9.4.11

[tourismindonesia] Pantai Ujung Negoro



Pantai Ujung Negoro terletak sekitar 14 Km dari pusat kota Batang.  Pantai ini dapat dikatakan salah satu pantai yang terindah di pesisir Pantura karena mempunyai kontur  tanah yang variatif. Di salah satu sisi pantainya, mempunyai ketinggian 14 meter dpl. yang sangat jarang ditemui di sepanjang Pantai Utara Jawa. Di samping itu, di beberapa sisi pantai terdapat kumpulan batu yang menonjol kepermukaan yang menambah keindahan panorama pantai Ujung Negoro.

Di ketinggian pantai tersebut terdapat gua Aswotomo dan sebuah pemakaman kecil peninggalan Syeh Maulana Maghribi. Pantai Ujung Negoro masih sangat alami dan cukup bersih, beberapa sarana umum telah dibangun disana diantaranya adalah area parkir, tempat duduk dan berteduh di pinggir pantai. Bagi pengunjung yang ingin menikmati perjalanan  ke laut, bisa menaiki sampan atau memancing di sini.

Ujung Negoro, mendengar namanya terkesan bahwa daerah ini terletak jauh dari peradaban ataupun jauh dari pusat keramaian. Kesan dari nama itu memang tidaklah mutlak salah, setidaknya mungkin untuk beberapa dasawarsa yang telah lewat. Memang dahulunya Ujung Negoro merupakan daerah pantai yang jarang dilewati oleh manusia sampai pada ± zaman Kerajaan Mataram Islam, dimana di daerah itu mulai dibuka pemukiman terutama untuk penyebaran agama islam oleh seorang yang diyakini sebagai Waliullah yaitu Syeh Maulana Maghribi. Tokoh Islam ini begitu dikenal di daerah Ujung negoro, bahkan diyakini di pantai ujung negoro ini Syeh Maulana Maghribi meninggalkan sebuah petilasan yang dikeramatkan oleh penduduk sekitar.

Petilasan tersebut selalu ramai dikunjungi oleh para peziarah dan wisatawan yang berkunjung kepantai Ujungnegoro, terutama setiap tanggal 15 Sapar (penanggalan jawa),  pada saat itu digelar upacara selamatan untuk mengenang Syeh Maulana Maghribi.

Selain legenda mengenai Syeh Maulana Maghribi, ada legenda ataupun cerita rakyat versi lainnya yang bercerita seputar Ujungnegoro, cerita tersebut berkisah tentang Raden Aswatama putra Pendeta Durna yang berusaha mengejar para Pandawa untuk membalas dendam atas kekalahan dan kematian ayahandanya dalam perang Bharatayudha. Dalam perjalanannya yang penuh kekecewaan dan dendam kesumat itulah membawa Raden Aswatama sampai daerah Ujungnegoro dimana kemudian dia bersemadi dan membayangkan Dewi Wilutama ibunya yang seorang bidadari kahyangan. Mendengar ratapan anaknya, maka sang dewipun turun dari kahyangan dan menemui anaknya tersebut. Setelah menanyakan apa maksud dari anaknya dan tidak berhasil mencegah keinginan Raden Aswatama untuk membalas dendam kepada Pandawa, maka dengan berat hati Dewi Wilutama dengan kesaktiannya memberikan bantuan kepada anaknya tersebut untuk dapat menyusul para Pandawa dengan cepat. Adapun keberadaan Pandawa saat itu diyakini oleh Raden Aswatama sedang beristirahat di Jonggring saloka ( Daerah Dataran tinggi Dieng).

Dewi Wilutama pun menganjurkan kepada Raden Aswatama untuk menggali tanah guna menembus bumi sampai kejonggring saloka."Bagaimana mungkin hamba dapat menggali tanah dan menembus Jonggring saloka dengan cepat ibunda, jangan-jangan sampai tuapun hamba tidak bakalan sampai," demikian sanggah Raden Aswatama.

"Jangan takut anakku, aku akan membantumu asalkan satu laranganku jangan pernah kau langgar yaitu janganlah kamu menengok ke belakang sampai sampai kunyatakan berhenti kamu menggali" Jawab Dewi Wilutama.

Akhirnya Raden Aswatamapun mulai menggali, dan keanehan terjadi yaitu tanah yang semula keras tiba-tiba menjadi lunak ketika tangan Aswatama mulai menyentuhnya, bahkan seperti terbang sendiri menjauhi tangannya itu. Seharian Raden Aswatama menggali sampai dia bertanya-tanya sendiri dalam hati sudah sampai manakah kiranya dia menggali, namun dia tetap berusaha bersabar dan terus saja menggali. Namun godaan akan keingintahuannya terus datang manakala dirinya merasa sudah menggali terlalu jauh. Raden Aswatama mencoba bertanya kepada ibundanya dan ketika dia tidak mendapatkan jawabannya, dia lupa akan larangan ibundanya dan menengoklah ia ke belakang. Maka seketika itu juga bumi bergemuruh….

Terdengar suara Dewi Wilutama, "Anakku Aswatama, kamu telah melanggar larangan yang aku katakan, maka mulai sekarang aku tidak bisa lagi membantumu… kamu teruskan usahamu sendiri. '

Menyesallah Raden Aswatama karena kini tanah yang dia gali telah menjadi keras kembali seperti semula. Akhirnya raden aswatama membelokkan arah galiannya menuju atas dan ke luar sampai di daerah yang sekarang ini dikenal dengan daerah Batur. Adapun tempat pertama kali Raden Aswatama menggali dikenal sampai sekarang dengan sebutan "Gua Aswatama" adapun kebenaran tentang gua tersebut sampai ke daerah batur, sampai sekarang tidak ada yang tahu. (kok tidak ada Ahli Geologi yang meneliti ya? )

Dalam perkembangannya, Ujungnegoro menjadi salah satu desa tepian pantai yang memiliki panorama eksotis dengan suasana alam yang relative masih nature. Eksotisme pantai inilah yang menjadikan para pemancing dari berbagai daerah datang untuk memancing sekalian menikmati indahnya pemandangan alam sekitarnya. Berawal dari omongan para pemancing inilah, makin hari makin banyak saja orang berdatangan untuk menikmati keindahan alam pantai Ujungnegoro. Pemerintah Kabupaten Batang, melalui Disparta-nya akhirnya menjadikan pantai yang terletak 14 km arah timur laut dari kota Batang ini salah satu obyek tujuan wisata daerah dengan membangun berbagai fasilitas umum bagi para wisatawan namun tetap mempertahankan eksotisme dari pantai Ujungnegoro ini.


Facebook: Radityo Full
YM: radityo_dj
Twitter: @mediacare


__._,_.___


Ingin bergabung? Kirim email kosong ke: tourismindonesia-subscribe@yahoogroups.com

Klik:

http://tourismindonesia.blogspot.com




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: