29.9.16

[tourismindonesia] (pake foto) PLESIRAN TEMPO DOELOE: Romusha di Saketi - Bajah, Saptoe-Minggoe 8-9 Oktober 2016



PLESIRAN TEMPO DOELOE: Romusha di Banten Selatan

Kumpulnya di GOR Bulungan (Gelanggang Olah Raga) Jakarta

Selatan, Jl. Bulungan, dekatnya Blok M Plaza (lokasi persis di-

kabari di email selanjutnya, terutama yang sudah mendaftar)

Sabtu, 8 Oktober 2016, jam 06.30 pagi hari

Rp.950 ribu/org, sudah termasuk:

(Makan dan Minum 5 kali selama PTD)

(Naik Bus AC Trac, kuota peserta: 50)
(yang mendaftar sekarang ini = 42 org)
(Menginap di: Hotel Swarna Inn, Bayah)

(Nonton Film Propaganda bikinan Jepang, perihal pidatonja Bung

Karno dalam memberikan semangat kepada pekerdja Romusha di

Bajah, mungkin sadja kitaorang temuken locatie pidatonja di sini)

(Ditjeriteraken oleh Aditya Dwi Laksana dari Kereta Anak Bangsa

di sepanjang jalan dari Saketi ke Bayah, dan baliknya dari Bayah

ke Saketi, tidak lupa singgah di bekas locatie Stasiun Malingping,
djuga di daerah-daerah tempat kedjadian kerdja paksa Romusha.

(Bertamu ke rumahnja Nenek Sutinah, isteri dari Alm.Pak Tumpuk,

pekerdja romusha, dari Karanganjar, Gombong, di Djawa Tengah.

Rumah Nenek Sutinah tersebut, letaknja di dekat Stasiun Saketi.

Di Bayah ditjeriteraken oleh tokoh masjarakat jang lahir th 1928).

(Menelusuri bekas kekedjaman perang di Banten Selatan, berupa

pondasi djembatan segede gedong kantoor di tepi Samudera Hin-

dia, rel kereta api jang menggantung di pasar, turn table puteran

lokomotief uap, jang sudah djadi rumah penduduk, dan djuga ada

Tugu Romusha di pusat kota Bajah, jang dibikin oleh Tan Malaka).

Bank BCA: 237.14.25.693
MANDIRI: 101.000.4434. 088
atau BNI 46: 01.48.44.54.65

(begimana tjara mentransfernja,
batja di bagian bawah email ini).

(Please kirim email dahoeloe sablonnja, pasti dibales, goena dapetken
nummer oeroet peserta. Djangan langsoeng ditransfer, sebab malahan
djadi bikin kitaorang bingoeng, lantaran soeda dapet kiriman itoe doeit

jang tida djelas djoentroengannja kerna tida ditoelis nummer oeroetnja)

(anak ketjil, orang moeda poen orang toea, bajarnja sama yah, okeh?!)
(semua di-reken dengan satoe prijs/price, ia itoelah: Rp.950.000/org)



Berapa djumblah korban pekerdja Romusha jang meninggal dunia di sepandjang djalur

spoor dari Saketi sampe Bajah? Bapak H.M.S. Badjadji dari Kasepuhan Bajah, berkata:
"Sama dengan djumblah bantalan djalur kereta api jang membentang dari Saketi sam-

pe ke Bajah" di Banten Selatan itu. Konon, nama "Saketi" terambil dari bahasa Sunda,

artinja seratus ribu, jang dipertjaja dalam suatu ramalan, bahwa akan terdjadi korban

sebanjak seratus ribu djiwa, untuk pembangunan djalur kereta api maut di djaman pe-

rang. Ikutin programma SAHABAT MUSEUM, jang tempo sekarang ini routenja "adjaib":

PLESIRAN TEMPO DOELOE: Romusha di Saketi -

Bajah Saptoe-Minggoe, 8-9 Oktober 2016, moelai dari 06.30 sampe 24.00 esoknja


Romusha dalem bahasa Djepang ijalah buruh atau pekerdja. Sebutan ini kerap dipake

untuk tenaga kerdja paksa rakjat Indonesia (lebi tepatnja: rakjat Hindia Belanda, ker-

na tahun 1943 itu belum ada negara Indonesia), guna menjokong activiteit perangnja

Tentara Djepang di The Pacific Theater. Dalem conditie perang, romusha dimaknai se-

bagi "soldadu kerdja" (soldadu = serdadu). Bole dibilang, romusha setjara harfiah diar-

tiken sebagi seorang pekerdja jang melakuken pekerdja'an buruh kasar. Menurut Ensi-

klopedia Nasional Indonesia jang terbit tahun 1990, romusha berasal dari bahasa Dje-

pang jang artinja kuli atau tenaga kerdja. Lebi landjutnja, romusha ijalah nama peker-

dja Djawa jang tida termasuk bagian ketentaraan, tetapi umumnja pekerdja romusha

diperkerdjaken di garis belakang dalem berbagi medan pertempuran melawan Sekutu.

Menurut achli sedjarah Belanda Henk Hovinga, terdapat 300.000 orang pekerja romu-

sha dari seantero tanah Hindia Belanda. Sebagian dari mereka dikirim pula ke luar ne-

geri, matjem: Siam (Thailand), Shonanto (Singapura), Malaya (Malaysia). Setelah pe-

rang sudah berachir, tjuma 77.000 orang jang lolos dari petaka. Untuk pembangunan

djalur kereta api Saketi - Bajah ini, ada sekitar 25 hingga 55 ribu djiwa. Mereka alam-

ken hidup nestapa penuh perdjoangan hidup dari antjeman binatang buas tatkala pe-

kerdja kasar ini membuka hutan rimba jang lebat, rawa-rawa, tebing dan djurang. Di

pulau laennja, mereka dipaksa untuk petjahken gunung jang keras untuk membangun

goa-goa untuk didjadiken markas Tentara Djepang, djuga sebagei tempat menjimpan

amunisi, peralatan perang, sembuniken kapal terbang. Membuat benteng pertahanan,

lapangan terbang sampe buka perkebunan, en tanem sajuran untuk keperluan perang.

Mobilisatie pekerdja romusha di Saketi-Bajah ini dilakuken dengan terpaksa, sebab itu

Djepang semangkin lama semangkin kalah di palagan Perang Pasifik setelah gilang-gu-

milang membongkong pelabuan Pearl Harbor, Kepulauan Hawaii, punja Amerika Serikat.

Sebab-sebab Djepang menjerang dadakan Pangkalan Amerika terkuat di Pasifik, bukan

suatu kebetulan. Djepang diembargo setjara ekonomi dan bahan mentah industri oleh
Barat, chususnja: Amerika Serikat. Conflik batin, harga diri Bangsa Djepang jang tera-

niaja bikin Djepang memilih untuk lakukan perlawanan terhadap benteng Amerika Seri-

kat di Pearl Harbor. Tempo jang ditentukan adalah Minggu pagi, kutika sebagian besar

Tentara Amerika masih tertidur lelap dan njenjak. Adapun itu rentjana serangan dada-

kan jang sudah di-concept oleh Yamamoto, di kemudian hari mendjadi sematjam blun-

der buat Tentara Djepang, bahkan senantiasa mendjadi santapan empuk daripada pa-

sukan Tentara Amerika dan sekutunja. Moment "turning-point" kekalahan Djepang se-

benernja tidak terlampau lama sedjak serangan ke Pearl Harbor tersebut, tepatnja se-

telah kalah di Midway pada bulan Juni 1942 (atau 6 bulan setelah serangan tiba-tiba).

Maka, selandjutnja Djepang terus-menerus mengalami kekalahan dari pihak Amerika en
Sekutu-nja. Imperial Djepang menjerang Amerika Serikat, bagaikan membangunkan rak-

sasa dari tidurnja. Tetapi bagi Djepang ini merupakan actie perlawanan terhadap supe-

rior bangsa kulit putih jang kerap meremehkan peran mereka di belahan dunia, walopun

sesungguhnja Djepang tida siap untuk berperang djangka pandjang. Sesudah perang se-

lesai, Kaisar Hirohito mengutjap bahwa "sesudah Filipina djatuh, Djepang telah kehilang-

an akal, harapan akan menang djuga lenjap sama sekali" (dari sinilah, mulanja serangan

jang tak masuk akal dan kedjam: KAMIKAZE! dengan tubrukkan pesawat terbang meng-

hudjam langsung ke kapal penempur Amerika Serikat. Ja, ini suatu tindakan bunuh diri!)

Kekuatan Djepang itu berada dipuntjaknja dalam bulan Maret 1942, ketika tudjuan uta-

manja penguasaan sumber-sumber minjak di Indonesia sudah tertjapai. Ada orang jang
berpendapat, bahwa seharusnja Djepang tiada perlu kesana-kemari dulu, ke Singapura,

British-Borneo, dan negara-negara laennja, karena mengakibatkan perang jang melelah-
kan, tetapi langsung sadja ke Hindia Belanda (Indonesia) jang kaja minjak, sumber alam

jang subur. Namun apa latjur, penjakit Victory Disease itu dan napsu pendudukan djaja-

han Barat di negara-negara Asia en Pasifik itu jang tiada dapet diabaikan oleh Djepang.

Sedjatinja kedigdja'an Tentara Djepang klaar sudah di The Battle of Midway itu. Tahun-

tahun berikutnja ijalah kekalahan-kekalahan berurutan di berbagai medan tempur, hing-

ga access ke sumber minjak terputus. Tiada lagi bahan mentah minjak untuk mengope-

ratieken pesawat terbang, tank, kapal laut djuga machine perang laennja. Pilihan achir,

hanja batu bara, jang didapetken dari Moearo (west Sumatra), dan Bajah (zuid Djawa).

Tambang batu bara jang sijap di Hindia Belanda pada djaman perang tersebut ada dua.

Satu di Moearo (deket Sawahloento, westkust Sumatra), en di Bajah (Banten selatan).

Kitaorang nantinja bakal bezoek djalur Banten selatan ini, di bulan Oktober mendatang.

Adapun djalur westkust (west coast) Sumatra bakal dikundjungin kutika bentjana asap

klaar (entah kapan) di Tana Sumatra, kerna di musim hudjan, aer terus menggujur, se-

dangkan di musim kering, api senantiasa mendjilat hutan Sumatra tahun belakangan ini.

Kurun waktu 1942-1945, functie djawatan kereta api di Hindia atjapkali digunaken oleh

Djepang untuk mendukung kepentingan operatie militairnja. Ditambah lagi sedjak suker-

nja dapetken minjak bumi (oil), untuk kelandjutan machine perang dan industrienja. Ta'

heiran mereka putusken untuk mengambil bahan baku mentah dari batu bara, meskipun

kwaliteitnja tida prima. Namun ini di djaman perang, keadahan darurat musti diupajaken.

Untuk mendjalanken kereta api, dibutuhkan bahan bakar kaju djati dari pepohonan, dan

batu bara. Dibutuhkan sekitar: 900 ribu ton kaju bakar tijap tahunnja, namun productie

normaal kaju hanja 300 ribu, itupun sebagian besarnja dihatsilkan dari Dinas Kehutanan.

Militair Djepang pegang rapport (report, laporan) dari tahun 1900, jang menjebutkan itu

batu bara di Bajah ada tinggalan sekitar 20 sampe 30 djuta ton. Hatsil rekenen Djepang,

didapetken djumblah 300 ribu ton tijap tahun jang tjukup untuk persediaan bahan bakar

armada perangnja. Exploitatie batu bara di Bajah sungguh tida economisch, kerna batu

bara tersebar di area jang luas pula ter-isolatie en lapisannja amet tipis, tjumah 80 cm.

Apa jang diharepkan dari situatie jang sulit buat Djepang, jang terus-menerus kalah pe-

rang ini? Semua musti dipaksaken, demi kelandjutan kekuasaan teritorie Asia Timur Raja.

Pekerdja diambil dari Djawa bagian tengah, timur dan dari Djocjakarta. Dikumpulken lebi

dulu di Kebumen, lalu naek kereta api ke Padalarang, Djatibarang, Tjirebon. Perdjalanan

dilandjutken ke Djatinegara. Dari sini para romusha diangkut lagi ke Tanah Abang, terus

ke Rangkasbitung. Achirnja tiba di Saketi. Mereka diprentah untuk bikin djalur dari Sake-

ti sampe Bajah, laennja langsung menudju Bajah, untuk dipekerdjaken di suatu tambang

batu bara berlocatie di Gunung Mandur, bebrapa kilometer djaraknja dari centrum Bajah.

Selaen bangun djalur kereta api dari Saketi ke Bajah, pekerdja romusha djuga dimangpa'

atken tenaganja untuk bikin lapangan terbang di Gembor, Serang, en djalan raja Saketi

ke Bajah. Bole djadi itu djalanan besar jang nantinja kitaorang liwatin, pake autobus AC.

Lintasan kereta api ini mulai dirantjang bulan Juli tahun 1942 (atau 1 bulan setelah Dje-

pang kalah tempur di Midway). Constructie mulain dikerdjaken sedjak bulan Februari ta-

hun 1943. Satu tahun satu bulan kemudian djalur spoor ini klaar en sudah siap diliwatin

kereta api. Diresmiken setjara formeel pada tanggal 1 April 1943. Tetapi, sajang sekali,

djalur jang dibikin oleh tenaga pekerdja paksa romusha hanja aktief dalem tempo bebra-

pa tahun sadja, kerna pada pertengahan Augustus 1945, Djepang kalah perang. Kereta

api batu bara tida didjalanken lagi. Practisch sedjak diambil alih AMKA (Angkatan Moeda

Kereta Api) dan kemudian dioperatieken oleh DKA (Djawatan Kereta Api) di kurun tahun

1945-1946. Situatie keamanan utamanja Actie Politineel (Agresi Militer 1), membuat lin-

tasan kereta api ini diberhentiken. Setahun kemudian (1948) didjalankan lagi sampe ac-

hirnja mula tahun 1950an stop operatie totaal. Djalur Saketi-Bajah off sampe sekarang.

Riwajat perkeretaapian di Banten dimulai dari upaja pemerentah koloniaal Nederlandsch-

Indie (Hindia Belanda) untuk membuka daerah terpentjil pula sepi, jang merupakan sala

satu wilajah jang kerap bergedjolak melawan penguasa kompeni. Di tahun 1896, djawa-

tan kereta api negara (Staatsspoorwegen atau SS) membangun djalur kereta api mulai

dari Batavia (Jakarta) ke Rangkasbitung - Tjilegon - Anjer Kidul, dengan lintas tjabang

dari Duri ke Tanggerang. Sijap dioperatieken tahun 1900. Pertjabangan brikutnja melin-

tas Rangkasbitung - Pandeglang - Saketi - Menes - Labuan, dibuka tahun 1906. Paling

achir Tjilegon - Merak, jang dibuka tahun 1914. Baru sedjak tahun 1943, djalur kereta

api dari Saketi - Bajah dibangun untuk kepentingan militair Djepang, di Perang Dunia II.

Untuk mewudjudkan djalur jang baru ini, fihak Djepang gunaken materieel bantalan dari

kaju dan relnja jang dikirim dari seluruh Pulau Djawa, termasuk djalur: Rantjaekek - Dja-

tinangor - Tandjungsari, jang SAHABAT MUSEUM bakal adaken programmanja, kemung-

kinan di achir tahun, landjut ke kota Sumedang liwatin Tjadas Pangeran, singgah di Gu-

nung Kuntji -benteng pertahanan Belanda di djaman Perang Dunia I, tida lupa mentjari

tahu lebi betul riwajat Tahu Sumedang, dan bezoek Kuburan Tjut Nja' Dhien van Atjeh.

Mengapa Tan Malaka bisa ada di Bayah? Apatah jang ia lakukan dalem contributie-nja

untuk mentjapai kemerdekaan? Begimana tjaranja sampe di Bajah? Dan mengapa Ten-

tara Djepang tida dapet mengenali rupa atau wadjahnja hingga achir perang?! Apatah
jang dapet dilukisken Tan Malaka selama menetap di Bajah? Pemandangan jang menje-

dihkan dilihatnja saben hari, rakjat jang menggelepar di djalanan dengan penjakit jang

bertjabul (berdjangkit) di tubuhnja. Orang tua ta kuasa menahan sakit di depannja ge-

dong bioscoop, dan kedjadian menusuk hati laen jang dialamken rakjat nan menderita.


Zo, toenggoe apalagi ?!! Lekas, Sigra daftarken diri Toean & Njonja sekarang djoega!
kirim email ka: adep@cbn.net.id (adep at cbn dot net dot id) ataoe kaloe mahoe ber-
tanja sablonnja, sila hoeboengi telefoon-tangannja di nummer: 0818949682 (nummer
oeroet peserta akan dibriken sasoeda mendaftar, sehingga nanti ditransfer oeangnja
sasoeai dengen nummer oeroetnja), kamoedian dapet ditransfer oeangnja langsoeng: 
BCA, no.rek 237 14 25 693 BCA cab Pondok Indah a.n: ADE HARDIKA PURNAMA
toeloeng diconfirmatie sigra via email ataoe disms ka nummer 0818949682 selekasnja.
(djikaloe Toean ataoe Njonja ternjata tida djadi ikoetan en soeda transfer, moehoen
ma'af, doeit jang soeda ditransfer tida dapet dikembalikan, tetapi bisa dioper kepada
orang laen/familie/teman).
Adapoen nummer rekening MANDIRI = 101.000.44.34.088,
a.n: ADE HARDIKA PURNAMA en rekening BNI 46, yaitu dgn no.rek: 01.48.44.54.65
a.n: ADE HARDIKA PURNAMA, kantoor tjabangnja poen ada di Pondok Indah djoega.


Tjara membajarnja/transfer, misalnja: Onky Alexander ada di nummer oeroet 18, maka 
Onky transfernja = Rp.950.018 (djikaloe di mesin ATM ketiknja Rp.950018 << angka 18
di belakang mengatjoe ka nummer oeroet djadi nanti bajarnja boekan Rp.950.000 sadja,
tetapi ditambah Rp.18 sebagi nummer oeroet. Kaloe-kaloe mendaftar lebih dari 1 orang,
dan kapingin transfernja sekaligoes djalan, jang misalnja, saperti tjontoh sematjem gini:

18. Onky Alexander
19. Meriam Bellina
20. Btari Karlinda 

Transfernja bole sekaligoes = Rp.2850018 (mengatjoe ka nummer oeroet jang doeloean),
maka dari itoe, nummer oeroetnja djangan didjoembelahken djadi 1 jah (18 + 19 + 20 =
57=Rp.2.850.057). Oh DJANGAN, DJANGAN, DJANGAN. kerna nantinja malahan bikin kita-
orang mendjadi bingoeng, en bole djadi nummernja ini (oempamanja nummer oeroet: 57)
soedah ada jang poenja, orang laen. Dapet menjebabken kakaliroean. Tetapi kalo mahoe
transfer satoe per satoe djoega boleh, ketik sadja Rp.950018, Rp.950019, en Rp.950020
ataoe, misalnja ada temen/keluarga jang misih kapingin daftar lagi, en dapatken nummer
jang djaoe dari rombongan Toean-Njonja (misal dapet nummer oeroet = 178) maka nan-
tinja djikaloe mahoe mentransfernja sekaligoes/sekali djalan toeloeng diseboetken sadja
bahoewa doeit jang sebanjak Rp.3.800.018 oentoek nummer oeroet 18, 19, 20 en 178. 

Djangan loepa oentoek bawa pajoeng, topi, handduk ketjil, inget Banten puanas! Djika-
laoe pada temponja hoedjan ada toeroen, kitaorang aken moelai plesirannja sasoedanja
itoe hoedjan brenti. Zo, plesiran tetep dilakoekoen, tida berganti hari, ataoe tanggalnja.

Memoedjiken dengen hormat,
Ade Purnama (Adep)
SAHABAT MUSEUM
Jakarta-Indonesia

P: 0818 94 96 82

0812 84 27 27 36
Pin BB: 23975CBC
Email: adep@cbn.net.id

Facebook: Ade Purnama

Twitter: @sahabatmuseum

www.sahabatmuseum.org


(beberapa sumber sejarah dibaca dan dikutip dari

buku "Perang Pasifik", karya P.K. Ojong; Ensiklope-

dia Sejarah, Pendudukan Jepang di Indonesia", kar-

ya Nino Oktorino; "Romusha, Sejarah jang Terlupa-

kan", karya Hendri F. Isnaeni & Apid; "Tan Malaka,

Bapak Republik yang Dilupakan" karya Tempo; "Pe-

nyamaran Terakhir Tan Malaka di Banten 1943-19-

45", karya Hendri F. Isnaeni', "Laporan Napak Tilas

Jalur Kereta Api Non-Operasi Saketi-Bayah Banten",

oleh Corporate Communication PT. Kereta Api Indo-

nesia (Persero), 21&22 September 2015", film DVD

dokumenter: "Nederlands-Indie in Tweede Oorlog").



PLESIRAN TEMPO DOELOE: Romusha di Saketi - Bajah


Saptoe-Minggoe, 8-9 Oktober 2016

Sabtu, 8 Oktober 2016

06.30 - 07.00: Pendaftaran Ulang di GOR Bulungan

07.00 - 11.00: Berangkat ke Saketi via Serang

11.00 - 12.00: Keliling Stasiun Saketi (arah barat)

12.00 - 13.00: Makan Siang di Stasiun Saketi

13.00 - 14.00: Keliling Stasiun Saketi (arah timur)

14.00 - 17.00: Berangkat ke Malingping

17.00 - 17.30: Pondasi, Roadbed Rail, dll

17.30 - 19.30: Berangkat ke Bayah

19.30 - 20.30: Makan Malam di Bayah

20.30 - 21.00: Check in Hotel Swarna Inn

21.00 - 06.00: Tidur sampe pagi

Minggu, 9 Oktober 2016

06.00 - 08.00: Sarapan di Hotel Swarna Inn

08.00 - 11.30: Keliling Bayah

11.30 - 12.00: Berangkat makan siang

12.00 - 13.00: Makan Siang di Bayah

13.00 - 15.00: Berangkat ke Malingping

15.00 - 16.00: Keliling Jembatan, Rel, dll

16.00 - 19.00: Berangkat ke Saketi

19.00 - 20.00: Makan Malam di Saketi

20.00 - 24.00: Berangkat ke Jakarta (GOR Bulungan)



__._,_.___

Posted by: "Ade Purnama" <adep@cbn.net.id>


Ingin bergabung? Kirim email kosong ke: tourismindonesia-subscribe@yahoogroups.com

Klik:

http://tourismindonesia.blogspot.com





__,_._,___

24.9.16

[tourismindonesia] (masih ada bangku kosong) PLESIRAN TEMPO DOELOE: Tinggalkan Djakarta, Sekarang! Minggoe, 25 September 2016 [1 Attachment]

[Attachment(s) from Ade Purnama included below]

Yuk ikutan, masih ada beberapa bangku yang kosong.
Untuk penjelasan yg lebih detailnya, silahkan hubungi
email: adep@cbn.net.id
(adep at cbn dot net dot id)
(ada 1 gambar terlampir di email ini, jika tidak keluar
di inbox Anda, silahkan hubungi email yang di atas :)


PLESIRAN TEMPO DOELOE: Napak Tilas Hijrah Pemerintah

Kumpulnya di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jl. Imam

Bonjol No.1, Menteng, Jakarta Pusat, di sebelah Gereja Paulus.

Minggu, 25 September 2016 jam 07.30 pagi hari

Rp.360 ribu/org, sudah termasuk:

(Thee Panas)
(Snacks Pagi)
(Makan Siang)
(Snacks Sore)
(Naek Bus AC Trac)

(Puter film documentair perihal peristiwa 3 Januari 1946)
(Kaartjis masoep kulilingin Museum Transportasi di TMII)
(Naek Kereta Api puterin Museum Transportasi, rasahken

begimana naek kereta api lajaknja tatkala hijrah di dalem

suasana ta djelas, menegangkan, penuh risico terbunuh)
(Masoep ke gerbong KERETA LUAR BIASA/KLB jang aseli) 

(Kaartjis masoep TMII atau Taman Mini Indonesia Indah)

(Kaartjis masoep Museum Perumusan Naskah Proklamasi)

(Kaartjis Naek Kereta Api, mulai dari Stasiun Jatinegara -

Stasiun Manggarai; kemudian Stasiun Cikini - Stasiun Be-

kasi; dan dari Stasiun Bekasi - sampe ke Stasiun Klender)

(Naek Bus AC juga, mulai dari Museum Perumusan Naskah

Proklamasi - Stasiun Jatinegara; Stasiun Manggarai - Balai

Yasa Manggarai - "belakang Rumah Soekarno"; lalu Stasiun

Klender - Taman Mini Indonesia Indah; kembali ke Museum

Perumusan Naskah Proklamasi di Jl. Imam Bonjol, Menteng)

(Masoep dalam Dipo Jatinegara, dekat Stasiun Jatinegara)

(Masoep Balai Yasa Manggarai, dekat Stasiun Manggarai)

(perihal peristiwa itu akan ditjeriterakan dengan totaal oleh

Aditya Dwi Laksana, dari KAB (Kereta Anak Bangsa), sobat-

nja sahaBATMUSeum jang baek hati. Dr.dr. Rushdy Hoesein,

sejarawan jang kerap meneliti zaman Perang Kemerdekaan di

tahun 1945-1949, keluarga Alm. Hidajat, djuru technis listriek

KLB (Kereta Luar Biasa), dan nantinya kita diizinkan untuk ma-

sup ke dalem Gerbong Kereta Api bersejarah itu, dibukakan se-

luruh gerbong dan kamar-kamarnya. Sesuatu pengalaman jang

djarang dialami segenap masjarakat, djangan sampe ta ikutan!)


Infografis peta: Gurnito Rakhmat Wijokangko.
Design kereta melesat & e-flyer: Joe Zerino.
Foto rangkaian gerbong: Deden Suprayitno.


Memoedjiken dengen hormat,
Ade Purnama (Adep)
SAHABAT MUSEUM
Jakarta-Indonesia

P: 0818 94 96 82

0812 84 27 27 36
Pin BB: 23975CBC
Email: adep@cbn.net.id

Facebook: Ade Purnama

Twitter: @sahabatmuseum

www.sahabatmuseum.org



__._,_.___

Attachment(s) from Ade Purnama | View attachments on the web

1 of 1 Photo(s)


Posted by: "Ade Purnama" <adep@cbn.net.id>


Ingin bergabung? Kirim email kosong ke: tourismindonesia-subscribe@yahoogroups.com

Klik:

http://tourismindonesia.blogspot.com





__,_._,___

22.9.16

[tourismindonesia] PLESIRAN TEMPO DOELOE: Tinggalkan Djakarta, Sekarang! Minggoe, 25 September 2016



PLESIRAN TEMPO DOELOE: Napak Tilas Hijrah Pemerintah

Kumpulnya di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jl. Imam

Bonjol No.1, Menteng, Jakarta Pusat, di sebelah Gereja Paulus.

Minggu, 25 September 2016 jam 07.30 pagi hari

Rp.360 ribu/org, sudah termasuk:

(Thee Panas)
(Snacks Pagi)
(Makan Siang)
(Snacks Sore)
(Naek Bus AC Trac)

(Puter film documentair perihal peristiwa 3 Januari 1946)
(Kaartjis masoep kulilingin Museum Transportasi di TMII)
(Naek Kereta Api puterin Museum Transportasi, rasahken

begimana naek kereta api lajaknja tatkala hijrah di dalem

suasana ta djelas, menegangkan, penuh risico terbunuh)
(Masoep ke gerbong KERETA LUAR BIASA/KLB jang aseli) 

(Kaartjis masoep TMII atau Taman Mini Indonesia Indah)

(Kaartjis masoep Museum Perumusan Naskah Proklamasi)

(Kaartjis Naek Kereta Api, mulai dari Stasiun Jatinegara -

Stasiun Manggarai; kemudian Stasiun Cikini - Stasiun Be-

kasi; dan dari Stasiun Bekasi - sampe ke Stasiun Klender)

(Naek Bus AC juga, mulai dari Museum Perumusan Naskah

Proklamasi - Stasiun Jatinegara; Stasiun Manggarai - Balai

Yasa Manggarai - "belakang Rumah Soekarno"; lalu Stasiun

Klender - Taman Mini Indonesia Indah; kembali ke Museum

Perumusan Naskah Proklamasi di Jl. Imam Bonjol, Menteng)

(Masoep dalam Dipo Jatinegara, dekat Stasiun Jatinegara)*

(Masoep Balai Yasa Manggarai, dekat Stasiun Manggarai)*
(*masih menanti konfirmasi)

(perihal peristiwa itu akan ditjeriterakan dengan totaal oleh

Aditya Dwi Laksana, dari KAB (Kereta Anak Bangsa), sobat-

nja sahaBATMUSeum jang baek hati. Dr.dr. Rushdy Hoesein,

sejarawan jang kerap meneliti zaman Perang Kemerdekaan di

tahun 1945-1949, keluarga Alm. Hidajat, djuru technis listriek

KLB (Kereta Luar Biasa), dan nantinya kita diizinkan untuk ma-

sup ke dalem Gerbong Kereta Api bersejarah itu, dibukakan se-

luruh gerbong dan kamar-kamarnya. Sesuatu pengalaman jang

djarang dialami segenap masjarakat, djangan sampe ta ikutan!)

Bank BCA: 237.14.25.693
MANDIRI: 101.000.4434. 088
atau BNI 46: 01.48.44.54.65

(begimana tjara mentransfernja,
batja di bagian bawah email ini).

(Please kirim email dahoeloe sablonnja, pasti dibales, goena dapetken
nummer oeroet peserta. Djangan langsoeng ditransfer, sebab malahan
djadi bikin kitaorang bingoeng, lantaran soeda dapet kiriman itoe doeit

jang tida djelas djoentroengannja kerna tida ditoelis nummer oeroetnja)

(anak ketjil, orang moeda poen orang toea, bajarnja sama yah, okeh?!)
(semua di-reken dengan satoe prijs/price, ia itoelah: Rp.360.000/org)



Di suatu siang tanggal 3 Januari 1946, Bung Hatta mendadak berutjap kepada isterinja:

"Nanti malam kita ke Djokdja". Sebagai penganten baru jang menikah di Megamendung,

Djawa Barat, pada tanggal 18 November 1945. Njonja Rahmi, isterinja Drs. Mohammad

Hatta fikir dirinja bakalan diadjak berbulan-madu. Dengan hati berbunga ia menanjakan:

"Untuk berapa lama, Kakak?". Bung Hatta mendjawab: "Paling hanja untuk 3 hari, atau

5 hari". Ach, rentjana ke Djokdja jang 3 sampe 5 hari itu, njatanja njaris 4 tahun lama-

nja menetap di kota ini. Kitaorang dari SAHABAT MUSEUM bakalan kassie tjeritera per-

kara moment mentjekam di achir 1945, dan kisah penjelamatan nan heroik penuh risico

membawa Pemimpin Bangsa, dengan Kereta Api jang dilakuken dengan penuh tipu-mus-

lihat jang djitoe. Ikutin atjara Napak Tilas "Hijrah Pemerintah ke Djokjakarta" bertadjuk:

PLESIRAN TEMPO DOELOE: Tinggalkan Djakarta,

Sekarang! Minggoe, 25 September 2016, moelai dari 07.30 sampe 17.30 klaar 

Indonesia bisa hantjur dalem sekedjap. Sekali ketahuan kereta api membojong Pemim-

pin Bangsa, bole djadi Tentara NICA lekas tembakken sendjatanja menghudjani peluru,

ataupun sekali lempar hand-grenade (granat tangan) ke gerbong, habislah sudah selu-

ruh penumpang jang sembunji di dalem gerbong kereta api. Segenap Pemimpin Indone-

sia terbunuh, kerna isinja gerbong tersebut adalah Presiden, Wakil Presiden, dan sege-

nap menteri. Actie nekat tersebut, dilakuken kutika keadahan kota Djakarta ini dirasah
kian tida menentu.
Tiap siang en malem antjeman tindakan pembunuhan kerap terdjadi.

Djakarta chaos, tijap hari terdengar rentetan boenji tembakan dan chabar orang tewas

di sepandjang djalan, majit mengambang di sungai, bau anjir badan jang membusuk ter-

tjium di seantero kota. Laskar-laskar dan BKR (Badan Keamanan Rakjat) bertempur me-

lawan Tentara NICA jang suda membontjeng Sekutu tatkala turun dari kapal perang di

Pelabuhan Tandjung Priok. Republik Indonesia terapkan Djam Malam. Keadahaan sema-

kin tida tentrem. Sedjumblah pemimpin bangsa ditembakin mobilnja, kutika sedang ber-

pegian kuliling kota, rumah Presiden diteror dan ditembakin oleh Tentara NICA, hingga

achirnja diputusken untuk pindahken Pemerintahan Republik Indonesia selekasnja naik

spoor (kereta api), tudjuan kota jang dianggep aman djuga mendukung kedaulatan RI.

Sekutu sebagei pemenang Perang Dunia II di wilajah Pasifik, dateng kembali ke negara

jang baru sadja merdeka, Indonesia. Tudjuan marika untuk melutjuti Tentara Djepang,

dan membebaskan para tawanan Europa/Belanda di kamp interniran di banjak tempat

di Pulau Djawa, Sumatra, dan locatie laennja. Status quo diberlakukan. Fihak Djepang

jang kalah perang diminta untuk mendjaga status itu hingga Tentara Sekutu sampe di

negeri bekas Hindia Belanda. Bulan September 1945 adalah moment mulainja kekatjau-

an di Djakarta. Ada 4 kubu jang merasa menguasai conditie tempo itu, jakni: Republik

Indonesia, Djepang, Sekutu dengan AFNEI-nja (Allied Forces Netherland East Indies),

dan NICA (Netherlands-Indies Civil Administration, atau "Pemerintahan Sipil Hindia Be-

landa) jang tjoba tandjepken pengaruhnja dan berhasrat merebut kembali negera me-

reka -jang dulunja bernama Hindia Belanda, negeri Belanda di tropis jang indah permai.


Belanda anggep koloninja masih ada, maka dari itu pasukan dikerahkan untuk merebut

Pending Zamrud Khatulistiwa (Gordel van Smaragd). Belanda suda melakukan perdjan-

djian dengan Inggris jang dikenal dengan Civil Affairs Agreement, ditandatangani pada

tanggal 24 Agustus 1945. Perdjandjian itu menjebutkan pengakuan kedaulatan Belan-

dan jang tida boleh disentuh oleh tentara pendudukan (Sekutu) lalu NICA akan melak-

sanakan urusan administrasi pemerintahan sipil, dan seluruhnja diawasi oleh Panglima

Besar Sekutu, Djenderal MacArthur. Disebutkan pula, setelah Sekutu mendarat di In-

donesia, maka seluruh bekas negara Hindia Belanda akan berada di bawah kendalinja

SEAC (South East Asia Command). Pemerintah NICA dipimpin oleh Hubertus Johannes

van Mook, orang Belanda jang lahir di Semarang dan amet mentjintai negeri Hindia ini.

Kedatengan Tentara NICA tida disuka oleh Rakjat Indonesia. Mereka meluapkan actie
dengan menuliskan kata-kata edjekan en pernjataan-penjataan keras, jang ditulisken

di tembok-tembok kota di seluruh Djakarta. Petempuran kerap terdjadi, mulai jang ke-

tjil hingga pembantaian. Pernah kedjadian di suatu hari trem listriek ditembakin Tenta-

ra NICA, padahal isinja penduduk sipil jang sedang melakukan activiteit sehari-harinja.

Bebrapa hari sebelom Pertempuran di Soerabaja, 2 orang pedjabat tinggi NICA ditjulik

oleh laskar pemuda. Maka dari itu sedjak tanggal 20 November 1945 marika mengada-

kan actie pembersihan di sekitaran Menteng, Prapatan dan Senen. Tida tjuma rakjat

biasa jang diserang, tetapi para pemimpin bangsa pun dibrondong peluru. Sjahrir pun

medjadi sasaran tembak, Mohammad Roem terkena peluru di kakinja, Amir Sjarifoedin

mobilnja ditembakin kutika sedang parkir di halaman Bioscoop Metropole, di Menteng.

Peristiwa biadab lainnja adalah tatkala mobil Soekarno turut ditembakin oleh Tentara
NICA Untungnja Bung Karno sedang tida berada di dalem mobil. Pada kasempatan itu,

sopir bernama Toekimin diminta membeli roti, untuk dihidanganken buat para menteri

jang sedang berkumpul di rumah Bung Karno. NICA fikir Bung Karno di dalemnja mobil

dan sekedjap mereka tubruk-ken truk miltairnja-nja ke mobil Soekarno hingga hantjur.

Rumahnja pun ditembakin dengan gentjar di malam hari. Soekarno dan Fatmawati ke-

rap kutjingan-kutjingan pindah dari rumah ke rumah laennja untuk menginap di rumah

orang supaja tida ditangkep en dibunuh oleh NICA. Pagi harinja mereka kembali rumah

Pegangsaan. Kegiatan ini dilakoninnja njaris setijap hari, menjelundup ke rumah orang,

mengetok pintu rumah jang ditudju. Kadang-kadang tida ada orang jang mau mendja-

wab, oleh sebab mereka pun takut sekali pada orang jang tida dikenalnja. Apabila ke-

lihatan muka jang mengintip melalui lobang di atas pintu, Bung Karno lalu berdjingkat,

memandjangkan lehernja, en berbisik "Ini saja, ..Soekarno, ..Presiden" (oh segitunja).

Malem taun baru 1945-1946 boleh dibilang masa puntjaknja ketegangan di Djakarta.

Bunji tembakan jang diletuskan terus-menerus akibat perajaan Old & New Year oleh

Tentara NICA dan Tentara Sekutu di masing-masing tangsi-nja untuk meluapkan ke-

gembiraan pergantian tahun tanpa familie di negeri djauh, menimbulkan suara gaduh

berisik dan mekekakkan telinga. Esok harinja, tanggal 1 Januari 1946 Kepala Eksploi-

tatie Barat (kereta api) Soegandi, diminta untuk lekas menghadap Soekarno, ternja-

ta merundingkan perihal rentjana kepindahan Presiden, Wakil Presiden bersama men-

teri-menterinja tudjuan Djocja, sebagai kota jang mendukung Pemerintahan Republik.

Presiden djuga memberi petundjuk-petundjuk setjara garis besarnja, sedangken per-

kara keamanan dan teknis sepenuhnja dibriken tanggung djawab kepada kereta api.

 

Klaar djumpa Presiden, Soegito sigra hubungin Balai Besar Kereta Api di Bandung, se-

tjara resia pula. Berunding dengan penggawenja, tentuken siapa-siapa jang patut di-

libatken untuk actie berbahaja ini. Pada hari en detik itu djuga, kereta-kereta terse-

but dipreksa serentak, dikasi betul, disiapken untuk didjalanken. Tiada pekerdja jang

tahu untuk apa maksud tudjuannja, hingga itu semuanja diupajaken setjara speciaal.

Delapan rangkaian gerbong disusun dengan nummer serie: DL 8009 voor bagasi, ABG-

L 8001 dan ABGL 8004 voor Kereta Penumpang Kelas 1 dan Kelas 2, FL 8001 voor ke-

reta makan, SAGL 9006 dan SAGL 9004 voor kereta tidur kelas 1, IL 8 voor Presiden

dan IL 7 voor Wakil Presiden. Namun sajang, tjuma 3 dari 8 rangkaian gerbong terse-

but jang tersisa, dan sekarang dapet mudah ditengok di Museum Transportasi, TMII.

 

Memilih siapa-siapa sadja jang akan dilibatkan dalem actie perdjalanan chusus Kere-

ta Luar Biasa ini. Strategie dan trick musti difikirken mateng, perihal pukul berapanja

kereta api berangkat, membuat peta grafik perdjalanan kereta api (gapeka) setjara

chusus untuk kereta ini, djumblah penumpang, barang bawaan, langsirannja dimana.

Lokomotief uapnja pun difikirken pake jang mana, dari dipo mana, conditienja bagai-

mana. Tentu sadja semua ini disijapken dengan amet resia (rahasia), tida semuanja

jang tahu perihal rentjana jang djangan sampe diketahui musuh jang ganas-bringas.

Crew jang dapet dipertjaja, tida bole gegabah, dikumpulken dalem tempoh 2 hari se-

djak prentah dari Presiden dikeluarken. Segenap crew bergerak dengan amet tekun.

Lokomotief uap jang dipilih merupaken jang paling bagus, prima, paling tjepet larinja.


Andeel pekerdja kereta api besar sekali dalem peristiwa bersedjarah ini. Mereka jang

turut actie berbahaja ini, adalah achlinja dalem bidangnja masing-masing. Persiapan

prima didjalanken oleh mereka dengan sungguh-sungguh. Tida ada jang tahu, untuk

apa dan siapa jang akan gunaken kereta api itu, di dalem hati mereka djuga terbesit

sedikit kekuwatiran djikalu actie itu gagal didjalanken akibat tjuriganja Tentara NICA

terhadap kereta api jang digunaken untuk keperluan jang mereka para pegawai kere-

ta api pun djuga tida tahu akan dipake oleh siapa dan kemana tudjuan berangkatnja.

Pukul 5.30 petang hari di dalem Bengkel (sekarang Balai Yasa) Kereta Api Manggarai
diadaken serah terima rangkaian KLB Presiden, jang telah siap pake. Adapun kerabat

jang dipilih jaitu dari: Pelajan Kereta Api (Sapi-ie & Kasban), Restoratur (Moh. Soleh

& Soelaiman), Koki Restoratur (Soekatma), Pelajan Restoratur (Amir, Kasim, Soeban-

di, Adje, Rahali, Djimin, Slamet, Djahidin, Nata, Iljas), Mechanic (Toekimin, Koen Hai,

Irie), Condecteur (Sastrosardono & Soedjono), brikoet Techinisi elekstries (Hidajat).

Sedari pagi, kerabat kerdja kereta api sudah lakuken langsir, dari Station Manggarai

menudju Station Tjikini en Station Gambir supaja Tentara NICA terketjoh dengan ac-

tie idee dengan trick jang knap (pintar) ini. Belanda tida mengira kalu itu merupaken

strategie fihak Republik dalem menjiapken upaja menjelamatkan pemimpin bangsa ini.

Hingga achirnja pada tanggal 3 Januari 1946 petang hari tatkala kereta api brenti di

deket Djalan Pegangsaan Timur, tepat di belakang rumahnja Bung Karno, kerabat ke-

reta api liet rombongan petinggi bangsa jang sudah menunggu dengan sabar kedata-

ngan kereta api jang akan membawa Bung Karno, Bung Hatta dan sedjumlah menteri.

Familie daripada Pak Hidajat ini, nantinja turut bergabung dengan kitaorang di dalem

programma napak tilas kedjadian bersedjarah, jang terbitken prestatie begitu heibat.

Bung Hatta beserta isterinja berdjalan kaki dari rumahnja di Oranja Boulevard (seka-

rang Jl. P.Diponegoro, rumah preciesnja ada di seberang Kantor PDI-P), menudju ke
locatie jang suda disepakati. Mereka mendjindjing 1 koper isi pakean. Menurut kesak-

sian Njonja Rahmi Hatta, ia berkata: "Saja melihat rangkaian gerbong kereta api su-

dah berenti di belakang rumah Bung Karno. Kemudian di beranda depan, Zus Fatma-

wati sedang menimang Guruh, waktu itu masih balita, kemudian Bung Karno dikawal

PPP (Polisi Pengawal Presiden). Kami bersama-sama menudju bagian belakang rumah.

Menerobos belukar, berikut pagar kawat, di bagian belakang. Dengan bergegas, Pak

Mangil, seorang perwira PPP, membuka pagar kawat dan sesudanja menerobos alang-

alang, kami sampai di rel kereta api belakang rumah Bung Karno. Suasana amet men-

tjekam sebab dari kedjauhan sesekali terdengar suara tembakan apalagi sirine tanda

dimulainja djam malam sudah berbunji. Penguasa Inggeris menetapkan penduduk Dja-

karta waktu itu tidak dibenarkan berada di luar rumah sedjak maghrib sampai subuh".
 

Momentum keberhasilan mengawal Presiden dalem hijrah ke Djokjakarta pada tanggal

3 Januari 1946 ini, diabadiken sebagai Hari Bhakti Paspampres (Pasukan Pengamanan

Presiden). Mereka jang mengawal Bung Karno ada 13 orang, bernama: Soekasah, Wi-

narso, Soepandi, Mangil, Rasmad, Didi Kardi, Ramelan, Soehardjo, Soekanda, Karnadi,

Oding Soehendar, Moh, Toha. Bersendjata rangkap, sendjata pandjang M95, revolver

2 KM dan 1 PM (pistol mitraliur) djuga beberapa putjuk sendjata peninggalan Djepang. 
 

Hari semakin gelap, matari tjondong ke ufuk barat, tertutup oleh rimbunnja pohon di

sepandjang bilangan Manggarai-Tjikini. Dengan sembojan aba-aba tanpa suara, loko-

motief uap C2849 diprentahkan masup bengkel untuk disambungkan dengan gerbong

KLB (Kereta Luar Biasa) jang sudah menunggu dengan pintu, djendela tertutup, dan

penerangan pun dimatikan. Klaar digandeng, rem dipreksa betul, lokomotief dan rang-

kaiannja keluar perlahan-lahan dari bengkel menudju emplasemen Station Manggarai

sebagai langsiran. Gerakan ini terus dilandjutken menudju terowongan Pasar Rumput

dan dengan hati-hati KLB diteruskan ke Pegangsaan, brenti tepat di belakang rumah

Bung Karno, jang letaknja memang precies membelakangi rel kereta api deket Tjikini.

Tida ada penerangan sedikitpun, bahkan tiada tjahaja dari sebatang rokok pun pada

malem itu. Sasuda menunggu agak lama, tampaklah rombongan tjalon penumpang di

seberang rel kereta api. Mereka adalah rombongan Presiden, Wakil Presiden, beserta

anggauta kabinet. Tida bole bersuara bila tida perlu, kalaupun bitjara harus berbisik-

bisik, sehingga menambah suasana mentjekam babak penting perdjalanan negeri ini.

Semua orang sudah compleet, sekarang tiba saatnja untuk bergerak pelan menudju

selatan, kembali via Station Manggarai jang didjalanken dengan gerakan langsir per-

lahan masup liwat spoor (djalur) 6, dimana pada spoor 5 sebelumnja sudah ditutupi

dengan barikade rangkaian kereta, gerbong kosong jang menutupi pandangan mata

para Tentara NICA jang biasanja berdjaga di sekitar peron di gedong utama station,

dan males untuk preksa ke djalur kerna situatie jang gelap-gulita dan tiada apapun.


Njonja Rahmi selandjutnja berkata: "Sesaat kemudian kereta api bergerak ke arah ti-

mur. Tidak ada bunji peluit bahkan tidak ada lampu di dalam gerbong jang dinjalakan.

Rangkaian Ekspres Malam dengan call sign KLB (Kereta Loear Biasa), karena berang-

kat di luar djadwal, segera meladju ke arah timur dan sebentar kemudian sudah me-

lewati Station Manggarai, kemudian menerobos garis demarkasi di Djatinegara, jang

didjaga oleh Inggeris sebelum achirnja masup ke wilajah Republik agar sampe Djokja.

Kereta api bergerak lambat lajaknja langsiran di Station Manggarai hanja 5 KM/djam.

Makin lama makin tjepet, 25 KM/djam, namun kutika hampir masup Station Meester

Cornelis, ladjunja diperlambat dan djalan lajaknja langsiran lagi, dan djuga disiasatin

dengan tarok serangkaian kereta en gerbong untuk menutupi pandangan dari peron

1 jang kerap didjaga oleh Tentara NICA, jang kadang-kadang melakuken patroli dari

pintu utama station di sekitaran peron 1 tersebut. Mereka tida ada jang mengira dji-

kalau jang liwat itu adalah pemimpin Republik jang mereka bentji dan pingin dibunuh.

KLB Presiden meluntjur lantjar selepasnja Station Meester Cornelis (Djatinegara) itu,

melintasi Station Tjipinang, Klender dan Krandji. Pendjaga Soldadu NICA jang berdja-

ga di Station Krandji tida mengira kalau akan ada kereta api jang akan liwat Station

Krandji lagi dan baru insjaf/menjadari tatkala udjung ekor kereta api KLB itu meladju
djauh di depan, mengarah ke Station Tjikampek. Begitu masup Station Bekasi, ketje-

patan kereta dimaksimalken hingga mentjapai 60 KM/djam. Karena suda masup dae-

rah Republik jang dianggep sudah aman, lampu segera dinjalaken, djendela dibukain.

Penumpang en djuga pekerdja kereta api sontak mengutjapken Sjukur Alhamdulillah.

Hati lega, pengrasa'an tenang, wadjah tersenjum simpul, bertjakap-tjakap sembari

tertawa gembira, nikmatin udara segar dari balik luar djendela, udara Kemerdekaan.

Hijrah dari Djakarta ke Djokja ini, Njonja Rahmi Hatta kembali mengutjap: "Ternjata,

pada awal 1946, para pemimpin Republik memutuskan untuk meninggalkan Djakarta.

Mereka menilai antjeman di ibukota telah berada diambang batas toleransi. Pasukan

NICA dan pasukan Inggeris senantiasa memantjing insiden. Pada achir 1945, Mr.Moh.

Roem, Djaksa Agung Republik, ditembak tanpa alesan djelas. Beruntung itu pelurunja

hanja kena kaki. Ia selamat, tetapi djadi tjatjat permanent, kalau berdjalan pintjang.

Maka, meniru tauladan Nabi Muhammad SAW, Presiden dan Wakil Presiden, hijrah ke

Djokja, kota kuno jang berada di pendalaman Djawa, tempat Sultan Djokja berkuasa

demi terdjaminnja kelangsungan pemerintahan Republik. Hanja Sutan Sjahrir, selaku

Perdana Menteri jang tetap tinggal di Djakarta, untuk memimpin diplomasi. Reputasi

Bung Sjahrir sebagai pedjuang bawah tanah antifasis di djamannja pendudukan Dje-

pang membuat fihak Inggeris dan Sekutu sama sekali tida berani menjentuh dirinja".

Begimana kelandjutan tjeriteranja? Kitaorang bakal beri kisah compleetnja langsung

di djalanan en di dalem gerbong Kereta Luar Biasa. Djuga perkara peristiwa tanggal

28 September 1945, jang ditetapkan sebagai: Hari Kereta Api. Di Pagi harinja, akan

stel film documentair, pendjelasan perkara actie mendjelang tanggal 3 Januari 1946.

Sungguh suatu activiteit jang suker ditemuken di tempat lain, tjuma ada di program

sahaBATMUSeum pakansi sembari beladjar sedjarah di locatie kedjadiannja langsung.

Zo, toenggoe apalagi ?!! Lekas, Sigra daftarken diri Toean & Njonja sekarang djoega!
kirim email ka: adep@cbn.net.id (adep at cbn dot net dot id) ataoe kaloe mahoe ber-
tanja sablonnja, sila hoeboengi telefoon-tangannja di nummer: 0818949682 (nummer
oeroet peserta akan dibriken sasoeda mendaftar, sehingga nanti ditransfer oeangnja

sasoeai dengen nummer oeroetnja), kamoedian dapet ditransfer oeangnja langsoeng: 
BCA, no.rek 237 14 25 693 BCA cab Pondok Indah a.n: ADE HARDIKA PURNAMA
toeloeng diconfirmatie sigra via email ataoe disms ka nummer 0818949682 selekasnja.
(djikaloe Toean ataoe Njonja ternjata tida djadi ikoetan en soeda transfer, moehoen
ma'af, doeit jang soeda ditransfer tida dapet dikembalikan, tetapi bisa dioper kepada
orang laen/familie/teman). Adapoen nummer rekening MANDIRI = 101.000.44.34.088,
a.n: ADE HARDIKA PURNAMA en rekening BNI 46, yaitu dgn no.rek: 01.48.44.54.65
a.n: ADE HARDIKA PURNAMA, kantoor tjabangnja poen ada di Pondok Indah djoega.


Tjara membajarnja/transfer, misalnja: Onky Alexander ada di nummer oeroet 18, maka 
Onky transfernja = Rp.360.018 (djikaloe di mesin ATM ketiknja Rp.360018 << angka 18
di belakang mengatjoe ka nummer oeroet djadi nanti bajarnja boekan Rp.360.000 sadja,
tetapi ditambah Rp.18 sebagi nummer oeroet. Kaloe-kaloe mendaftar lebih dari 1 orang,
dan kapingin transfernja sekaligoes djalan, jang misalnja, saperti tjontoh sematjem gini:

18. Onky Alexander
19. Meriam Bellina
20. Btari Karlinda 

Transfernja bole sekaligoes = Rp.1080018 (mengatjoe ka nummer oeroet jang doeloean),
maka dari itoe, nummer oeroetnja djangan didjoembelahken djadi 1 jah (18 + 19 + 20 =
57=Rp.1.080.057). Oh DJANGAN, DJANGAN, DJANGAN. kerna nantinja malahan bikin kita-
orang mendjadi bingoeng, en bole djadi nummernja ini (oempamanja nummer oeroet: 57)
soedah ada jang poenja, orang laen. Dapet menjebabken kakaliroean. Tetapi kalo mahoe
transfer satoe per satoe djoega boleh, ketik sadja Rp.360018, Rp.360019, en Rp.360020
ataoe, misalnja ada temen/keluarga jang misih kapingin daftar lagi, en dapatken nummer
jang djaoe dari rombongan Toean-Njonja (misal dapet nummer oeroet = 178) maka nan-
tinja djikaloe mahoe mentransfernja sekaligoes/sekali djalan toeloeng diseboetken sadja
bahoewa doeit jang sebanjak Rp.1.440.018 oentoek nummer oeroet 18, 19, 20 en 178. 

Djangan loepa oentoek bawa pajoeng, topi, handduk ketjil, inget Djakarta panas! Djika-
laoe pada temponja hoedjan ada toeroen, kitaorang aken moelai plesirannja sasoedanja
itoe hoedjan brenti. Zo, plesiran tetep dilakoekoen, tida berganti hari, ataoe tanggalnja.

Memoedjiken dengen hormat,
Ade Purnama (Adep)
SAHABAT MUSEUM
Jakarta-Indonesia

P: 0818 94 96 82

0812 84 27 27 36
Pin BB: 23975CBC
Email: adep@cbn.net.id

Facebook: Ade Purnama

Twitter: @sahabatmuseum

www.sahabatmuseum.org


(beberapa sumber sejarah dibaca dan dikutip dari

sejumlah buku: "Terobosan Sukarno dalam Perun-

dingan Linggarjati", karya Rushdy Hoesein; "Bung

Karno, Penjambung Lidah Rakjat Indonesia", Cindy

Adams; "Maulwi Saelan, Penjaga Terakhir Soekar-

no", karya Asvi Warman Adam, Hendri F. Isnaneni,

Bonnie Triyana, M.F. Mukthi; "Djakarta 1945, Awal

Revolusi Kemerdekaan", Catatan Julius Pour; doku-

men terbitan: Perpustakaan Kereta Api Kantor Pu-

sat,"Mosaik Perjuangan Kereta Api 1945: Pemerin-

tah RI Hijrah"; tayangan program Metro TV "Mela-

wan Lupa, episode Ular Besi Penyelamat Republik")



PLESIRAN TEMPO DOELOE: Tinggalkan Djakarta, Sekarang!

Minggoe, 25 September 2016

07.30 - 08.00: Pendaftaran Ulang di Museum Perumusan Naskah Proklamasi

08.00 - 08.30: Penjelasan ttg peristiwa "Kemerdekaan" dan "Jaman Bersiap"

08.30 - 08.45: Naik Bus AC berangkat ke Stasiun Jatinegara

08.45 - 09.00: Jalan kaki menuju Dipo Stasiun Jatinegara

09.00 - 09.15: Penjelasan tentang persiapan Lokomotif KLB di Dipo Jatinegara

09.15 - 09.20: Jalan kaki ke Stasiun Jatinegara

09.20 - 09.30: Menanti Kereta Api di Stasiun Jatinegara

09.30 - 09.45: Naik Kereta Api ke Stasiun Manggarai

09.45 - 10.00: Bus AC berangkat ke Balai Yasa Manggarai

10.00 - 10.30: Penjelasan ttg persiapan Gerbong Kereta Api di Balai Yasa Manggarai

10.30 - 10.45: Bus AC berangkat ke "bagian depan rumah Bung Karno" 
10.45 - 11.00: Penjelasan ttg "bagian depan rumah Bung Karno" 
11.00 - 11.10: Jalan Kaki ke "belakang rumah Bung Karno" di pinggir rel Kereta Api

11.10 - 11.30: Penjelasan ttg persiapan Hijrah Pemimpin Republik ke Yogyakarta

11.30 - 12.15: Makan Siang di Taman Tugu Proklamasi, Jl. Pegangsaan Timur 56

12.15 - 12.30: Naik Bus AC ke ke Stasiun Cikini

12.30 - 12.45: Menanti Kereta Api ke Stasiun Bekasi

12.45 - 13.30: Naik Kereta Api berangkat ke Stasiun Bekasi

13.30 - 13.40: Kereta Api berhenti di stasiun akhir Stasiun Bekasi

13.40 - 14.00: Kereta Api berangkat ke Stasiun Klender (turun di sini)

14.00 - 14.30: Naik Bus AC ke Museum Transportasi di TMII

14.30 – 16.00: Keliling Kereta Luar Biasa di Museum Transportasi TMII

16.00 – 17.00: Berangkat ke Museum Perumusan Naskah Proklamasi

17.00 - 17.30: Acara Selesai



__._,_.___

Posted by: "Ade Purnama" <adep@cbn.net.id>


Ingin bergabung? Kirim email kosong ke: tourismindonesia-subscribe@yahoogroups.com

Klik:

http://tourismindonesia.blogspot.com





__,_._,___