1.6.10

[tourismindonesia] Travel Fling: A Must Try for Every Travellers!

Temen2,

Sebenernya saya agak malu cerita yang satu ini, tapi seorang temen yang mendengar cerita ini sebelumnya menyarankan saya menulisnya.

Gak ada intensi apa apa, yang pasti ... namanya manusia, pasti ada aja manusia lain yang menarik. Dan sebaliknya...

Judulnya fling lho, jadi gak harus berlanjut. Mmmm ... paling berlanjut jd teman baik aja... males sama "sirih pinang"-nya atau takut sama "anak sapi"-nya.

Ssst ... dont try this in your trip ya, resiko tanggung sendiri...

Tulisan lengkap ada disini: http://endrocn.wordpress.com/2010/05/31/travel-fling-a-must-try-for-every-travellers/

Salam,


Endro Catur Nugroho
E: endrocn@yahoo.com
B: http://endrocn.wordpress.com

Travel Fling: A Must Try for Every Travellers!

Enaknya jadi pengelana jomblo, saya punya amunisi lebih saat diteror pertanyaan menyebalkan, "Sedang apa di sini?"

"Cari jodoh," beberapa kali saya jawab. Dengan muka serius tentunya.

Beberapa tertawa tak percaya. Sempurna. Beberapa menanggapi serius bahkan melontar pertanyaan yang lebih menyebalkan, "Cari (pasangan) seperti apa?"

Dalam bus menuju Waitabula, Sumba Barat Daya, saya berkelakar pada seorang bapak tua, "Cari istri yang cukup kaya dan nggak perlu belis*".

Ia langsung pasang senyum datar. "Nggak lucu," begitu mungkin pikirnya. "Rasain!" saya tertawa menang dalam hati.

Tapi mungkin karena jawaban-jawaban ngaco itulah cinta lokasi alias travel fling jadi hal yang tidak mustahil. Satu atau dua bisa jadi bersambut bahkan berlanjut.

Di kapal menuju Pulau Ende saya diajak ngobrol dengan empat orang mbak-mbak yang ternyata guru SD. Tiga orang berisik. Mbak yang satu lagi terlihat lebih diam. Matanya tajam menatap. Karena risih, saya ajak ia ngobrol.

"Kalo mbaknya guru juga?" tanya saya sesopan mungkin.

"Wah, dia sih sedang cari suami mas," celetuk salah seorang temannya.

Saya tak lagi berani tanya. Serasa dibukakan pintu, mbak ini malah meng-KO saya dengan pertanyaan seperti, "Sudah punya istri?" atau "Gajinya berapa sebulan?"

Takut. Saya kabur ke toilet dan pindah duduk dekat bapak-bapak.

Di Bajawa, tuan rumah saya sedang kedatangan keponakannya yang masih SMA. Ia nampak tertarik dengan kamera saya. Dengan polos ia minta diajari cara pakainya.

"Pencet saja yang dalam dan lama," kata saya tanpa pikir macam-macam.

Ia menoleh dan menunjukkan senyum – seringai – paling aneh yang pernah saya lihat. Ia makin berani. "Bisa tunjuk ke saya bagaimana (caranya)?" ia mengalungkan kamera dan mendekat. Terlalu dekat hingga saya hampir terjengkang.

"Kamu kelas tiga kan? Umur berapa sekarang?" tanya saya mengalihkan pembicaraan.

"Dua empat. Ini SMA saya yang ketiga. Yang pertama dan kedua tidak lulus." jawabnya santai sambil menyandarkan kepalanya di dada saya.

Saya dorong dia dengan sopan sembari bilang, "Saya mau ke kamar mandi. Perut saya tiba-tiba mual."

Di Sumba Timur, saya dikenalkan dengan ketua kelompok penenun melalui sepupunya. Karena tidak tahu jalan, sepupu ini berbaik hati menjemput saya di hotel.

Pertama kali bertatap, kami berdua senyum-senyum tidak jelas hingga lupa memperkenalkan nama masing-masing (kebetulan kami sudah tahu sebelumnya lewat sms). Selama perjalanan kami lupa ngobrol tentang tenun. Kami malah ngobrol tentang keluarga bahkan pengalaman pacaran terakhir.

Sesekali saya melempar pandang. Ia pun melakukan hal yang sama. Kami pun cengengesan. Mirip cerita sinetron anak-anak SMP dan cinta simpanse-nya.

Ketika saya diskusi dengan sepupunya, ia nampak memaksa diri ikut ngobrol padahal jelas sekali ia tidak paham. Kadang ia cuma nyeletuk, "Betul itu" atau "Seharusnya begitu." Nggak penting. Tapi tetap terdengar menyenangkan.

Ini yang disebut cinta pada pandangan pertama? Bisa jadi. Setidaknya sampai ketika tangannya merogoh sesuatu dari tas dan mulai mengunyahnya.

Alamak. Dia mengunyah sirih pinang!

Monas dengan bata berbentuk hati berlukis wajahnya yang sedang saya bangun dalam hati pelan-pelan runtuh hingga ke dasar pondasi. Bibir yang penuh itu tak lagi mengundang. Giginya yang rapi memerah tak keruan. Puncaknya adalah ketika ia membuang ludah berwarna merah dan tersenyum lebar.

Saya terlonjak. Oh, tidak. Kenapa sirih pinang membuat mahluk yang tadinya luar biasa menarik jadi terlihat begitu menyebalkan.

Dari semua travel fling, mungkin kejadian di Rote-lah yang paling berkesan. Uniknya, bisa-bisanya saya kecantol dengan perempuan kulit hitam asal Swiss yang datang dengan pacarnya, surfer dengan badan segemuk anak sapi.

Kamarnya persis di sebelah saya. Karena sering ditinggal pacarnya surfing, saya sering kasihan dan ajak ia ngobrol bahkan pergi melihat orang membuat gula air atau ke pelelangan ikan. Bahasa Inggrisnya kacau luar biasa. Tapi ketika suatu sore kami pulang dari menyusur pantai ia bilang, "I feel good for talking with you."

Saya tak tahu mesti jawab apa. Akhirnya saya nyeletuk, "You should say, 'I feel good talking to you'. And yes, I do too."

Ditemani semilir angin sore yang sejuk menembus sela-sela pohon kelapa di tepi jalan raya desa Nemberala, kami melangkah dalam diam. Tanpa sepatah kata. Saya tahu besok ia kembali ke Kupang bersama "anak sapi"-nya. Kami tahu, jalan raya ini ada ujungnya, sama seperti apa yang kami rasakan saat itu.

Ah, perjalanan seringkali memberikan hal yang tidak kita cari. Walau aneh, kadang terasa menyenangkan.

*belis = hadiah yg diberikan oleh keluarga pengantin pria ke keluarga wanita.



------------------------------------

Ingin bergabung? Kirim email kosong ke: tourismindonesia-subscribe@yahoogroups.com

Klik:

http://tourismindonesia.blogspot.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/tourismindonesia/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/tourismindonesia/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
tourismindonesia-digest@yahoogroups.com
tourismindonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
tourismindonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: