29.3.12

[tourismindonesia] Pecak Gurame Betawi, ajib...: Sediakan 60 kilogram Ikan Mas per hari



Pecak Gurame Betawi, ajib...: Sediakan 60 kilogram Ikan Mas per hari

Kekayaan budaya kuliner Betawi memang tak diragukan . Beragam masakan Betawi bisa menggoyang lidah Anda. Sebut saja, Pecak Gurame Goreng khas Betawi, Soto Betawi yang segar, dan Pepes Ikan Betawi. Wah, semuanya enak disantap di tengah hari bolong, jam makan siang.

Jelang makan siang, Kamis (1/3), saya agak kebingungan mencari tempat bersantap. Sempat berpikir cukup panjang, saya baru ingat ada warung atau tepatnya rumah makan khas Betawi yang selalu ramai pada jam makan siang. Namanya Warung Betawi Haji Muhayar. Letaknya di Jalan Raya Taman Margasatwa Ragunan, Pasar Minggu. Kalau dari arah Mampangprapatan, letaknya persis di sebelah kiri jalan saping kantor Telkom Ragunan.

Wangi harum Gurame Goreng langsung datang menggoda ketika saya dan seorang teman tiba di rumah makan ini. Hmm... Tak sadar, saya membayangkan kelezatan Gurame Goreng membuat air liur mengalir di dalam mulut.

Siang itu kami disambut baik oleh Hj. Mumun, anak keempat H Muhayar (almarhum). H Muhayar itu pemilik sekaligus menjadi nama rumah makan itu. Dari bentuknya, rumah makan ini terbilang sederhana. Meja-meja kayu ditata berjejer bersama kursi plastik. Sederhana sekali. Dari penampilannya, orang akan sukar percaya mengapa tempat sederhana seperti ini selalu dijejali banyak pelanggan, khususnya pada jam makan siang.

Warung makan ini menempati rumah tinggal yang dijadikan restoran, seperti kebanyakan rumah makan orang Betawi. Meski saat itu merupakan jam sibuk bagi Hj. Mumun, perempuan paruh baya ini masih sabar melayani saya mengobrol. Orangnya ramah, ceplas-ceplos khas Betawi yang membuat saya dan Hj. Mumun cepat akrab. Kami pun dipersilakan duduk sambil menikmati es jeruk yang disajikan buat kami.

Siang itu, saya tertarik menikmati Pecak Gurame Goreng. Sajian ini berupa Gurame yang digoreng kering dan diguyur bumbu pecak khas Betawi. pasti akan nikmat sekali. Menu lain yang menjadi pilihan teman saya, Ayam Kampung Goreng Pecak. Yang ini juga sangat istimewa karena sangat jarang dijumpai di restoran lain.

Sambil menunggu pesanan, Hj. Mumun mengisahkan sejarah berdirinya restoran milik mendiang ayahnya itu. Menurut Mumun, warung itu didirikan H Muhatar pada 1976. Artinya, rumah makan itu telah berumur 35 tahun. H Muhayar merintisnya dari bawah. Di awal-awal berdirinya menu-menu yang disajikan juga masih sangat berciri warung makan Betawi sederhana, seperti Nasi Uduk, Semur Jengkol, Sayur Tahu dan Pisang Goreng.

Adalah kegigihan seorang H Muhayar yang pernah menjadi kusir delman dan angkutan umum membuat rumah makan miliknya tenar seantero Jakarta.

Warung makan itu dari hari ke hari makin ramai. Kata Hj. Mumun, menu Soto Betawi pun ditambahkan dalam daftar masakannya. Di masa-masa awal, Soto Betawi membuat warungnya kian ramai pengunjung. Tapi, ramai pengunjung tak berlangsung lama. Pasalnya, ada isu yang berkembang tentang penyakit asam urat yang disebabkan Soto Betawi yang memakai bahan utama organ dalam sapi. "Pas Soto Betawi tuh makin rame, tapi enggak bertahan lama karena makanan itu kan bikin asam urat. Dari yang biasanya daging 30 kilo bisa abis dalam sehari, ambruk sampai cuma 3 kilo sehari. Kan sampai sekarang juga masih banyak yang punya penyakit asam urat karena makan jeroan," ujar wanita berkedurung ini.

Periode tersebut dikatakan Hj Mumun sebagai salah satu periode tersulit usaha warung makan yang dirintis sang ayah. Hanya saja, H Muhayar tak mau menyerah. "Akhirnya bapak saya mulai nyari lagi, mikirin bagaimana supaya laris lagi. Akhirnya lari ke ikan. Nah sampai sekarang masih bertahan," ucap anak keempat dari delapan bersaudara itu.

Saat ini, bersama ketujuh saudara kandungnya, Hj Mumun bahu-membahu memajukan warung makan warisang sang ayah. Ada sekitar 20 orang pegawai yang bekerja setiap hari di Warung Betawi Haji Muhayar.

Ikan sebagai menu utama warung makan ditetapkan H Muhayar sekitar tahun 1987. "Waktu itu awal-awalnya kita bikin ikan mas pepes, terus ada ayam kampung, ikan gurame. Ya, sampai sekarang ini. Soto Betawi masih sempat kita pertahankan sedikit, cuma 3 kilo daging setiap hari, tapi lama-lama kalah sama ikan. Ya, udah , akhirnya enggak jualan Soto lagi karena memang terasa banget jatuhnya gara-gara Soto itu," ujarnya.

Ada rasa ada harga

Setiap hari, Warung Betawi Haji Muhayar mampu menghabiskan 300 potong ayam kampung. Selain itu, ikan gurame bisa ludes antara 40-50 kg sehari. Sedangkan untuk ikan mas (ternyata) lebih banyak lagi, bisa 50-60 kg terjual setiap hari. Malah, kata Hj Mumun, kadang-kadang bisa sampai 70 kg. "Ikan mas lebih banyak karena lebih murah. Kalau ikan gurame kan mahal. Kalau makan  gurame satu orang bisa Rp 60.000. Kalau ikan mas kan cuma Rp 30.000," ucapnya lagi.

Sepintas, harga yang ditawarkan warung makan ini sedikit mahal. Tapi percayalah, harga yang ditetapkan sangat sesuai dengan kualitas makan yang disajikan. Terbukti, tempat ini selalu ramai pembeli. Selain itu, kata Hj Mumun, ia tak pernah mendengar keluhan yang datang dari pelanggan soal harga mahal. "Enggak ada yang komplain, karena kan memang enak. Nah, karena enak walaupun mahal jadi enggak terasa mahal," ucapnya seraya berpromosi.

Apalagi, restoran ini terletak di pinggir jalan yang ramai perkantoran. Tak pelak, orang-orang yang makan di sini pun didominasi kaum berduit. Hj.Mumun mengatakan, menu favorit di warung makannya, Ayam Kampung Pecak atau Goreng dan Gurame.

Dibanding Pecak Ikan Mas dan Gurame, ada keunikan soal menu Pecak Ayam Kampung. "Kalau soal ayam, sebenarnya dari dulu enggak ada yang namanya Ayam Pecak. Yang ada paling ikan dipecak dan oncom dipecak. Cuma ada orang yang makan, dia suka pecak tapi enggak suka ikan. Setelah itu terciptalah Ayam dipecak. Ayam Pecak itu sekitar tahun 90-an baru ada," tuturnya.

Selain Pecak Ayam Kampung dan Pecak Ikan Gurame Goreng, masih ada menu lain yang ditawarkan sebagai pilihan, yakni Lele. "Kita juga punya menu ikan lele, tapi lele kita lele kampung, bukan lele dumbo. Lele juga laku, tapi jarang ada karena memang agak susah dapetinnya," kata Hj Mumun yang mengaku banga karena bukan cuma orang Betawi yang suka masakannya, tetapi banyak juga orang di luar Betawi yang menjadi langganan warungnya.

Warung makan Betawi biasanya menyediakan menu Gabus Pucung, tapi di Warung Betawi Haji Muhayar tak ada menu itu. Sebenarnya, kata Hj Mumun, warungnya pernah menyediakan menu Gabus Pucung. Hanya saja, meski banyak yang suka, menu itu terpaksa ditiadakan karena sulit mendapatkan ikan gabus. "Sekarang kan ikan gabusnya susah. Di pasar-pasar juga jarang ada gabus pucung, jadi enggak ada lagi," ucapnya.

(m7)


Pecak Gurame dipadu sambal terasi, istimewa...

Aroma Gurame Goreng di Warung Betawi Haji Muhayar, membuat rasa lapar di perut saya semakin memuncak. Saya dan teman saya pun tergoda untuk memesan Gurame Goreng, Ayam Kampung Goreng, Tempe dan Tahu Goreng, plus Sayur Asem khas Betawi, sebagai teman santap siang.

Wah, jadi tak sabar rasanya... Untung saja, setelah dipesan, tak lama kemudian menu idaman kami datang juga. Ternyata, ikan dan ayam tinggal dipanasi saja, jadi tak perlu menunggu lama untuk makan.

Sungguh menggoda! Ikan Gurame Goreng tersaji di meja kami benar-benar terlihat menantang. Warna daging luarnya merah kecokelatan, matang sempurna. Kuah Pecak yang disiramkan di atasnya juga amat menantang. Pecak diolah dari ulekan kasar bawang merah, cabai merah, jahe dan bumbu lainnya. Rasa yang keluar dari pecak itu asam pedas dan sedikit asin yang sempurna.

Ayam goreng kampungnya juga top. Daging luarnya merah kecokelatan, namun terasa lembut ketika dicubit. Kuah pecaknya sama saja, disiramkan melimpah hingga nyaris menutupi potongan ayam. Ditambah sambal terasi yang segar, menjadi paduan yang terasa istimewa. Belum lagi Sayur Asem Betawi yang asam dan asin, serta tahu dan tempe goreng yang menambah nikmat suasana makan.

Setelah semuanya terhidang lengkap, makan enak pun dimulai. Tangan saya menggamit daging ikan berlumuran bumbu pecak itu, saya langsung memasukkannya ke dalam mulut. Wow! Daging luarnya begitu renyah, namun lembut di dalam. Rasa bumbu pecak yang gurih dengan dominasi asam pedas, membuat rasa nikmat bergumul di atas lidah. Nikmaaat...

Saya coba variasi lain. Gurame Pecak saya tambahkan dengan sambal terasi. Wuih... makin istimewa. Lidah yang biasa dengan citarasa pedas seperti saya pasti akan merasakan sensasi makan yang mantap. Sambal terasinya merah cerah sungguh juara dari bahan-bahan segar. Tak ada rasa manis di sambal ini, melainkan pedas dan rasa asin terasi.

Saya lalu mencoba Sayur Asemnya. Hmm, enak juga Sayur Asem Betawi ini dilengkapi dengan potongan oncom. Bagi yang suka oncom, tentu Sayur Asem ini sekali-kali harus dicoba.

Sibuk dengan Gurame dan Sayur Asem, saya jadi "kecolongan" oleh teman saya. Tadinya, saya hendak mencoba sedikit Ayam Goreng Pecak miliknya. Ternyata, ayamnya sudah ludes. Huh, telat deh! Tapi tidak apa-apa. Untuk kunjungan selanjutnya, saya pasti memesan Ayam Goreng Pecak-nya. Lagian, saya juga enggak rugi-rugi amat karena Gurame Goreng milik saya masih banyak karena ukurannya cukup besar. Kata Hj. Mumun, Gurame Pecak ini bisa dinikmati 2-3 orang. Bagi saya, dinikmati sendiri pun saya kuat. He..he..he...

Tanpa terasa,, hidangan kami telah ludes. Entah berapa banyak kami harus mengeluarkan uang membayar "kerusakan" yang telah kami buat. Kami tak peduli. Yang penting makan senang, perut pun tenang. Bagi Anda khususnya orang Jakarta, jangan mengaku telah makan masakan Betawi yang enak kalau belum datang ke Warung Betawi Haji Muhayar!

Saking ramainya Warung Betawi Haji Muhayar, rumah makan sederhana itu bisa mengeruk pendapatan sekitar Rp 10 juta per hari. "Ya, pendapatan sekitar Rp 10 juta. Itu pendapatan koto aja sih, belum dipotong gaji dan segala macam. Ya, alhamdulillah," ujar Hj Mumun, anak keempat H Muhayar, yang mengelola rumah makan itu.

Lalu, apa saja yang telah didapatkan Hj Mumun dan keluarga besarnya dari usaha restoran Betawi ini? "Ha...ha...ha... Cucunya Pak Haji udah ada yang jadi sarjana, terus udah pada diberangkatin haji. Yang udah berangkat haji empat orang ditambah satu menantu. Yang belum berangkat haji empat orang ditambah seorang menantu juga, tapi biayanya udah disetor, tinggal berangkat aja. Ya, ada mobil juga, hasil dari usaha ini, buat ibu kalau mau kemana-mana," ujar Hj Mumun tanpa bermaksud sombong.

(m7)

Person quoted: Hj. Mumun (Pengelola Warung Betawi H Muhayar)


Warta Kota - 4 Maret 2012


__._,_.___


Ingin bergabung? Kirim email kosong ke: tourismindonesia-subscribe@yahoogroups.com

Klik:

http://tourismindonesia.blogspot.com




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: