonomian daerah diyakini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di NTT.

Indikator yang dapat diukur di antaranya berkembangnya bisnis penyediaan kebutuhan industrihospitality, diharapkan dapat tersebar merata di seluruh penjuru NTT dan mensejahterakan penduduknya yang tersebar di 23 kabupaten/kota dengan jumlah penduduk mencapai 5,03 juta orang.

Visi ini (pariwisata dorong pertumbuhan ekonomi) searah dengan konsep dan tujuan pembangunan kepariwisataan di Indonesia yang telah dicanangkan oleh Kementerian Pariwisata, di mana identitas dan kesejahteraan penduduk lokal merupakan bagian dari tujuan yang ingin dicapai.

Bukan cuma itu, katanya, kerangka pembangunan pariwisata yang berkelanjutan menjadi indikator keberhasilan pembangunan kepariwisataan nasional, di mana penggunaan produk lokal, pemberdayaan, dan kesejahteraan penduduk lokal, kelestarian lingkungan dan keberlangsungan budaya setempat, serta pemerataan pembangunan perekonomian daerah menjadi sebagian kecil dari sekian banyak indikator keberhasilannya. Komitmen terhadap pembangunan pariwisata yang berkelanjutan ini juga telah tercantum dalam Global Code of Ethics for Tourism yang digagas oleh UNWTO pada tahun 1999.

Karena itu, tidaklah berlebihan jika NTT yang merupakan salah satu provinsi kepulauan di Indonesia ini bisa memanfaatkan keindahan alam yang ada untuk menarik wisatawan demi meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Apalagi, jumlah penduduk miskin di NTT hingga Maret 2015, tercatat sebesar 1.159.840 orang (22,61 persen) atau meningkat 168.000 orang dibandingkan September 2014 yang hanya berjumlah 991.880 orang atau 19.60 persen dari total penduduk.

Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) NTT mencatat, pada Februari 2015, dari 3,3 juta penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) sekitar 2,41 juta orang di antaranya aktif dalam perekonomian sebagai angkatan kerja.

Dari total 2.405.644 orang angkatan kerja tersebut, terdapat 75.110 orang di antaranya masih menganggur (belum tertampung oleh pasar kerja). Hal ini disebabkan oleh keterbatasan daya tampung di pasar kerja dan kesempatan yang tersedia.

Jika ada kemauan dan digarap dengan serius. Kolbano dan pantai-pantai di sekitarnya bukan saja bisa menjadi destinasi baru yang mampu meningkatkan wisatawan asing ke Indonesia, tetapi juga mampu menjadi "tambang emas" yang tak pernah habis digarap, sekaligus menjadi lokomotif pemberantasan kemiskinan dan pengangguran di NTT.

Paulus Nitbani/PCN

http://www.beritasatu.com/destinasi/344101-kolbano-tambang-biru-eksotik-yang-belum-dijamah.html