15.12.10

[tourismindonesia] Merah Putih Berkibar di Vinson Massif, Puncak Tertinggi Antartika

Dear all,

Maaf kalau OOT. Mau sharing berita mengenai pendakian di Vinson Massif, Antartika. Tim Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala
Unpar 2009-2012 merupakan tim pertama dari Indonesia yang berhasil mencapai puncak tertinggi Antartika. Di pendakian sebelumnya (Elbrus, puncak tertinggi benua Eropa), tim ini juga berhasil membuat rute baru yang diberi nama "Indonesian Route".
Perkembangan pendakian dapat dilihat di fan group FB : Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar dan twitter : @ina7summits

Semoga tim ini dapat mengharumkan nama Indonesia dan dilindungi dalam pendakian berikutnya.

Regards,

Sisil


http://www.wartakota.co.id/detil/berita/34576/Merah-Putih-Berkibar-di-Vinson-Massif
>
>
>
>Selasa, 14 Desember 2010 | 14:24 WIB
>Merah Putih Berkibar di Vinson Massif
>
>
>Vinson Massif, Antartika
>
>Jauh dari ingar bingar pemberitaan media massa, empat mahasiswa dan seorang
>alumnus Universitas Katolik Parahyangan Bandung berhasil menjejakkan kaki di
>puncak Gunung Vinson Massif (4.897m), Benua Antartika, Senin pukul 17.07 waktu
>setempat atau Selasa (14/12) dini hari WIB.
>
>Mereka yang tergabung dalam tim Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala
>Unpar 2009-2012 itu menorehkan sejarah sebagai orang Indonesia pertama yang
>mengibarkan Bendera Merah Putih di titik tertinggi Kutub Selatan.
>
>Melalui sambungan telepon satelit Iridium dari puncak, ketua tim Sofyan Arief
>Fesa mengatakan, ia dan keempat temannya dalam kondisi sehat, namun kelelahan.
>
>Suhu ekstrem sampai minus 32 derajat Celcius yang mendera mereka selama sepuluh
>hari terakhir amat menguras energi. Ditambah lagi mereka harus berjuang mendaki
>selama 13 jam dalam cuaca buruk.
>
>"Namun kami senang bisa mempersembahkan yang terbaik buat Indonesia," tutur
>Sofyan sambil tersedu haru. Suara Budi Hartono Purnomo (51), Broery Andrew
>(F-MIPA, 21), Janatan Ginting (FISIP, 21), dan Xaverius Frans (FE, 21) terdengar
>sayup-sayup menimpali.
>
>Suara mereka parau dihajar radang tenggorokan yang tak kunjung sembuh. Dari
>Vinson, tim mempersiapkan diri untuk mendaki Gunung Aconcagua (6.959 m) di
>Argentina akhir Desember ini.
>
>Keterbatasan alat menyebabkan tim belum berhasil mengirimkan foto-foto mereka
>saat berada di `atap' Kutub Selatan. Sofyan menggambar puncak tersebut berupa
>lapangan kecil dengan hamparan salju sebatas betis.
>
>Beberapa puncak tinggi Pegunungan Ellsworth menyembul di balik awan yang
>menyelimuti puncak Vinson. Pemandangan serbaputih.
>
>Tim didukung penuh PT Mudking Asia Pasifik Raya, perusahaan supplier alat
>pengeboran minyak dan gas bumi yang berbasis di Jakarta, serta Universitas
>Katolik Parahyangan, Bandung.
>
>Mereka memulai perjalanan panjang ke Kutub Selatan pada 28 November lalu dengan
>penerbangan 36 jam dari Jakarta menuju Santiago, Cile.
>
>Tim disambut Dubes Indonesia untuk Cile Aloysius Ale Medja lalu melanjutkan
>perjalanan terbang enam jam menuju Punta Arenas, kota kecil di ujung selatan
>Amerika Latin.
>
>Tim sempat tertahan dua hari di Punta Arenas karena angin kencang tak
>memungkinkan pesawat Ilyusin 76 milik Antarctic Logistic Expedition (ALE)
>terbang menuju Union Glacier di Patriot Hills, Antartika.
>
>Saat bisa terbang, mereka harus bekerja cepat untuk membongkar muat barang di
>pesawat. Waktu yang mereka miliki kurang dari 12 jam untuk itu sebelum badai
>salju kembali melanda kawasan kutub.
>
>Sejak mendarat di Benua Antartika, komunikasi tim dengan dunia luar pun nyaris
>terputus. Mereka hanya mengandalkan telepon satelit Iridium yang penggunaannya
>dibatasi tiga menit per hari dan untuk keadaan darurat.
>
>Hal itu yang menyebabkan mereka tak bisa mengirimkan foto selama berada di
>kutub. Komunikasi disampaikan hanya melalui pembicaraan telepon.
>
>Dari Patriot Hills, tim lalu terbang satu setengah jam dengan pesawat Twin Otter
>ke Basecamp Vinson di kaki Branscomp Glacier (2.030m). Di tempat itu mereka
>bertahan tiga malam menghadapi badai salju yang mengamuk di kawasan kutub.
>
>Suhu drop hingga minus 28-32 derajat Celcius ditambah angin kencang dan
>keterisolasian menjadi tantangan berat yang harus dihadapi tim sejak saat itu.
>
>Pada 7 Desember cuaca cerah mendorong tim memulai pendakian bersama Mike Horst
>dan Hiroyuki Kuraoka, pemandu gunung dari Alpen Ascent International (AAI).
>Sepanjang hari berlangsung terang benderang di Antartika karena saat ini
>matahari beredar di belahan bumi selatan.
>
>Setelah mendaki gletser besar Branscomp Glacier selama empat jam 30 menit, tim
>mencapai Half Camp (2.530 mdpl). Perbedaan elevasi antara Base Camp dan Half
>Camp sebesar 430 m dengan jarak tempuh sekitar lima kilometer.
>
>Selain memanggul ransel seberat 10-15 kg, masing-masing anggota tim juga menarik
>sled atau kereta salju berisi perbekalan selama di kutub yang beratnya 15-20 kg.
>Hal ini membuat tim sangat kelelahan begitu mencapai Half Camp.
>
>Keesokan harinya tim melanjutkan perjalanan menuju Low Camp (2.750 m) pada pukul
>10.30. Perjalanan itu memakan waktu sekitar 2 jam 50 menit.
>
>Tim menempuh jarak empat kilometer dengan variasi medan rolling turun naik
>menyusuri lembah es. Suhu terendah minus 28 derajat Celcius.
>
>Bibir pecah-pecah dan radang tenggorokan mulai mendera semua anggota tim. Namun
>mereka tetap bersemangat melanjutkan pendakian.
>
>Di Low Camp tim beristirahat seharian penuh untuk memulihkan tenaga. Saat
>matahari bersembunyi dibalik gunung, suhu di dataran tinggi Antartika itu turun
>lagi sampai minus 32 derajat Celcius.
>
>Untuk menghadapi ekstremitas seperti itu tim menggunakan peralatan berkualitas
>tinggi, antara lain down jacket, botol Nalgene yang digunakan sebagai wadah
>penampung air seni saat didalam tenda (bahan Nalgene dirancang khusus tidak
>mudah pecah dan retak di kondisi ekstrim), sepatu boot dengan penghangat
>bertenaga baterai, dan masker salju yang dilengkapi dengan kipas untuk mencegah
>pembekuan pada kaca masker. Penampilan mereka sudah seperti astronot yang
>berjalan di bulan.
>
>Jumat (10/12) perlahan tim bergerak menuju High Camp (3.700 mdpl) untuk
>mengangkut perbekalan. Mereka mendaki sejauh 3 km selama 6-8 jam lalu melepas
>seluruh sled dan memindahkan perbekalan ke dalam ransel.
>
>Pendakian dilanjutkan dengan teknik fixed rope, meniti tali tetap yang sudah
>dipasang sehari sebelumnya sepanjang 1.200 meter dengan kemiringan lereng 45
>derajat.
>
>Selain menggunakan ice exe atau walking stick dan Crampon, tim juga akan
>didukung oleh mechanic ascenders.
>
>Setelah mencapai High Camp, tim meninggalkan semua perbekalan yang dibawa lalu
>turun kembali ke Low Camp untuk bermalam. Keesokan harinya tim mendaki lagi ke
>High Camp membawa seluruh perbekalan yang masih tersisa.
>
>Pada Minggu (12/12) pagi, tim bergerak dengan penuh semangat mendaki lereng
>curam menuju puncak. Namun angin kencang kembali menghadang hingga mereka
>memutuskan kembali ke tenda.
>
>Pendakian ke puncak baru dapat dilakukan pada Senin (13/12) pagi. Selama
>sembilan jam mereka mendaki dengan jarak tempuh tujuh km. Mereka bergerak dengan
>teknik moving together pada lereng dengan kemiringan 40 derajat.
>
>Sekitar pukul 17.00 waktu setempat dataran puncak tercapai dan Merah Putih pun
>berkibar. Ini bendera yang sama dengan yang sudah mereka kibarkan di Puncak
>Carstenz Pyramid (Papua), Kilimanjaro (Afrika), dan Elbrus (Rusia). (Max Agung
>Pribadi)
>

Regards,

Sysilia Tanhati

------------------------------------

Ingin bergabung? Kirim email kosong ke: tourismindonesia-subscribe@yahoogroups.com

Klik:

http://tourismindonesia.blogspot.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/tourismindonesia/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/tourismindonesia/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
tourismindonesia-digest@yahoogroups.com
tourismindonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
tourismindonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: