20.3.12

[tourismindonesia] Restoran Puang Oca: Kepiting Papua berdaging tebal bertekstur lembut



Restoran Puang Oca: Kepiting Papua berdaging tebal bertekstur lembut

Menikmati hidangan Restoran Puang Oca dijamin akan membuat Anda ketagihan. Datang lagi dan datang lagi. Hidangan laut yang disajikan benar-benar menggoyang lidah. Seberapa pun besar porsinya, Anda bisa menghabiskannya.

Saat pertama kali melihat tampilan depan Restoran Puang Oca, orang langsung berpikiran restoran itu menyajikan makanan khas Makassar. Pikiran itu tidak salah karena di papan nama restoran besar-besar "Puang Oca: Seaood Restaurant Khas Makassar".

Ternyata pikiran itu ada benarnya sedikit. Setelah saya melihat sajian di buku menu hidangan yang ditawarkan restoran itu lebih nasional. Restoran Puang Oca memang menyediakan Seafood. Dan, bahkan makanan lautnya kebanyakan didatangkan langsung dari Makassar, Sulawesi Selatan.

Siang itu, Ade Mulyani, juru bicara Restoran Puang Oca berbaik hati menawarkan dua hidangan pembuka untuk saya cicipi bernama Tahu Puang Oca dan Lumpia Kepiting.Tahu Puang Oca, kata Ade, sangat digemari para pengunjung setia restorannya. Sambil menunggu hidangan pembuka tiba, Ade bercerita soal asal usul restoran tempatnya bekerja ini. Rupanya, restoran Seafood ini berdiri pada 24 November 2011 atas inisiatif Komisaris Jenderal (Purn) Jusuf Manggabarani, yang sebelum pensiun sempat menjabat sebagai Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia.

"Nama Puang Oca itu sebenarnya nama kecil dari Bapak Jusuf Manggabarani. Beliau itu adalah inisiator pembentukan restoran ini. Karena Pak Jusuf yang menjadi inisiator, jadi nama Pak Jusuf yang kita buat menjadi nama restoran ini. Kata 'puang' itu adalah sebutan untuk keturunan ningratnya Bugis. Jadi, kalau keturunan kerajaan zaman dulu kan kalau di Jawa laki-laki dipanggil 'raden' kalau di Makassar 'puang'. Sedangkan 'Oca' itu nama kecilnya Pak Jusuf," tutur Ade di Restran Puang Oca yang terletak di dalam kompleks Lapangan Tembak Senayan yang bersebelahan dengan Hotel Mulia itu, beberapa waktu lalu.

Menurut Ade, semasa hidupnya sang jenderal sangat hobi memancing. "Jadi beliau itu tahu persis mana ikan-ikan yang enak, ikan-ikan yang kualitasnya baus. Dan karena laut Makassar itu masih bersih dan masih banyak jenis-jenis ikan, jadi beliau menghubungi sahabatnya, Pak Hura Kamadjaja untuk mendirikan restoran ini. Ikan-ikannya juga semua didatangkan dari Makassar," kata Ade. Hura Kamadjaja pun setuju mendirikan Restoran Puang Oca sekaligus memiliki rumah makan itu.

Di tengah obrolan saya dan Ade, makan pembuka disajikan. Tampilan Tahu Puang Oca dan Lumpia Kepiting ini menarik. Tahu digoreng hingga berwarna keemasan dan di tengah-tengahnya dijejali udang kupas yang besar. Setelah mencoleknya dengan sambal asam-manis-pedas, saya pun menyantapnya. Hmm.... memang enak dan gurih sekali. Saya setuju, banyak orang menyukai Tahu Puang Oca.

Tekstur kulit tahu yang renyah dipadu dengan udang lembut dan manis (bukan amis, ya) terasa begitu nikmat di lidah. Jujur saja, saya belum pernah mencoba Tahu Udang seperti ini sebelumnya. Tapi percayalah, Tahu ini sangat enak dan Anda patut mencobanya sekali-kali. Atau setelah mencobanya, Anda jadi berkali-kali menyantapnya.

Puas memasukkan beberapa potong Tahu Puang Oca ke dalam mulut, mata saya lalu tergoda dengan Lumpia Kepiting. Sama seperti Tahu tadi, kulit lumpia ini digoreng hingga kemerahan yang pas. Setelah dipotong-potong, di dalamnya diisi bermacam sayuran yang telah ditumis terlebih dahulu. Dicampur dengan cincangan daging kepiting. Wah, rasanya memang enak. Tak heran Lumpia ini menjadi salah satu kudapan favorit, sama seperi Tahu Puang Oca.

Saking sedapnya rasa Lumpia Kepiting dan Tahu Puang Oca, makanan , makanan itu telah lenyap dari piring saji. Saya sampai lupa kalau masih ada hidangan utama yang harus dicoba juga. Sebelumnya, Ade sudah menjanjikan akan menyajikan hidangan spesial restoran ini kepada saya.

Kepiting Asal Papua.

Hidangan utama yang disajikan benar-benar menggairahkan. Satu porsi besar Kepiting Saus Padang diletakkan di atas meja. Tak sampai di situ, seporsi Lacukang atau ikan kakak tua yang dimasak kukus juga ikut tersedia.

Melihat besarnya ukuran kepiting yang dimasak saus padang itu sebenarnya agak gentar juga. Entah bagaimana menghabiskan kepiting sebesar itu. Sementara, kalau bersisasangat sayang. Kalau dibawa pulang terasa memalukan. Akhirnya, saya putuskan untuk mulai makan saja. Dengan bantuan alat pencapit, saya langsung merusak paha kepiting layaknya barbar. Wow, di dalamnya tersembunyi daging tebal yang warnanya kemerahan, tidak putih layaknya kepiing biasa.

Kepiting itu datang dari Papua. Kepiting Papua, kata Ade, memang punya keistimewaan dibanding kepiting dari daerah lain. Warna dagingnya merah dan dagingnya tebal yang lembut. Saya lalu coba memakannya bersama nasi. Wuih... Daging tebal yang lembut nan manis dengan bumbu saus padang istimewa memberi sensasi rasa indah. Entah bahasa saya salah atau tidak, namun begitulah perasaan saya saat menikmati kepiting ini.

Saking nikmatnya, beberapa waktu lamanya saya habiskan untuk menikmati nasi bersama kepiting saus padang saja. Setelah puas, saya lalu mencoba hidangan yang lain, Lacukang Steam. Penampilan Ikan Lacukang khas Makassar yang dimasak dengan cara diuapkan ini lebih kalem dibanding hidangan lain. Tidak banyak warna dan corak yang terlihat. Setelah mencicipinya, dijamin Anda yang pencinta ikan akan tergoda menikmatinya. Rasa ikannya lembut dan manis serta sedikit asam dan asin. Rasanya seakan membuat perasaan tenang, tak berkecamuk seperti saat menyantap kepiting. Kuah ikan dicampur bersama nasi juga nikmat.

Untuk sayuran, satu porsi Kangkung Tumis Bunga Pepaya menjadi pilihan. Di sisi lain, meski terdapat menu minuman yang menarik, saya memilih air mineral sebagai teman makan. Pilihan ini yang paling bijak, karena bisa menetralisir berbagai rasa yang masuk ke mulut anpa menghilangkan kekhasan rasa makanan. Meski begitu, Ade berjanji menyajikan minuman rahasia untuk saya nikmati sehabis makan.

Kangkung Tumis Bunga Pepaya dapat  giliran unuk disantap. Kangkung dan bunga pepaya beserta  campuran sayuran lainnya dicincang lalu dimasak dengan rasa sedikit pedas. Rasanya top. Saya memang penyuka bunga pepaya. Seperti kata orang, rasa pahit bunga pepaya bisa menambah nafsu makan.

Saat saya mencicipi semua hidangan itu, saya pun menemukan cara terbaik untuk melumat semua makanan saya. Pertama saya mencampur nasi dengan kepiting dan menjejalinya ke dalam mulut. Setelah terasa nikmat, kangkung tumis bunga pepaya langsung turut masuk. Rasanya agak kontras, namun membuat saya tidak bosan menikmati hidangan yang jumlahnya banyak itu. Apalagi, setelah menyantap kepiting dan sayur dinetralisir dengan tekstur ikan lacukang yang lembut dan membuat perut tenang. Bagi saya, semua ini merupakan salah satu menu terbaik yang pernah saya nikmati.

(m7)


Rahasia campuran Kopi Jenderal Bintang Lima

Restoran Puang Oca, punya sajian minuman andalan, kata juru bicara Restoran Puang Oca, Ade Mulyani. Namanya, kopi jenderal. Wah, mendengar namanya saja sudah bikin badan bergerar. Apalagi Ade meracik kopi itu pakai ramua rahasia seala terkait campuran minuman panas ini. Ade mengatakan, kalau minuman ini terdiri atas kopi dicampur dengan kuning telur plus campuran rahasia itu.

"Kopi jenderal itu hasil kreasi  Pak Hura (Hura Kamadjaja-pemilik Restoran Puang Oca-Red) dengan Pak Jusuf (Komisaris Jenderal Purnawirawan Jusuf Manggabarani-mantan Wakil Kepala Kepolisian RI-Red). Jadi, Pak Hura sedang bikin kopi, karena sedang minum dengan Pak Jusuf jadi dinamain Kopi Jenderal karena Pak Jusuf kan ada pangkatnya," kata Ade.

Sebelum Kopi disediakan, Ade terlebih dahulu bertanya ke saya, "Mau Kopi Jenderal Bintang Empat atau Bintang Lima?" Tentu saja saya pilih Kopi Jenderal Bintang Lima, karena feeling saya makin banyak bintangnya makin enak. Ade pun menyanggupi permintaan saya sambil tersenyum agak mencurigakan. Kopi pun datang. Karena penasaran, meskipun masih panas, saya langsung menyeruput kopi dengan bantuan sendok.

Seruputan pertama belum membuat saya sanggup menilai rasa sebenarnya karena masih sangat panas. Akan tetapi, selang satu menit kemudian rasanya mulai terbaca. Rasa kopinya enak. Saya tidak bohong. Kuning telurnya juga tidak bau amis sama sekali. Hanya saja, campuran rahasia itu mulai terasa di lidah, bahkan sampai ke kerongkongan. Apalagi sambil tersenyum Ade berkata "Selesai menikmati kopi ini harus pelan-pelan berkendaraan."

Akhirnya, setelah sudah tidak terlalu panas, saya pun bebas menikmati Kopi Jenderal Bintang Lima itu. Karena saya desak, Ade pun menjelaskan apa campuran rahasia di kopi Jenderal itu. Namun, dengan amat menyesal, saya pun harus merahasiakan si 'campuran rahasia' tadi  kepada Anda. Yang jelas, makin banyak bintangnya, kata Ade, rasa 'campuran rahasia' itu makin kuat. Dan, bagi Anda penikmat kopi, menu Kopi Jenderal ini patut Anda coba. Disarankan, jika hendak menikmati kopi unik ini dan Anda mengemudi mobil, sebaiknya setelah minum kopi ini lebih baik mobil dikemudikan oleh orang lain yang tidak minum Kopi Jenderal.

Selain Kopi Jenderal, minuman spesial lain di restoran ini yakni Barley. Minuman ini dari hasil rebusan biji jali yang kini sudah langka. Biji Jali termasuk jenis padi-padian yang disebut sebagai gandum mutiara china. Karena itu, rasa air rebusannya seperti tajin. Barley kata Ade, bisa membantu Anda mencegah perkembangan tumor pencernaan lantaran mengandung karbohidrat dan serat.

Harga setimpal..

Segelas Kopi Jenderal Bintang Empat dapat dinikmati dengan harga Rp 60.000 per gelas. Sedangkan Kopi Jenderal Bintang Lima Rp 75.000. Kalau menyeruput minuman Barley, Anda hanya merogoh kocek Rp 22.000. Selain itu, Restoran Puang Oca juga menyediakan minuman khas daerah, seperti Es Palu Butung Rp 28.000, Es Pisang Ijo Rp 28.000, dan Es Kopyor Durian Rp 28.000.

Masih ada makanan andalan lain di Restoran Puang Oca ini, seperti Kepiting Asap. Tapi saat saya datang ke restoran itu, Kepiting Asap tidak tersedia. Kepiting Asap dengan porsi besar dapat Anda nikmati dengan harga Rp 156.000 per porsi.

Terdapat pula pilihn menu lainnya, seperti Kakap Merah Wou, Bandeng Palumara, Kudu-kudu Goreng Tepung, Cumi Bakar Hitam, Acar Tuing-Tuing, dan aneka Nasi Goreng. Tapi, dengan alasan mengikuti harga pasar, tidak semua harga menu ditampilkan.

(m7)

Person quoted: Ade Mulyani (juru bicara Restoran Puang Oca)

Warta Kota - 12 Februari 2012


__._,_.___


Ingin bergabung? Kirim email kosong ke: tourismindonesia-subscribe@yahoogroups.com

Klik:

http://tourismindonesia.blogspot.com




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

1 komentar:

Anonim mengatakan...

kapan buka di makassar nih pak ? putra makassar koq tidak buka resto di makassar