15.3.12

[tourismindonesia] Jalan-Jalan: Melewati temaram di Kemang



Jalan-Jalan: Melewati temaram di Kemang

Hari menjelang petang, kendaraan kami melintas di Jalan Kemang Raya, Jakarta Selatan, Jalan masih lengang, tetapi arus lalu lintas mulai tersendat, terlebih ketika masuk ke pusat keramaian jalan itu. Sudah terlihat mobil-mobil parkir di halaman parkir kafe, restoran, atau sisi jalan di depan deretan beberapa kafe atau toko.

Setelah menelusuri jalan itu berikut jalan-jalan kecil di sekitarnya, kami pun memutuskan mampir di Dim Sum Festival, sebuah restoran yang relatif baru di Jalan Kemang I, baru buka sekitar lima bulan. "Kakak" kafeya ada di Jalan Kemang Raya, tetapi lebih kecil dari adiknya. Biasanya, tengah malam pengunjungnya antre.

Bangunan Dim Sum Festival  bernuansa pecinan, dominan warna merah mencolok, sehingga kemungkinan terlewatkan jika ingin mampir sangat kecil. Maklum, banyak tempat makan, galeri, atau toko yang kalau kita tak jeli atau sering ke sana mudah terlewatkan. Padahl, untuk memutar balik agak repot mengingat kondisi jalan yang tidak lebar dan ada ruas jalan yang hanya satu arah.

Untuk parkir aga jauh, lalu berjalan kaki ke tempat yang kita tuju juga tidak mudah. Itu disebabkan, lagi-lagi jalur pedestrian yang di kawasan Kemang ini banyak yang tidak berpihak kepada pejalan kaki. Namun, kalau sudah masuk ke kae atau galeri yang ada, segera segala kerepotan di jalan tadi terlupakan. Mari pilih makanan dan minuman yang ada dan nikmatilah dengan rileks sambil mengobrol atau mendengarkan musik yang mengalun di kafe.

Masuk ke Dim Sum Festival, ada tujuh stan makanan yang dapat dipilih, tidak hanya aneka dim sum. Berbagai jenis masakan China, Jepang, Korea, amerika/Meksiko, Italiadan tentu ada masakan lokal, seperti Nasi Goreng, Bubur Ayam, Bakmi, dan Sop Buntut, juga ditawarkan.

Untuk makanan barbeque, Korea atau Jepang, kokinya akan memasakkan hidangan di meja sehingga pengunjung lain juga dapat melihat sensasi atraksi memasaknya, sekaligus aroma masakan tersebut.

Valentino Putra, Manajer Dim Sum Festival, mengatakan mereka sengaja menyediakan aneka masakan karena sasarannya tidak saja mereka yang ingin berlama-lama di restorannya, tetapi juga bagi mereka yang tidak punya cukup wwaktu tetapi ingin makan enak.

"Hanya 5 sampai 15 menit, hidangan sudah dapat dinikmati atau take away," katanya.

Namun, memang lebih nikmat kalau punya waktu agak luang. Kita bisa memilih lebih dari sekitar 700 hidangan yang telah tersedia atau baru akan dibuatkan para kokinya jika dipesan. Setiap stan di sana ada seorang koki utama dengan beberapa asisten sehingga kemungkinan yang kita inginkan tidak tersedia amat kecil.

Harganya tentu bervariasi. Paling tidak, satu orang dengan uang Rp 100.000 di kantong bisa makan dengan kenyang dan puas.

Yang unik juga, setiap menu dibuat, bahan-bahan bakunya ditimbang sesuai dengan resepnya. Ini untuk menghasilkan cita rasa yang diinginkan dan konsisten.

"Jadi, hidangan di sini rasanya tidak berubah. Mau makan hari ini, besok, atau bulan depan, rasanya tetap sama, terjaga," kata Valentino.

Kawasan Kemang tidak hanya restoran keluarga yang dikunjungi pagi, siang, atau petang hari. Kemang juga punya tempat hiburan malam yang mengasyikkan. Salah satunya yang tergolong gress dan ternyata mendapat tempat di hati kaum muda adalah Kompleks Barcode atau Barcode Terrace. Barcode dikelola Audi Riri Mestika Rachman, yang dikenal dengan DJ Riri, berisi 10 resto yang menyajikan berbaai masakan Nusantara dan menu Barat.

Bangunannya berdiri di atas lahan seuas1.800 meter persegi, berlantai tiga. Letaknya di Jalan Kemang Raya Nomor 8. Tak seperti tempat lain yang memiliki pengunjung yang fanatik, pengunjung Barcode lebih "cair" datang dan pergi. Pengunjung yang datang pun umumnya kaum muda kelas menengah, yang sebagian masih memilih datang dengan sepeda motor.

Lokasi serupa ada di The Green Club & Resto di Kemang Raya Nomor 25. Pada Sabtu tengah malam, tempat ini menjadi tempat yang paling sesak dikunjungi remaja bermobil dan bersepeda motor.

Atau silakan kunjungi Gastro Pub Elbow Room, yang bersebelahan dengan Bar & Lounge Nu China di Jalan Kemang Raya Nomor 24. Dua-duanya punya komunitas pengunjung yang loyal. Mayoritaspengunjung Elbow terbelah, ekspatriat dan keluarga muda kelas atas, sedangkan loyalis Nu China remaja dari keluarga berada.

Pemilik Gastro Pub Elbow Room, artis Anya Dwinof, menyarankan untuk juga menikmati Nasi Goreng Kambingnya. "Isinya saa aja, sih, nasi-daging kambing-kol-tomat-timun-daun seledri. Tapi, rasanya bikin mulut sama perut enggak sinkron. Perut udah puas, mulut masih mau aja," katanya.

(RTS/WIN)

Kuliner: Lima kilometer tempat kenikmatan berkumpul

Kantornya di Jalan Kemang Utara membuat Rudin (42), yang tinggal di Cibinong, Bogor, menjadi hafal derap kehidupan kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Apalagi, tuntutan kerjanya membuat dia kerap berhubungan dengan pebisnis atau pengelola tempat usaha di sana.

"Walaupun enggak sedikit yang sudah tutup, tetapi selalu ada yang menggantikan. Jadi, kawasan Kemang tetap ramai, banyak pilihan untuk makan dan minum enak serta kongko. Apalagi kalau akhir pekan, ramai sekali. Jalanan macet, itu biasa," katanya.

Kemang memang satu dari sekian kawasan di Jakarta yang dikenal dengan deretan aneka kafe, restoran, bar, dan tentu saja galeri atau toko barang seni. Plus, rumah-rumah kelas menengah atas, dan kini juga apartemen sewaan yang banyak dihuni eks patriat. Kawasan di mana orang bisa menikmati makanan dan minuman enak serta suasana santai, terlebih saat malam hari.

Sebetulnya, kawasan Kemang yang jadi incaran penikmat makan dan minum serta suasana santai utamanya ada di Jalan Kemang Raya, yang panjangnya sekitar 5 kilometer. Walaupun di Jalan Kemang Selatan dan Jalan Kemang 1 ada juga tempat makan dan kongko, tidak sebanyak di Jalan Kemang Raya. Jalan-jalan itu semuanya berada di wilayah Kelurahan Bangka, Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Salah seorang yang kerap menyambangi kawasan Kemang adalah Riffa Juffiasari, ibu dua anak, yang tinggal di Ciputat. "Kemang enak didatangi karena banyak kafe yang  makanannya enak. Apalagi, udara di sana masih lebih nyaman dan enggak hiruk-pikuk seperti kawasan tempat hiburan di Jakarta Pusat atau Jakarta Barat," katanya.

Enaknya lagi, santai di Kemang, lanjut Riffa, banyak pilihan makanan untuk teman mengobrol, sampai makanan berat. Dari makanan Indonesia sampai Barat, bahkan Timur Tengah. Banyak juga restoran yang cocok untuk anak-anak makan di lokasi itu.

Dulu, ketika masih remaja dan belum menikah, Riffa memilih tempat santai yang musiknya agak menggelegar. Sekarang, dia memilih tempat yang suasananya tenang, yang cocok untuk berlama-lama mengobrol, ditemani musik lembut dari perangkat musik atau live music. "Soal busana, yang kasual saja kalau jalan-jalan ke sana, yang santailah," katanya.

Lalu Riffa juga mengatakan, jangan lupa mampir ke pasar swalayan yang ada di sana, yakni Kemchick atau Ranch Market. Kalau mau, sekali-kali beli bumbu unik atau cokelat dan biskuit-biskuit produk luar negeri.

"Saya, tuh, orangnya cepat bosanan. Tetapi, kalau jalan-jalan ke Kemang, enggak bosan sebab lama enggak ke sana, pas ke sana, kayaknya ada yang baru. Kafe-kafe lama ada yang sudah tutup, tetapi muncul juga kafe-kafe baru. Jadi, Kemang tetap saja ada value-nya," kata Riffa.

(RTS/WIN)

Person quoted: Valentino Putra (Manajer Dim Sum Festival) .  Anya Dwinof (pemilik Gastro Pub Elbow Room) .  Rudin, Riffa Juffiasari (pengunjung)


Kompas - 1 Oktober 2011


__._,_.___


Ingin bergabung? Kirim email kosong ke: tourismindonesia-subscribe@yahoogroups.com

Klik:

http://tourismindonesia.blogspot.com




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: