30.3.12

[tourismindonesia] Kreasi baru Es Dawet Ireng khas Purworejo, baru 4 bulan telah raih omset Rp 38 juta, keuntungan di atas 70%



Dawet Ireng Purworejo, Kelapa Dua, Depok-Jawa Barat: Kreasi baru Es Dawet Ireng khas Purworejo, baru 4 bulan telah raih omset Rp 38 juta, keuntungan di atas 70%

Es Dawet merupakan minuman khas Jawa Tengahan yang biasanya hanya terdiri dari cendol, air gula merah, es batu dan santan. Adalah Retno Dwi Asmawati (27) yang berkreasi dengan menghadirkan Es Dawet dengan topping variatif, mulai dari buah durian, nangka atau sirsak. Dalam sebulan, ia dapat mengantongi keuntungan bersih sebesar Rp 28 juta. Seperti apa kreasinya.

Retno Dwi Asmawati adalah ibu rumah tangga. Namu, karena keinginan memiliki kegiatan yang menghasilkan uang, wanita kelahiran Purworejo, Jawa Tengah 12 Desember 1984 ini mencoba menekuni dunia usaha. "Karena saya menggemari Es Dawet, saya memutuskan menjual minuman ini," terang Retno.

Lebih lanjut dijelaskan Retno bahwa bahan baku utama atau isian untuk Es Dawet adalah cendol. Dan, pada dasarnya, ada tiga warna cendol, yaitu cendol hijau, cendol putih, dan cendol ireng atau cendol hitam. Namun, Retno lebih memilih untuk mengembangkan cendol ireng agar berbeda dengan yang lain.

Apalagi membuat minuman ini tidak sulit karena sebagian besar keluarga Retno menekuni usaha Es Dawet Ireng. "Saya juga sering membantu orangtua membuat cendol, jadi tidak perlu waktu khusus untuk mempelajarinya," tambah Retno. Agar minuman yang dibuat dilirik konsumen, Retno menghadirkan pembeda. Jika biasanya, Es Dawet Ireng hanya terdiri dari cendol hitam, air gula merah, es batu dan santan, ia menghadirkan Es Dawet Ireng dengan tambahan aneka topping, mulai dari buah durian, potongan nangka atau buah sirsak.

Retno memulai usaha Maret 2011 dengan label Dawet Ireng Purworejo. Modal awal yang dikeluarkan sebesar Rp 1 juta yang digunakan untuk membeli peralatan, mulai gayung, baskom, gerabah dan panci Rp 300 ribu dan bahan baku Rp 700 ribu. Khusus untuk gerabah dibeli di Subur Ceramic, Kasongan RT 01, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Telp. 0274-370904, 447548

Tempat usaha.

Lokasi yang dipilih Retno adalah Gang Jengkol di Jalan Akses UI, Kelapa Dua-Depok. Di lokasi ini, ia tidak dibebani sewa tempat, hanya setiap bulan ia membayar uang sampah Rp 15 ribu. Ruas jalan ini dipilih, karena strategis dan merupakan jalan penghubung Jakarta menuju Depok dan sebaliknya.

Dua bulan setelah pembukaan gerai pertama Dawet Ireng Purworejo, Retno membuka dua cabang baru dalam waktu bersamaan. Yakni di Ruko Cibubur, Jalan Lapangan Tembak, Arundina, Cibubur-Jakarta Timur dan depan Kampus STIE Kusuma Negara Cijantung-Jakarta Timur. Berbeda dari lokasi pertama, untuk kedua cabang ini, Retno memilih lokasi yang berada di sentra makanan. Seluruh gerai Es Dawet Purworejo mulai beroperasi pada pukul 9 pagi hingga 6 sore. Namun, saat Ramadan, Retno akan mengubah jam operasional, mulai dari pukul 2 siang hingga 8 malam.

Promosi.

Sejak awal usaha hingga kini, Retno tidak melakukan promosi khusus. Retno hanya membentangkan spanduk besar di masing-masing gerai untuk menarik mata para pengendara yang melintas atau pengunjung sentra makanan yang datang. Dalam spanduk yang didominasi warna hijau dan merah ini terdapat gambar semangkuk Es Dawet ireng di bagian tengah spanduk diapit dengan dua gerabah. Di bagian atas spanduk terdapat tulisan Dawet Ireng Khas Butuh Purworejo dan di bawah tertera nomor telepon untuk pemesanan.

Selain spanduk, saat konsumen memesan Es Dawet Ireng untuk acara khusus seperti resepsi pernikahan, Retno menyediakan gerobak sendiri. "Pesanan saat acara pernikahan juga termasuk efektif, karena di acara tersebut banyak orang yang datang dan mencicipi, sehingga banyak yang tertarik untuk memesan minuman kami," ungkap Retno.

Varian dan keunggulan.

Dawet Ireng  Purworejo menyediakan tiga jenis varian rasa, yakni Es Dawet Ireng Nangka, Es Dawet Ireng Durian dan Es Dawet Ireng Sirsak. Harga yang ditawarkan Rp 3 ribu/mangkuk cina. Harga ini memang terhitung murah, karena porsinya sedikit, dalam semangkuk cina (mangkuk ukuran kecil). Begitu juga dengan toppingnya, semisal durian, satu biji durian bisa untuk 4-5 porsi. "Topping yang kami gunakan hanya buah-buahan, bukan bawang goreng dan potongan kelapa," ungkap Retno.

Yang membedakan ketiga varian rasa adalah topping. Sedangkan untuk bahan baku dawet, air gula merah dan santan berasal dari resep yang sama.

Untuk menjaga citarasa otentik Es Dawet Ireng, beberapa bahan baku seperti gula merah kelapa dan gula merah aren didatangkan dari Purworejo Jawa Tengah. Dijelaskan Retno, kebanyakan gula merah yang beredar di pasaran Jakarta sudah terkontaminasi dengan bahan pewarna dan pemanis buatan sehingga terasa pahit di tenggorokan.

Bukan hanya gula merah, bahan pewarna cendol berupa merang yang berasal dari batang padi yang dibakar, didatangkan juga dari Purworejo-Jawa Tengah. "Untuk merang, kebetulan ibu yang buat. Namun agar tercampur rata dengan tepung, setelah padi dibakar kemudian dihaluskan," papar Retno.

Ditambahkan Retno, penggunaan bahan baku alami menjadi keunggulan pada Es Dawet buatannya. Misalnya, dalam pemilihan buah durian untuk topping Es Dawet Durian, Retno lebih memilih buah durian segar yang masih terbungkus kulit. Selain karena rasanya yang lebih enak, masa simpan pun akan lebih panjang dibanding dengan buah yang dijual daam bentuk kemasan. Tidak hanya itu, tekstur cendol buatan Retno juga terasa lebih legit dan kenyal dari dawet biasa. "Kalau biasanya orang bikin dawet pakai tepung beras, saya lebih memilih menggunakan tepung sagu," papar istri dari Paikun ini ramah.

Proses produksi.

Setiap hari, Retno membuat sendiri bahan utama Es Dawet Ireng untuk ketiga gerai Dawet Ireng Purworejo. Mulai dari pembuatan cendol ireng, air gula merah hingga santan. Tahap pertama dimulai dengan pembuatan cendol ireng.

Proses pembuatan cendol khas Purworejo berbeda dengan pembuatan cendol biasa. Jika umumnya cendol dibuat dari campuran tepung beras dan tepung sagu yang dilarutkan bersama air hingga menjadi adonan kental kemudian direbus hingga menjadi bubur lalu dicetak, cendol ireng Purworejo dibuat dari campuran tepung sagu merek Segitiga Merah, merang bubuk siap pakai dan garam yang diuleni bersama air hingga kalis (berbentuk padat, -red).

Agar adonan tercampur rata dan tidak menggumpal, air harus dituangkan sedikit demi sedikit ke dalam campuran tepung. Untuk 1 kg tepung sagu, Retno mencampurnya dengan 2 liter air dan 10 gr merang bubuk.

Adonan cendol yang telah kalis kemudian dimasukkan ke dalam gayung plastik yang di bagian bawah telah dilubangi kecil seperti cetakan cendol. Kemudian, gayung diuapkan di atas panci berisi air panas, lalu dimasukkan adonan cendol ireng ke dalam gayung dan cendol ireng akan keluar dari tiap lubang gayung. Selanjutnya, cendol ireng diangkat dari dalam air panas dan dipotong kecil dengan menggunakan gunting.

Agar tekstur cendol ireng menjadi padat. Setelah digunting kecil, cendol ireng direndam dalam air es. Retno tida membiarkan cendol ireng terendam terlalu lama dalam air panas karena tekstur akan menjadi lembek dan tidak kenyal. Selanjutnya cendol ireng dimasukkan dalam wadah gerabah yang terbuat dari tanah liat. Fungsi gerabah untuk membuat cairan di dalamnya lebih tahan dingin sehingga cendol ireng tidak menggumpal karena panas ataupun basi.

Setelah membuat cendol ireng, selanjutnya membuat air gula yang dibuat dari campuran gula merah kelapa dan gula pasir GMP dengan perbandingan 3:1 atau 3 kg gula merah kelapa dengan 1 kg gula pasir. Untuk menambah aroma gula, Retno menambahkan 1 buah gula merah aren dalam campuran gula tersebut. Selanjutnya campuran gula direbus bersama 3 liter air hingga mencair. Kemudian disaring, lalu ditambahkan frambozen sebanyak 3 tetes untuk memperkuat aroma air gula dan 1/2 sdt garam. Setelah dingin, air gula kemudian dituang ke dalam wadah Tupperware. Kemudian tahap terakhir adalah pembuatan santan.

Untuk memperkecil resiko kerusakan santan akibat terlalu lama berada dalam suhu ruang, Retno membuat dua bentuk santan yakni santan kental yang diambil dari perasan kelapa parut yang pertama dan santan cair yang diambil dari perasan yang kedua. Untuk santan kental dari 1 butir kelapa Retno menambahkan 1 liter air matang. Sedangkan untuk santan cair, dari 1 butir kelapa ditambahkan 2 liter air matang. Kelapa yang digunakan adalah kelapa tua yang berdaging tebal. Kelapa jenis ini diakui Retno memiliki kandungan santan yang lebih banyak dan lebih gurih dibanding kelapa setengah tua.

Retno memang sengaja menggunakan air matang untuk perasan kelapa. Karena santan buatan Retno tidak melalui proses perebusan. Suhu air juga tidak panas, melainkan air bersuhu normal. Menurutnya, jika menggunakan air panas atau melalui proses perebusan, kandungan minyak dalam kelapa akan keluar, akibatnya santan akan lebih mudah rusak atau basi. Sama seperti air gula merah, santan kental juga ditempatkan dalam wadah plastik merek Tupperware yang tertutup rapat. Sedangkan untuk santan cair, Retno mencampurnya ke dalam es batu yang digepruk kasar kemudian disimpan dalam ember plastik yang tertutup rapat. Dalam sehari proses pembuatan santan dilakukan 2-3 kali proses.

Untuk semangkuk Es Dawet Ireng menggunakan 160 ml santan cair, 50 ml air gula dan 1 sdm santan kental.

Proses pembuatan cendol ireng dan pelengkapnya dilakukan setiap hari di kediaman Retno, Asrama Yonif Kavaleri I, Cimanggis-Depok mulai pukul 5 hingga 8 pagi untuk selanjutnya dibawa ke masing-masing gerai dengan menggunakan motor. Sesampai di masing-masing gerai, cendol ireng dalam gerabah beserta gula merah dan santan di dalam Tupperware disusun dalam gerobak pikul yang terbuat dari anyaman rotan.

Menurut Retno, yang paling banyak dipesan konsumen adalah Es Dawet Nangka. Saat pesanan datang, potongan es batu yang dibeli dari supplier es batu yang terdekat dengan masing-masing gerai, imasukkan ke dalam mangkuk kecil berbahan keramik. Kemudian ditambahkan cendol ireng, air gula dan santan. Selanjutnya ditambahkan dengan masing-masing pesanan topping. Untuk Es Dawet Durian, Retno menambahkan daging buah durian medan. Sedangkan untuk Es Dawet Nangka, Retno menambahkan daging buah nangka matang yang dipotong kotak kecil.

Jika minum di gerai, Es Dawet Ireng disajikan dalam mangkuk cina (mangkuk ukuran kecil). Namun, jika take away, Es Dawet Ireng dibungkus dengan plastik bening ukuran 1/4 kg.

Omset.

Dari ketiga gerai Dawet Ireng Purworejo, di hari biasa dapat mereguk pendapatan hingga Rp 1,2 juta. Sedangkan akhir pekan meningkat menjadi Rp 1,5 juta per hari. Jika diasumsikan dalam hitungan per bulan, maka pendapatan Dawet Ireng Purworejo dapat mencapai Rp 38,4 juta dengan keuntungan bersih sebesar 74,6% atau Rp 28,7 juta. Menghadapi bulan Ramadan, Retno memprediksi usaha yang digeluti ini akan mengalami kenaikan omset hingga sebesar 50%.

Dalam menjalankan usaha ini, Retno dibantu 6 orang karyawan, 2 orang bertugas di bagian produksi dan 4 orang yang menjaga gerai. Setiap karyawan digaji sebesar Rp 1,2 juta/bulan.

Prospek.

Usaha minuman merupakan usaha yang menjanjikan dan peminatnya beragam dari anak-anak hingga orang dewasa. Karena itu, Retno berencana melakukan ekspansi usaha. "Tahun ini saya akan membuka cabang lagi di Depok maupun Jakarta Timur. Saat ini lagi masih mencari lokasi yang strategis," papar Retno.

Tidak itu saja, Retno bersedia membuka peluang kemitraan bagi masyarakat yang ingin membuka usaha minuman sejenis. "Saya siap jika ada yang ingin bermitra, baik itu menggunakan brand atau pun hanya membeli bahan baku saja," tukas Retno.


(Andhika)

Person quoted: Retno Dwi Asmawati (pemilik Dawet Ireng Purworejo)


* Es Dawet Ireng Nangka ala Dawet Ireng Purworejo (untuk 40 porsi)

Bahan:
- 1 kg tepung sagu
- 10 gr merang bubuk
- 2,5 liter air
- Garam secukupnya

Air gula merah:
- 1,5 kg gula merah kelapa, sisir halus
- 500 gr gula pasir
- 1/2 buah gula merah aren, sisir halus
- 2 teter essence frambozen
- Garam secukupnya

Kuah santan:
- 2 butir kelapa tua
- 1 liter air matang

Pelengkap:
- Es batu secukupnya, gepruk
- Nangka matang secukupnya, potong kotak

Cara membuat:
Dawet: Campur tepung sagu, merang bubuk dan garam kemudian larutkan dengan air sedikit demi sedikit sambil diuleni hingga kalis. Masukkan adonan ke dalam gayung plastik yang bagian dasarnya telah dilubangi kecil-kecil lalu uapkan di atas air panas hingga adonan meleleh dan keluar dari sisi-sisi lubang, angkat dan potong kecil. Rendam dalam air dingin.
Air Gula Merah: Rebus semua bahan hingga mendidih dan gula larut, saring. Tambahkan essence frambozen, aduk rata.
Santan: Campur kelapa parut dengan setengah bagian air sedikit demi sedikit sambil diremas-remas agar ekstrak santan keluar. Peras kelapa dengan menggunakan kain bersih hingga santan keluar. Ulangi hingga air habis.
Penyajian: Masukkan es batu dalam mangkuk lalu tambahkan dengan dawet, air gula merah dan santan. Tambahkan potongan durian sebagai topping.


Info Kuliner - 29 Juli-11 Agustus 2011


__._,_.___


Ingin bergabung? Kirim email kosong ke: tourismindonesia-subscribe@yahoogroups.com

Klik:

http://tourismindonesia.blogspot.com




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

2 komentar:

Unknown mengatakan...

gan ada cp bu retno'nya gak??klo ada tolong pm ke febrianto.rooseno@yahoo.co.id..thanks

Obat Pembesar Payudara Herbal mengatakan...

thanks ya informasinya