18.11.10

[tourismindonesia] [RESPONSIBLE TRAVELING] Jalan-Jalan Sepelemparan Batu



Jalan-Jalan Sepelemparan Batu

Oleh Endro Catur Nugroho


Mata teman saya itu membelalak lalu berubah menyipit tak percaya ketika saya bilang akhir pekan ini saya berencana berjalan-jalan ke Kota Tua Jakarta. Menurutnya, dengan jarak kurang dari tigapuluh kilometer dari rumah saya, itu bukan traveling. "Itu mah sama saja saya pergi ke kantor!" ujarnya.


Beberapa hari kemudian, ia kaget melihat foto jalan-jalan saya itu. Ia setengah tak percaya kalau foto-foto itu hasil jepretan ketika saya ke Kota Tua. "Tidak terlihat seperti di sana," katanya menggaruk-garuk kepala. Ia makin tak percaya ketika saya ceritakan apa yang didapat dari traveling singkat itu. Ia berubah menyesal karena menyepelekan tempat yang selama ini menurutnya 'biasa saja'.


Apa sih yang kita cari ketika traveling? Pengalaman baru? Teman baru? Atau tempat baru? Saya bilang, kalau bisa dapat ketiganya pasti seru. Seperti apa yang saya dapat ketika menyusuri Kota Tua itu.


Berjalan kaki sendirian, saya mblusuk-mblusuk menyusuri lorong-lorong sempit, menyusuri jalan berpagar dinding rumah tinggi yang mulai berlumut. Saya melongok ke dalam rumah-rumah bergaya peranakan dari balik pintu berteralisnya, hingga akhirnya terdampar di rumah seorang pengumpul barang rongsokan


Eit, jangan apriori dulu. Di sini saya menyaksikan sendiri koleksi 'harta karun'-nya berupa artefak-artefak bersejarah yang dijamin bikin ngiler kolektor benda antik. Dari benda-benda ini, si bapak itu kemudian menggambarkan peta 'harta karun' kawasan Kota Tua Jakarta. Tak lain, lokasi bangunan-bangunan tak terurus yang sering melego benda-benda yang sebenarnya punya nilai sejarah tapi karena ulah oknum nakal ditukar dengan uang beberapa puluh ribu saja.


Saya melongo, takjub dengan cerita eksklusif yang seingat saya belum pernah saya dengar sebelumnya. Dengan uang beberapa puluh ribu saja, saya menemukan tempat asyik di Kota Tua Jakarta, bertemu teman baru dan informasi 'rahasia' yang mungkin hanya satu-dua orang saja yang tahu.


Seorang teman yang kini tinggal di Australia menceritakan keasyikannya nongkrong di pasar di tepi Jl. Gejayan saat ia masih kuliah di Jogjakarta. Walau sudah sering pergi ke pasar yang tidak jauh dari tempat kost-nya itu, ia masih saja sering ke sana. Bukan untuk beli kue-kue dan makanan kecil, tapi untuk jalan-jalan.


Di pasar itu, realita kehidupan yang menarik tertangkap indera dan tersimpan di kartu memori kamera, yang kemudian menjadi inspirasi bagi dirinya. Perempuan renta yang masih bersemangat menghidupi anak-cucunya, bocah-bocah yang bergulat dengan barang dagangan di jam-jam sekolah sering menyentuh hatinya. Pasar itu menjadi saksi kerasnya kehidupan di luar kamar kost-nya yang sejuk dan nyaman dan jarang sekali ia syukuri.


Baginya, pengalaman pergi ke pasar itu tak tergantikan. Bangunan pasar mungkin tak berubah, barang dagangan mungkin itu-itu saja. Tapi cerita-cerita yang bersahut-sahutan di antara keriuhan tawar-menawar, sosok-sosok tegar yang mencari penghidupan di antara bau amis ikan dan sayuran yang mulai layu dan warna-warni kostum pelaku bisnis tradisional selalu memenangkan hati dan lensa kameranya. Ia cuma perlu jalan kaki tiga menit saja!


Buat saya, traveling ke tempat-tempat yang dekat dari rumah salah satunya adalah untuk melunasi hutang sebagai warga kota. Lahir dan besar di Jakarta, kadang saya terlanjur malas membayangkan harus menghabiskan waktu di seputar Jakarta. Kalau punya waktu dan uang, kenapa tidak pergi ke tempat yang lebih jauh dan jarang dikunjungi orang lain, pikir saya. Lagipula, rasanya ada kesenangan dan kebanggan tersendiri ketika saya bisa menceritakan dan menunjukkan foto-foto perjalanan ke teman-teman yang cuma bisa ngiri karena tak tahu kapan bisa pergi ke sana. Padahal, kebanggan itu kadang runtuh dalam sekejap saat saya dibuat malu ketika ada orang yang ternyata lebih kenal rumah saya.


Di sebuah seminar, seorang peserta yang jauh-jauh datang dari Swedia dengan semangat menceritakan pengalamannya pergi ke Setu Babakan di depan beberapa peserta lain yang datang dari seluruh penjuru dunia. Ia tak sengaja pergi ke kawasan konservasi budaya Betawi itu ketika seorang staf hotel menyebutkan tempatnya.


Ia bercerita tentang keunikan kawasan itu, rumah-rumah Betawi yang konon paduan arsitektur Jawa, Belanda dan Cina, serta curhat penghuninya yang sering merasa seperti benda pajangan di museum hidup. Ia bercerita seperti orang yang sudah tinggal bertahun-tahun di tempat itu atau layaknya pemandu yang dibayar untuk mempromosikan tempat itu. Ia bercerita lebih fasih dibandingkan orang lain yang pernah cerita tentang Setu Babakan!


Di tengah-tengah ia bercerita, satu persatu mata mencari-cari saya, seolah ingin mendapat cerita kelanjutannya. Benar saja, seorang peserta seminar dari Perancis menanyakannya, "Kamu tidak pernah cerita kalau ada tempat menarik seperti itu tidak jauh dari Jakarta. Mengapa?"


Tentu saja, saya tersenyum kecut, karena saya belum pernah pergi kesana. Saya cepat-cepat kabur, khawatir kalau si orang Swedia ini kemudian cerita tentang Pulau Rambut, hutan bakau di Muara Angke, atau tempat lain yang sebenarnya hanya sepelemparan batu dari rumah, tapi belum pernah saya kunjungi…



Tulisan ini disalin dari tulisan yang sama dengan penulis yang sama dari kolom Responsible Traveler di Majalah Liburan. Tulisan ini adalah tulisan kedua.


 
Salam,


 

Endro Catur Nugroho
 



__._,_.___


Ingin bergabung? Kirim email kosong ke: tourismindonesia-subscribe@yahoogroups.com

Klik:

http://tourismindonesia.blogspot.com




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: