12.3.12

[tourismindonesia] Wakidi, pemilik Angkringan Sego Kucing: Tiga tahun usaha bisa miliki 27 gerobak angkringan



Wakidi, pemilik Angkringan Sego Kucing: Tiga tahun usaha bisa miliki 27 gerobak angkringan

Berawal dari keprihatinan melihat saudara dan tetangga di kampung halaman mengalami kesulitan mencarii pekerjaan, menggerakkan hati Wakidi (41) untuk mendirikan usaha Angkringan Sego Kucing. Usaha ini sukses, karena hanya dalam waktu 3 tahun ia telah memiliki 27 gerobak yang mempekerjakan 50 karyawan. Omset yang dicapainya tidak kurang dari Rp 200 jutaan/bulan. Bagaimana perjalanan usahanya?

Sego Kucing atau Nasi Kucing, merupakan hidangan yang berasal dari Yogyakarta. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, makanan ini semakin menjamur di Jakarta. Fenomena ini ditangkap sebagai peluang usaha oleh Wakidi, seorang prajurit TNI AD yang bertugas di Pomdam Jaya Guntur Pasar Rumput, Jakarta Selatan. "Di Yogyakarta Nasi Kucing di warung angkringan sangat ramai. Saya pikir kalau 'dibawa' ke Jakarta kemungkinan akan banyak peminatnya," ujar laki-laki kelahiran Klaten, Jawa Tengah 21 Mei 1970 ini.

Apalagi Wakidi melihat banyak saudara dan tetangganya di Klaten yang kesulitan mencari pekerjaan. Jadi, dengan membuka usaha ini, berarti ia membuka usaha ini, berarti ia membuka lapangan pekerjaan.

Desember 2008, Wakidi memulai usaha angkringan dengan mengambil lokasi di Pasar Rumput. Usaha ini diberi nama HIK Solo atau Hidangan Istimewa Kampung Solo. Namun karena nama ini banyak yang menggunakan sehingga diganti menjadi Angkringan Sego Kucing.

Untuk usaha Angkringan Sego Kucing ini, Wakidi mengeluarkan modal awal sebesar Rp 6 juta. Modal ini digunakan untuk membuat sebuah gerobak, belanja alat dan bahan baku.

27 Cabang.

Saat membuka warung pertama kali di pojok kanan Pasar Rumput, Wakidi dibantu sang istri Sri Rejeki dan seorang keponakan untuk memasak aneka hidangan. Namun, setelah usaha ini berjalan sua bulan, lokasi di Pasar Rumput harus ditutup, karena sepi pembeli.

Wakidi lalu mencari lokasi baru selama beberapa minggu dan setelah melakukan survei dengan melihat tingkat keramaian, ia mendapat lokasi baru di Gang Kangkung, Kebayoran Lama. Ternyata di lokasi yang baru, usaha Wakidi terus menggeliat, maka tiga bulan berselang, membuka cabang di Jl. Kebon Nanas, Kebayoran Lama, lalu menyusul cabang baru lagi di Jl. Kramat, Kebayoran Lama. "Daerah Kebayoran Lama memang strategis, ramai dan banyak lokasi yang dijadikan tempat nongkrong. Karena itu, 3 lokasi awal berada di kawasan ini," ungkap Wakidi.

Setelah melihat cabang Angkringan Sego Kucing yang semakin ramai, tahun 2010 lalu, Wakidi berhasil membuka 12 cabang baru dan di tahun 2011 ini kembali melakukan ekspansi dengan membuka 12 cabang lagi. "Pembukaan cabang ini tidak serentak, biasanya sebulan sekali membuka satu cabang," ungkap Wakidi. Jadi total gerobak usaha yang dimiliki Wakidi saat ini ada 27 gerobak.

Lokasi mangkal Angkringan Sego Kucing milik Wakidi ini terdiri dari beberapa titik di Jakarta, mulai dari beberapa titik di Jakarta, mulai dari Pasar Kebayoran Lama terdapat 9 buah gerobak, Bundaran HHI Tanah Abang terdapat 6 buah gerobak, di Karet ada 2 gerobak, kawasan Hotel Peninsula ada 3 buah gerobak, daerah Setiabudi 4 gerobak, dan Lapangan Merah, Jakarta Pusat 3 buah gerobak.

Diceritakan Wakidi perjuangannya untuk bisa melebarkan sayap hingga memiliki 27 gerobak Angkringan Sego Kucing dalam rentang waktu 3 tahun, bukan hal yang mudah. Bahkan beberapa kali ada cabang yang tutup, karena sepi pembeli. Namun, bagi Wakidi, hal tersebut merupakan hal yang wajar dalam dunia usaha. "Tidak semua usaha berjalan lancar, bahkan ada juga mengalami kerugian, walau tidak banyak," ungkap Wakidi.

Keistimewaan.

Sego Kucing adalah nasi putih yang dibungkus dengan daun pisang dengan ukuran kecil. Yang membuat Sego Kucing ala Wakidi ini istimewa adalah sambal. "Sambal yang kami buat menggunakan caba segar dan diulek dengan tangan," terang Wakidi. Biasanya di tempat lain, sambal digiling menggunakan blender atau mesin penggiling. "Kalau pakai mesin, hasil sambal asam dan tidak tahan lama," jelas Wakidi.

Sego Kucing khas Angkringan Sego Kucing menyediakan tiga pilihan pelengkap, yaitu Bandeng Goreng Mini, Orek Tempe, Teri Goreng. Jadi di setiap bungkus diisi satu porsi nasi putih dan satu jenis pelengkap serta sambal. Seporsi Sego Kucing harganya Rp 2 ribu saja.

Selain Sego Kucing, Wakidi juga menyediakan menu lauk-pauk seperti Sate Telur Puyuh, Sate Ati Rempela, Sate Kikil, Sate Bekicot, Sate Kerang, Sate Usus, dan Sate Leher. Semua sate ini diolah dengan bumbu yang royal, sehingga rasanya enak. Jenis Sate yang paling banyak digemari adalah Sate Telur Puyuh dan Sate Usus.

Kunci utama agar hasil masakan enak terletak pada kecap dan bawang putih. "Penggunaan kecap dan bawang putih harus berani agar hasilnya gurih," jelas bapak tiga anak ini. Harga aneka Sate ini Rp 2 ribu/tusuk. Selain lauk, tersedia aneka gorengan, mulai dari Tahu Goreng, Tempe Goreng, Bakwan, Lumpia, Bakwan dan Tape Goreng. Harga Rp 500 per buah.

Wakidi juga menjual minuman di angkringannya, adapun minuman yang menjadi favorit di angkringan Wakidi adalah Jahe Susu. Untuk bahan minuman Jahe Susu, minuman digunakan adalah jahe emprit yang didatangkan khusus dari Klaten, Jawa Tengah. Agar rasa Jahe Susu ini sedap, jahe emprit dibakar lalu direbus dengan daun jeruk, serai, daun pandan, dan air. Harganya Rp 3 ribu/gelas.

Selain Jahe Susu, minuman lain yang disukai adalah Teh. Teh yang digunakan adalah Cap Pecut, juga didatangkan dari Klaten. "Saya lebih memilih menggunakan teh ini, karena hasil teh lebih pekat dan kental. Harga minuman aneka teh dari Teh Tawar, Teh Manis, dan Teh Jahe adalah dari Rp 500 hingga Rp 2.500.

Dari usaha yaang ditekuni selama 3 tahun dengan 27 gerobak, omset yang diraup bisa mencapai Rp 200 jutaan. Karena itu, Wakidi bisa berinvestasi mengembangkan cabang usaha dengan membeli gerobak-gerobak baru. Satu unit gerobak harganya Rp 4 juta. Selain itu, Wakidi memiliki 1 unit motor racing 250 cc merek Ninja yang dibeli dengan harga Rp 67 juta da 4 unit sepeda motor biasa. "Saya memang tidak mau punya mobil, karena jalanan Jakarta macet," papar Wakidi. "Jadi keuntungan usaha saya tabung dan untuk investasi tanah," lanjut Wakidi.

Dengan ekspansi usaha tersebut membuat Wakidi mampu mempekerjakan 50 orang, 10 orang bertugas sebagai juru masak, dan 40 orang sebagai pedagang (penjaga angkringan). Para juru masak digaji mulai dari Rp 300 ribu hingga Rp 900 ribu per orang. Sedangkan para pedagang (yang menunggu angkringan), bukan diberikan gaji tapi diterapkan sharing profit. Misalnya, untuk Nasi Kucing, harga yang ditentukan Wakidi Rp 1.500, tapi pedagang atau yang nunggu angkringan boleh mejual Rp 2.000. Atau, harga dasar Sate Rp 1.700 dari Wakidi dan dijual kembali Rp 2.000. "Jadi biasanya mereka mengambil keuntungan 10-25%," tutur Wakidi. Dan, umumnya pedagang ini penghasilannya antara Rp 2 juta-Rp 5 juta/bulan.

Obsesi.

Walaupun telah memiliki 27 gerobak angkringan, Wakidi masih memiliki obsesi untuk dapat membuka hingga 50 gerobak. Namun, keinginan tersebut untuk sementara masih tertunda, karena harus menyesuaikan dengan juru masak yang belum banyak serta lahan memasak yang sempit. "Saat ini sedang mencari tanaj yang cocok untuk jadikan tempat tinggal karyawan dan dapur umum, sehingga bisa segera melakukan ekspansi usaha," tutur Wakidi.

Walaupun saat ini banyak usaha kuliner yang mewaralabakan usahanya. Wakidi tidak mau ikut latah untuk terjun di dalamnya. "Saya tidak ingin mewaralabakan usaha, karena takut Terwaralaba tidak bisa menjaga kualitas makanan yang membawa dampak buruk pada imag usaha ini," ungkap Wakidi, pria berpangkat Kopral Kepala ini.

(Nurfitriyanti)


Tiap bulan memberi sedekah ke Masjid

Dengan omset sebesar Rp 200 juta/bulan, keuntungan yang diperoleh Wakidi tidak hanya digunakan untuk ekspansi usaha. Ia juga secar rutin memberikan bantuan uang ke beberapa mesjid di Kampung Kecil, Cidodol, Jakarta Barat. "Bagi saya memberikan bantuan ke masjid merupakan hal yang wajib. Karena kita telah memperoleh berkah dari Allah, jadi harus berbagi untuk sesama," terang Wakidi.

Selain itu, pada saat perayaan Lebaran biasanya Wakidi memberikan bantuan sembako bagi kamu duafa di kampung halamannya, Klaten.

(Nurfitriyanti)


Person quoted: Wakidi (pemilik Angkringan Sego Kucing)

* Sego Kucing (untuk 8 bungkus)

Nasi Putih:
- 300 gr beras
- 500 ml air
- Daun pisang dan kertas nasi secukupnya

Orek Tempe:
- 1/2 papan tempe, iris korek api
- 6 buah cabai merah keriting
- 2 siung bawang putih
- 5 siung bawang merah
- 2 lembar daun salam
- 2 ruas jari lengkuas, memarkan
- Garam secukupnya
- 1 sdt gula pasir
- Minyak goreng secukupnya

Sambal:
- 15 buah cabai merah keriting
- 6 siung bawang merah
- 2 siung bawang putih
- 1/4 sdt terasi bakar
- Garam dan gula pasir secukupnya
- Minyak goreng

Cara membuat:
Nasi putih: Cuci bersih dibawah air mengalir sebanyak 2 kali, lalu masak beras bersama air, aron nasi hingga setengah matang, angkat. Kukus nasi dalam kukusan, masak hingga matang, angkat dan sisihkan.
Orek Tempe: Goreng tempe hingga kuning kecokelatan, angkat dan tiriskan. Haluskan cabai merah keriting, bawang merah, dan bawang putih, lalu tumis hingga harum, masukkan daun salam dan lengkuas, masak hingga bumbu matang, masukkan tempe goreng, beri garam dan gula pasir, aduk rata, angkat dan sisihkan.
Sambal: Goreng cabai merah, bawang merah, bawang putih hingga matang, angkat. Giling sambal dengan ulekan, beri terasi bakar, garam dan gula pasir, aduk rata.
Penyelesaian: Ambil selembar daun pisang dan kertas pembungkus nasi, lalu sendokkan nasi putih, lalu beri Orek Tempe dan Sambal bungkus padat dengan ukuran kecil. Sajikan.


* Sate Telur Puyuh (5 tusuk)

Bahan:
- 20 butir telur puyuh
- Air secukupnya untuk merebus
- 5 buah tusukan sate
- 3 lembar daun salam
- 2 batang serai, memarkan
- 5 sdm kecap manis
- Penyedap rasa secukupnya
- 1 sdm gula merah
- Garam secukupnya
- Minyak goreng untuk menumis

Bumbu halus:
- 4 siung bawang putih
- 8 siung bawang merah
- 1 sdt ketumbar
- 1 ruas jari jahe
- 2 ruas jari lengkuas

Cara membuat:
Rebus air hingga mendidih, masukkan telur puyuh, masak hingga telur puyuh matang, angkat dan tiriskan. Kupas telur puyuh, sisihkan. Tumis bumbu halus hingga harum, lalu masukkan serai dan salam, masak hingga bumbu matang. Tuangkan air lalu masukkan telur puyuh rebus, kecap manis, gula merah, penyedap rasa, garam. Masak hingga bumbu meresap dan air agak menyusut. angkat. Tusuk telur puyuh ke dalam tusukan sate dengan per tusuknya isi 4 butir telur. Sajikan.

Catatan:
Untuk bumbu Sate Telur Puyuh dengan Sate yang lain sama. Namun ada beberapa sate yang ditambahkan lada seperti Sate Leher, Sate Ati Rempela dan Sate Kerang.


Angkringan Sego Kucing
Jl. Ashirot Kampung Kecil Rt 04 Rw 01 No. 47, Kelurahan Sukabumi Selatan, Jakarta Barat
Hp. 0858 8857 5633


Info Kuliner - Collection Edition Edisi 25, 2011


__._,_.___


Ingin bergabung? Kirim email kosong ke: tourismindonesia-subscribe@yahoogroups.com

Klik:

http://tourismindonesia.blogspot.com




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: