11.11.10

[tourismindonesia] Lawang Sewu Akar Budaya Kota Semarang



Pengertian tentang pengertian "kota" berbeda-beda. Elemen-elemen yang digunakan sebagai persyaratan minimum bagi sebuah kelompok masyarakat pemukim juga berbeda-beda. Sebagai contoh di dunia hellenistik, suatu tempat dikatakan kota jika ada elemen teater, gimnasium dan prytaneion. Di dunia Islam jaman pertengahan elemen kota terdiri dari benteng pertahanan, pasar, dan tempat mandi publik. Di Eropa pemukiman kota terdiri dari benteng pertahanan, pasar dan pengadilan (Rapoport, 1986).


Jaman kesultanan Islam di Indonesia, suatu tempat sudah dapat dikatakan "kota" apabila sudah dilengkapi kraton sebagai pusat kekuasaan, masjid sebagai pusat kegiatan ibadah (ritual), dan pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi (Nanang Saptono, 2008). Pengertian kota dipengaruhi pula oleh perkembangan jaman yang mengakibatkan terjadinya perubahan.


Ketika benteng kota yang terletak di awal kota Semarang diruntuhkan sekitar tahun 1824 tentunya memiliki latar belakang dan alasan, antara lain tingkat keamanan yang membaik, pertumbuhan ekonomi yang menguat secara signifikan dan lain-lain yang mengakibatkan sarana dan prasarana pendukung sebuah kota mulai dibangun sebagai konsekuensi pertumbuhan kota.


Gedung Lawang Sewu adalah salah satu contoh tinggalan kebudayaan materi. Bangunan yang di desain oleh Ouendag dan Klinkhamer pada awal abad 20 bisa diyakini sebagai potret kebudayaan urban pada awal tahun 1900-an di Semarang. Tidak hanya arsitekturnya tetapi jika dieksplorasi akan memunculkan lebih jelas bagaimana manusia pada saat itu berinteraksi secara global di Semarang, bukankah ini sebuah nilai informasi yang mahal harganya? Semarang bisa dipastikan merupakan kota kosmopolitan pada masanya, sumber inspirasi bagi Surabaya, Batavia dan Bandung pada masanya bahkan masih mungkin untuk ditarik ke belakang bagaimana proses kebudayaan yang ada pada masa Kiai Pandan Arang sebagai pendiri kota Semarang.


Tahun ini, kota Semarang menginjak usia ke-462. Gambaran budaya apa yang terjadi saat ini? Gedung Lawang Sewu sebagai sebuah "wadah kebudayaan" diharapkan dapat memberikan nilai budaya itu. Pusat Pelestarian Benda Dan Bangunan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) seharusnya memberikan kontribusi bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kota Semarang dalam memberikan pembelajaran masyarakat tentang gambaran budaya kota Semarang masa dahulu sekarang dan yang akan datang.

Representasi budaya bagi masyarakat kota Semarang sangat mendesak. Dinamika masyarakat kota Semarang jika tanpa dilandasi sebuah pilar kebudayaan akan berdampak pada pencitraan kota yang tidak humanis. Program konservasi "urban culture" kota Semarang belum cukup berimbang dengan konsep ekonomi. Kota Semarang sebagai ibukota provinsi seharusnya menjadi 'architrave' Jawa Tengah dan mampu sebagai 'culture trendsetter' yang mengilhami banyak pihak di berbagai lapisan.


Gedung Lawang Sewu dipandang mampu mewadahi konsep tersebut di atas secara benar. Pusat Pelestarian Benda Dan Bangunan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dapat menjadi sumber inspirasi masyarakat, jika konsep pemanfataan Gedung Lawang sewu jelas dan terarah melalui pengambilan keputusan yang penuh komitmen dan konsisten, pelaksana lapangan yang super kreatif dan mampu menjabarkan serta mengarahkan konsep kebudayaan urban.


Pemanfaatan Gedung Lawang Sewu sebagai ruang bisnis komersial tidak salah, karena dari bisnis tersebut biaya untuk mendanai pemeliharaan dan perawatan akan diperoleh sepanjang tidak menyimpang dari kaidah-kaidah pemanfaatan benda cagar budaya. Pemanfaatan secara komersial yang tidak mematuhi kaidah-kaidah tersebut justru akan menghancurkan gedung itu sendiri sekaligus menghilangkan nilai budaya yang seharusnya dapat lebih ditonjolkan.


Banyak kegiatan bisnis yang dapat dilakukan tanpa keluar dari kaidah pelestarian bangunan dan situs. Pada bangunan utama depan (A, L type) dapat dijadikan pengelolaan bisnis misalnya shop arcade-mall, convention room, food and beverage, exhibition, special event, balai lelang internasional bagi para antiquarian dan lain-lain. Sedangkan bangunan utama belakang (B, I type) dapat dijadikan "creative house" misalnya school of heritage management, museology, field archaelogy, RMIT (restoration, modification, intervention, transformation), historical architecture, photography, cinematography, film documentary, archives, library, graphic design, semarang redevelopment authority, railways heritage preservation centre, building conservation, music conservatory, cultural preservation studio dan lain-lain.

Bangunan tambahan tengah (C, eks percetakan) dapat dijadikan executive lounge; exclusive resto & bar. Selanjutnya sebagian selasar bangunan A dan B dapat digunakan untuk tempat duduk menikmati kopi atau makan, sedangkan tepian halaman dalam pada sisi luar gedung menjadi food gallery dan 'driveway' pengunjung dengan tanpa penambahan bangunan. Dapur di tempatkan pada service area di bagian belakang. Sedangkan untuk enjaga keberlangsungan arah kebudayaan urban melalui event yang digelar digedung atau pun pelataran dalam (inner courtyard) secara rutin dan tematik.
Ketika memikirkan fungsi ruang sepantasnya dipahami "Lawang Sewu sebenarnya". Gedung Lawang Sewu harus menjadi ruh dan motivator tambahan bagi PT. Kereta Api Indonesia (Persero). Gedung Lawang Sewu saat ini bukan sekedar warisan budaya (culture heritage) tapi harus mampu menjadi sumber daya budaya (culture resources). Sebagaimana layaknya sumber daya yang lain, seperti: sumber daya alam, manusia, sosial, pengertian sederhana sumber daya budaya secara ekonomik semestinya mampu menjadi kekuatan yang menghasilkan profit. Gedung Lawang Sewu suatu saat akan mampu menghidupi dirinya sendiri bahkan menghidupi lingkungannya.



VISIT CENTRAL JAVA

http://www.visit-jateng.com





__._,_.___


Ingin bergabung? Kirim email kosong ke: tourismindonesia-subscribe@yahoogroups.com

Klik:

http://tourismindonesia.blogspot.com




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: