24.4.12

[tourismindonesia] PLESIRAN TEMPO DOELOE: Postcards from Netherlands East Indies, Minggu 29 April 2012 [1 Attachment]

[Attachment(s) from Ade Purnama included below]

PLESIRAN TEMPO DOELOE: Koeliling Djakarta
Kumpulnya di Parkir Timur Senayan yah
Minggu 29 April 2011, djam 07.30 pagi
Rp.150 ribu/org, sudah termasuk:
(thee manis anget)
(koewe tradisioneel)
(makan siang wuenak)
(es krim Tropic Ps.Baru)

(minuman petang dingin)
(masoep ke dalem Station Tandjong Priok*)
(masoep ke dalem Pelabuhan Sunda Kelapa)
(masoep ke dalem Museum Fatahillah, tetapi
cuman mau bercerita ttg Meriam si Jagur aja)
(masoep ke dalem Station Benedenstad/Beos*)
(djalan kaki di Passer Baroe, Restaurant Tropic)
(masoep ke dalem Gd.Depkeu, ...White House?)
*jang ke Station Tandjong Priok en ke Station
Benedenstad -masih menoenggoe confirmatie)

(diceritakan oleh Scott Merrillees, penulis buku:
"Greetings from Jakarta, Postcards of a Capital
1900-1950"; Achmad Sunjayadi, penulis buku:
"Vereeniging Touristen Verkeer Batavia (1908-
1942) Awal Turisme Modern di Hindia Belanda";
Lilie Suratminto, penulis buku: "Makna Sosio-
Historis Batu Nisan VOC di Batavia"; Andy
Alexander, penggemar riwayat VOC serta
periset pertempuran VOC di kota Djakarta;
Soni Gumilang, pemerhati riwayatnya spoor,
perkeretaapian di Java dan Hindia Belanda;
Nadia Purwestri, peng-konservasi bangunan
bersejarah di Jakarta & di seluruh Indonesia)

(doorprizes berupa buku-buku perihal riwayat
postcards di Jakarta, turisme modern di Hindia
Belanda, makam VOC, pendiri Stasiun Jakarta
Kota, konservasi Gd.Departemen Keuangan RI,
dan koin VOC aseli dari pulau nun jauh disana,
dan tentu 2 postcard aseli dari tahun sebelom
perang itu bakalan dijadiin doorprizes juga lho)
(naek Bus AC White Horse yang adem & ayem)

(ada baeknja sebelomnja ikoetin programma ini,
Toean dan Njonja soeda poenja itoe boekoenja
Pak Scott jang terseboet di atas, dapet dibeli di
toko boekoe matjem: Periplus, Kinokuniya, ataoe
beli via online di: www.greetingsfromjakarta.com)

(kaloe-kaloe ada jang kapingin beli boekoe karjanja
PDA ataoe
Pusat Dokumentasi Arsitektur bertadjoek:
"The White House of Weltevreden" dengan prijs/price
Rp.80.000,- dapet dipesen via kitaorang dengen kirim-
ken email pesenen ke adep@cbn.net.id dan boekoenja
bisa dikirim ke roemah ataoe kantoor Toean dan Njonja.
Adapoen fotonja gedong itoe, ada di lampiran email ini,
en nantinja kitaorang masoep ke dalemnja itoe gedong)

Kaloe-kaloe toean en njonja kasengsem pengen ikoetin ini plesiran,
silakan daftarken namanja, poela nama kawan, familie, sobat-ande
ke soerat-listrik ini: adep@cbn.net.id (adep at cbn dot net dot id),
lantas kamoedian aken dapetin nummer oeroet oentoek stoor doeit.
Ditransfernya ke Rekening BCA/BNI 46/MANDIRI cab. Pondok Indah 
atas nama ADE HARDIKA PURNAMA dikonfirmasikan via sms ke no:
0818 94 96 82, atau via email, di-scan dulu, makasih yah, trims.
(tapi kalo transfernya udah pake nomer urut, kagak usah dikirim
dah itu email scan-nya, cukup kasih tau lewat email atau sms)
(Toeloeng kassie kitaorang chabar kemana toean ataoe njonja
kirim itoe wang agar kitaorang nantinja tiada poesing toedjoe
koeliling diboeatnja tatkala toean dan njonja tiada bri tahoe
perkara ke bank mana wang roepiah itoe melajang-lajang :)

Bank BCA: 237.14.25.693
MANDIRI: 101.000.4434. 088
atau BNI 46: 01.48.44.54.65

(please kirim email dulu sebelomnya, ntar dibales kok, untuk dapatkan
nomer urut keikutsertaan, jangan langsung transfer yah, ntar kitanya
malah bingung karena dapetin itu uang kaget, bisa dikopi khan jek?!)
(anak ketjil, orang moeda dan orang toea, bayarnya sama yah, oke?)
(semua di-reken dengan satoe prijs/price iatoelah:
Rp.150.000/org)


Lima tahon silam, kitaorang bikin programma ja-goed (yahud) koeliling Djakarta bersama sedjoemblah narasoember
djoeara. Tahoen ini bakalan digelar atjara jang seroepa dan lebi keren lagi. Adapoen narasoember jang akan kassie
terang perihal riwajatnja kota kita ini, nantinja akan bertjeloteh sedjarah kota Djakarta dalem berbagi matjem soe-
doet pandang. Maka dari itoe, kaloe-kaloe Toean en Njonja liwatken itoe programma SAHABAT MUSEUM pada hari
Minggoe kelak, bole djadi menjesel, kerna itoe ada programma jang ke-100 dan tentoenja ametlah speciaal betoel:

PLESIRAN TEMPO DOELOE: Postcards from Netherlands East Indies
Minggoe, 29 April 2012 dari djam poekoel 07.30 pagi sampe petang hari, teloesoeri gambar kartoe-post di Djakarta

Begimana roepa kota Djakarta di awal abad ke-20 silam? Moengkin sadja Toean dan Njonja pernah
sekilas liet di album foto opa dan oma ataoe familie, namoen itoe bole djadi tahonnja pada djeman
Indonesia soeda merdeka, ataoe era di atas tahon 1950. Seperti apa view kota Djakarta di tahon
sebelom perang? Conditie djalanan, djembatan, gedong-gedong, dan tata kota-nja. Ach semoea
orang jang dikassie liet itoe koempoelan foto dari postcard pasti bakalan demen sama keadahan
kota Djakarta tatkala masih blom terlaloe banjak motorfietsen (sepeda motor), automobil (mobil)
en trem masih membelah djalanan iboekota, jang hari ini amet semrawoet en senantiasa didjandji-
ken oleh tijap-tijap bapak tjalon gubernur oentoek dikassie betoel en bagoes dalem tempo tjepet.
Ach, soenggoe hil jang moestahal kaloe-kaloe dapet benerin kota Djakarta dalem sekedjap sadja!

Pak Scott Merrillees dengen boekoenja jang gress dengen hati seneng akan kassie kitaorang jang
katanja pendoedoek Djakarta ini, tjeritera Djakarta di masa jang silam, choesoesnja pada periode
1900 sampe 1950, tatkala pada tahon 1950 terseboet, kakoeasaannja pemerentah Hindia Belanda
(Netherlands East Indies) betoelan klaar, sasoedanja Keradjaan Belanda di Amsterdam sono briken
pengakoean kedaoelatan negerij Republik Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949, en kamodian
linjaplah semoea administratie tjiptaan Belanda, moelailah Indonesia berdiri sendiri zonder (tanpa)
madjikan kaoem koelit poetih jang meratap lepasnja negerij "Gordel van Smaragd" (ataoe Zamrud
Khatulistiwa) jang marika doedoeki sedjak tahon 1619, tepatnja di kota Iajacatra (Jayakarta) en
robah nama itoe mendjadi BATAVIA hingga tahon 1942, kamodian nama kota digantiken mendjadi 
Djakarta. Namoen sedari tahon 1942 hingga 1945 terdjadi perang di Asia Timoer Raja, jang bikin
Hindia Belanda moesti menjerah kepada Tentera Dai Nippon (Djepang) dengen tjara memaloeken.

Post-Kaart ataoe Kartoe-Post jang dikoempoelin oleh Pak Scott itoe, djoemblahnja ada sekitaran
460 helai, menggambarken situatie di kota Djakarta tjerminan succesnja kompeni dalem bangoen
negerij koloninja. Gedong pemerentahan, bank, roemahnja Orang Europa jang modern, ziekenhuis
(roemah-sakit), school, technologie telefoon en telegraaf, trem listriek, tempat minoem berselera
tinggi, banjak ditondjolken dalem itoe collectie postcards di djeman doeloe dengen maksoed agar
orang di loear negerij (choesoesnja jang berkoelit poetih) dapet liet dengen kagoem tentang per-
kembangan soeatoe kota jang dibangoen oleh Belanda di wilajah jang djaoe dari negerijnja sono,
di Europa. Kitaorang moestinja patoet bersjoekoer kepada marika jang soeda briken contributie
besar boeat sedjarah kota Djakarta, kerna generatie sekarang bole liet perbandingannja dengen
jang doeloe tatkala pendoedoek kota Djakarta, sebagi tjontoh, pada tahon 1935 banjaknya masih
500 riboe djiwa! bajangken dengen ini hari, soeda lebi dari 10 djoeta djiwa jang idoep di Djakarta.

Bilangan jang pada djeman doeloe amet kesohor ia itoe: Weltereden, jang sekarang di sekitaran
Lapangan Monas dan Lapangan Banteng, kerap ditoelis dalem kartoe-post pada djeman sebelom
perang petjah (Perang Pasifik) pada tahon 1941-1945. Weltevreden itoe bole dibilang meroepa-
ken djantoeng dari kota kolonial Europa, jang dibangoen oleh Orang Europa, dan menondjolken
perspektief Orang Europa akan seboeah kota (jang ideal). Nama Weltevreden (jang maknanja:
Sangat Memoeaskan ataoe Well Contented) kerap moentjoel pada postcards di editie tahoen
1900 sampe 1920, jang ditoelis dengen nama: "Batavia (Weltevreden)" ataoe: "Weltevreden-
Batavia". Walopoen pendoedoek Djakarta pada masa itoe tjoekoep faham bahoea doea nama
itoe (Batavia dan Weltevreden) letaknja di daerah jang berbeda, djikaloe Batavia itoe locatie-
nja di oetara, jang atjapkali diseboet djoega: Benedenstad (ataoe kota bawah), sedangken
Weltevreden diseboet: Bovenstad (ataoe kota atas). Kata Weltevreden diambil dari satoe
roemah di bilangan jang sekarang tanahnja ditempatin oleh RSPAD Gatot Soebroto, doeloe
meroepaken villa mewah poenja Gouverneur-Generaal van der Parra (jang berkoeasa pada
tahon 1761 hingga 1755), dan villa mewah itoe bertahan sampe diantjoerken tahon 1820.

Koeliling tempat-tempat wisata bersedjarah di Djakarta belom afdhal djikaloe belom tahoe
perkara riwajatnja tourisme di Hindia Belanda (termasoek Djakarta). Sebermoela di tahon
1908, precies koetika Bangsa Indonesia njataken tekadnja oentoek "bangkit" dari tjeng-
keram kompeni, mendiriken satoe organisatie jang dinamakan: Boedi Oetomo. Pemeren-
tah Hindia Belanda poenja initiatief boeat madjoeken bidang tourisme marika, bangoen
satoe perhimpoenan pariwisata jang dinamaken Vereeniging Touristen Verkeer Batavia.

Itoe perhimpoenan sebar banjak alat promotie ke berbagi belahan doenija, seperti itoe
boekoe pandoean koeliling Java (Jawa), kamodian Bali, Sumatra, Borneo (Kalimantan),
Celebes (Sulawesi) en Molukken (Maluku). Salah satoe media oentoek promotie ja lah:
Postcards. Diharapken tourist dari Europa, Amerika, Australie, berdatangan ke wilajah
Hindia Belanda, jang sebelom masoep ke abad ke-20 masih dibatesin, kerna pemeren-
tah chawatier akan keamanan pelantjong, namoen sasoeda berbagi tempat soeda di-
taklokken oleh Tentera Belanda (jang paling achir Atjeh, di tahon 1904), maka marika
moelai adaken soeatoe oepaja mendatangken tourist oentoek nikmati eksotisme jang
terdapat di Hindia Belanda. Kantoor VTV jang doeloenja mendjadi voorlopor (pelopor)
pariwisata modern di Indonesia, nampaknja tida dapet diliet lagi, kerna soeda antjoer
dan pernahnja di lingkoengan jang sekarang mendjadi halaman Istana Kepresidenan.
Kitaorang nantinja liwatin depannja bekas locatienja itoe kantoor, dengen Bus AC.

VTV di dalem bekerdja oentoek kembangken pariwisata di Hindia Belanda, lakoeken
kerja sama dengan berbagai fihak, salah satoenja adalah Staatsspoorwegen (ataoe
djawatan kereta api, jang sekarang dilandjoetken oleh PT.KAI). Para pelantong di-
saranken oentoek naek spoor koeliling Java, soepaija bole liet pemandangan natuur
jang prima dan aduhaaaaiii, oetamanja di djaloer Batavia - Preanger (ke Bandoeng).
Bahkan marika sijapken kereta api tjepet, jang bernama: Vlugge Vier (empat tjepet)
ataoe empat formatie kereta api dalem satoe hari, moelai dari Station Tandjong Priok
ke Station Bandoeng via Station Tjikampek jang katanja, dapet ditjapai dalem tempo
2 tiga perempat djam sadja, 2 djam 45 minuten (lho, sekarang djoega segitoe toch?)
Moda transportatie spoor, nampaknja berperan penting bagi golongan moeda baroe,
ataoe neo-prijaji matjam para founding fathers kita. Bung Karno, Bung Hatta, Bung 
Sjahrir, Buya Hamka, Mohammad Yamin, dan laen sebageinja. Marika itoe vakantie
(pakansi) ataoe traveling naek kereta api en liet pemandangan alam nan indah dari
balik katja djendela spoor, maka marika poenja gambaran jang djelas perihal Tanah
Air, jang selama ini tjoema bisa diliet dari ilustratie boekoe peladjaran sekolah jang
marika dapetken tatkala beladjar di klas, dan jang menarik adalah soember gambar
dan foto terseboet diambil dari brochures, postcards dan reclame jang diterbitken
oleh VTV jang dapet dipake sebagi alat bantoe di sekolah-sekolah boemipoetra !!!

Tatkala pakansi naek spoor (jang boekan ditoedjoeken kepada kaoem boemipoetra
itoe target pasarnja), para founding father itoe temoeken "ke-Indonesia-an-nja",
dan djiwa nasionalis marika timboel lebi njata lagi kesadaran marika akan indah-
nja Tanah Air jang didjalankan oleh pemerentah kompeni, semangkin memboeat
marika radjin menoelis tjatetan perdjalanan dan setjara tida langsoeng tersiar
loeas kepada rekan sedjawatnja. Ach, moengkin saperti djeman sekarang, lebi
tepatnja di awal tahoen 2000-an, koetika djaringan internet semangkin okee,
orang-orang pada menoelis tentang pengalaman plesiran-nja di soerat listriek
(email), mailing-list, friendster, multiply, facebook, twitter, dan aplikasi laennja,
sehingga ketjintaan generatie moeda terhadap ini negerij tambah besar, dengan
samperin locatie toedjoean wisata oenggoelan di berbagi tempat di Indonesia dan
kamodian berbagi di ranah doenija maja itoe, jang dibatja oleh banjak temennja :)

Tjeritera tentang spoor, bikin kitaorang djadi kapingin bezoekin stationnja jang ada
di bilangan Djakarta, jang bole dibilang meroepaken saksi-bisoe pariwisata Indonesia
di masa jang laloe. Kitaorang nantinja akan masoep en liet-liet bagian dalem deripada
Station Tandjong Priok sebagi tempat tourist djeman doeloe biasanja singgah oentoek
landjoetken perdjalanannja toedjoean poesat kota Batavia (di Benedenstad ataoe ke
Bovenstad) via Station Benedenstad (sekarang bernama Stasiun Jakartakota, bekend
dengen seboetan BEOS, dateng dari singkatan dari BOS = Bataviasche Ooster Spoor-
weg) bahkan ke Bandoeng ataoe Buitenzorg (Bogor). Dari bilangan Priok landjoet ke
Pelaboehan Soenda Calapa en Kota Toea Djakarta, en samperin satoe meriam jang
amet kondang sedjak djeman rikiplik (eh ini artinya apa yah rikiplik itu?) ia itoelah:
Meriam si Djagur, jang sekarang positienja ada di halaman dalem Museum Sejarah
Jakarta (ataoe lebi dikenal dengen nama: Museum Fatahillah), kamodian mentjari
tahoe dimana letak rel en Station Batavia Noord (sekarang soedah dibongkar, jek)
poela Station Batavia Zuid (eh iya Noord artinja Oetara dan Zuid itoe Selatan yah)
Abis itoe kitaorang djalan kaki ke Station BEOS oentoek dengerin pendjelasan ten-
tang Meneer Ir.F.J.L.Ghijsels, jang bangoenin itoe station pada tahon 1926-1929.

Bilangan Oud Batavia poenja banjak tempat interessant (interesting) poenja jang
oemoernja sangat toea. Stadhuis ataoe gedong balai kota jang sekarang didjadi-
ken Museum Sejarah Jakarta menjimpen banjak tjeritera jang tida kala seroenja.
Ada Meriam si Djagur jang terseboet di atas, doeloe dianggep oleh warga Be-
tawi sebagi barang poedjaan nan soetji, banjak orang jang pertjaja tachajoel,
bahoea dengen berdo'a dan briken sesadjen, menjan, kembang, toempengan,
ajam, maka diaorang akan dibriken kesoeboeran dan lekas dapet ketoeroenan.
Pemerentah kota Batavia kerap pindahken itoe meriam berpindah-pindah, jang
awalnja berada di sekitar Passer Ikan, lantas diambil dan disemboenjikan dalem
goedang di Gedong Djodoh (Museum Gajah), diperlakoeken sebagimana barang
biasa, diindjek, dilangkahi, zonder mengakibatkan apa-apa oleh pelakoenja itoe.
Rentjana si Djagur disekap di Gedong Djodoh itoe sampe pengikoet-pengikoetnja
loepa, kamodian dipertoendjoekkan kombali di Djalan Pintoe Besar Oetara no.27.

Klaar samperin Oud Batavia, kitaorang akan liwatin daerah Glodok, Lindeteves,
Kanaal Molenvliet en Harmonie, disini tjoema melintasi sadja pake bus, tida ada
jang toeroen, abis itoe melintasi Jl.Juanda (doeloenja Noordwijstraat) en djoega
Jl.Veteran (Rijswijstraat), dimana pada masa voordeoorlog (sebelom perang) ada
meroepaken kawasan elite, banjak toko jang djoeal barang import bagoes di sini,
tetapi sekarang nampaknja soeda linjap semoea dan daerah ini mendjadi garing!
Maskipoen demikian, kitaorang soegoehken gambar fotonja di sepandjang djalan
itoe, dan jang paling penting adalah locatie precies dimana toko penerbit kartoe
post di djeman doeloe berada. Pada masa keemasan postcards, ada 4 postcard
publisher di Batavia, ia itoe: F.B.Smits, G.Kolff & Co., Visser & Co., dan Tio Tek
Hong, namoen sajangnja dari semoea toko itoe, tida satoepoen dari bangoenan-
nja jang tersisa, sekarang soeda berganti dengen bangoenan baroe jang modern.

Di oedjoeng Jl.Veteran I, kitaorang temoeken 1 hotel paling toea di Djakarta, jang
functienja masih sebagi hotel dari djeman doeloe hingga hari ini, walopoen bagian
depannja soeda dirobah totaal, dan pastinja bagian dalemnja djoega, tetapi itoe
hotel bole dibilang tetep operatie sedjak tahon 1870an, moelanja bernama Hotel
du Lion d'Or, sempet berganti Park Hotel, Hotel Centraal, hari ini: Hotel Sriwijaya.

Pada masa djajanja, Djakarta poenja 3 hotel oenggoelan, diantaranja: Hotel des
Indes jang locatie sekarang dipake oleh Duta Merlin, Grand Java Hotel di deket Jl.
Veteran dan Hotel der Nederlanden jang locatie preciesnja sekarang di Bina Graha.
Hotel-hotel legendaris jang menawan dan terkenal itoe sekarang soeda tida ada,
dan jang menarik adalah, satoe hotel di podjokan Harmonie, jang di hari ini masih
berdiri tegak, namanja Hotel des Galeries dibangoen tahon 1930, tapi nampaknja
itoe hotel senantiasa djadi bajang-bajang hotel megah di sebrang djalannja dari
awal hingga achir. Hotel des Indes jang berhadepan dengen Hotel des Galeries,
bole dibilang pada temponja adalah hotel paling baek di Djakarta, sebelomnja di-
kalahkan oleh hotel baroe: Hotel Indonesia (HI) pada awal tahon 1960-an *sigh*

Sepandjang Jl.Veteran dapet ditemoeken banjak bangoenan toea penting laennja,
satoe jang tersisa tjoema: Rijswijk Paleis (jang sekarang bernama Istana Negara).
Doeloe, Kantoor VTV pernahnja di deket sini, ataoe lebi preciesnja di: Gang Pool,
djikaloe kitaorang perhatiken lebi terliti, itoe gang (djalan ketjil) sepertinja masih
ada, tjoema dalem kawasan tertoetoep (yah iyalah ...di dalem lingkungan istana
gitu!) dan seblahnja ada bekas locatie roemah-bola ataoe Sociteit der Harmonie,
satoe gedong landmark kota Djakarta tempo doeloe jang diantjoerin tahon 1985!

Lepas dari daerah Noordwijkstraat, Rijswijkstraat, bus akan meladjoe liwatin itoe
bilangan Koningsplein (lapangan radja), jang sekarang mendjadi Lapangan Monas,
laloe perdjalanan melintasi Wilhelmina Park (kawasan Mesjid Istiqlal) dan toeroen
di Passer Baroe oentoek tjari tahoe sedjarah passer golongan atas pada djeman
indahnja masa sebelom perang. Banjak sinjo en noni Belande jang berbelandja di
Passer Baroe itoe. Berbagi matjem toko fashion hadlir di bilangan itoe. Toko Tio
Tek Hong poen ada di sini, namoen dari ketiga roemahnja, semoea soeda brobah
bentoeknja, sebab-sebab Tio Tek Hong alamken bangkroet sesoedahnja dilarang
berdjoealan sendjata api (oentoek berboeroe heiwan) oleh pemerentahan Hindia
Belanda, kerna negerij itoe sedang persiapken kedatangan Tentera Djepang dan
barang dagangan Tio Tek Hong bole dibilang tjoekoep berbahaja boeat conditie
jang amet mentjekam pada tahon dimana datengnya Djepang semangkin dekat.
Oh jah, selaen berdjoealan postcards Tio Tek Hong djoega berdagang itoe alat
sport (olahraga) dan sendjata api, kerna diapoenja hobby berboeroe binatang.

Ada hal jang uniek dengen Tio Tek Hong ini, Ia adalah orang jang pertama kali
terapkan system banderol
pada barang dagangannja. Alesan jang di-oetjapken
olehnja adalah soepaija tida
boeang banjak waktoe dalem tawan-menawar (yah,
di bukunya ditulis tawan-menawar bukan tawar-menawar, what a bahasa jadul!) 
en orang tida oesah
chawatir akan membeli terlaloe mahal, marika bakal pembeli
dapet liet harganja
dan tida oesah bertanja-tanja lagi, hingga moedah membeli.

Kitaorang akan samperin bekas roemahnja, tetapi sekarang soeda djadi miliknja
orang laen, tepatnja Resto Tropic. Sembari dengerin tjeriteranja, nanti semoea
akan disoegoehin hindangan ijs cream (es krim) Tropic, jang rasahnja wuenaak!
Pendjelasan tentang roemah itoe ada poela di boekoe memoarnjanja, jang ter-
toelis: "Ketika saja berusia 6 tahun (1893), orang tua saja telah pindah ke se-
buah rumah lain (rumah no.28) jang kemudian didjual dan dipakai oleh Tropic
Restaurant". Abis itoe landjoet ke destinatie paling achir: Gedong Depkeu RI.

Gedong Depkeu boekanlah Istana Daendels. Memang itoe betoel Gouveneur-
Generaal Herman Willem Daendels poenja idee oentoek bikin kota baroe pada
bagian selatan Batavia, jang tatkala diaorang tiba di itoe kota, kasihatan en
penjakit jang bertjaboel (berjangkit) soeda sedemikan tinggi. Maka dari itoe,
Daendels kapengen bentoek satoe poesat pemerentahan baroe di soewatoe
tempat jang baek, oedara lebi bersih dan tentrem. Ia poetoesken antjoerin
bangoenan toea di Oud Batavia (sekitar Kota Tua Jakarta sekarang), poela
tembok kota jang koelilingin poesat pemerentahan di kawasan Oud Batavia
(Old Batavia), laloe materiaal bangoenannya dipake oentoek membangoen
kota baroe, jang dinamaken: Weltevreden itoe. Gedong jang sekarang di-
pake oleh Departemen Keuangan RI, tida pernah ditempati oleh Daendels
hingga diaorang poelang ke Belanda pada tahon 1811, en itoe gedongnja
poen baroe klaar pada tahon 1828. Banjak nama jang digoenakan oentoek
menjeboet itoe gedong, ada: Daendels Paleis (Istana Daendels), ada jang
Groote Huis (roemah/gedong besar), Witte Huis (roemah/gedong poetih),
namoen jang officieel dalem arsip kompeni biasanja ditoelisken: "Paleis te
Weltevreden" (Istana Weltevreden), "Gouvernementshuis te Weltevreden"
(roemah/gedong pemerentah Weltevreden). Soenggoe menarik documents
itoe, sehingga kitaorang sekarang djadi djadi mendoesin (tersadar) bahoea 
asumtie jang beredar selama ini adalah Istana Daendels itoe keliroe adanja.

Soepaija lebi asoy dengerin riwajat sedjarah deripada gedong  poetih besar
itoe, nantinja kitaorang bakal masoep ke lorong di dalem itoe gedong. Ada
hal jang mengheirankan di dalem itoe gedong, rasanja sedjoek bageikan di
Poentjak padahal itoe gedong zonder (tanpa) AC. Djawabannja ada pada
architectuur langgam Gedong Indies, dimana oedara terasa tetep dingin,
walopoen berada di dalem gedong jang poenja iklim tropisch jang panas.
Masoep ke dalem dan naek tangga oetamanja, bakalan bikin kitaorang
jang djarang olahraga akan sedikit kewalahan kerna tangganja sedikit
tjoeram, tetapi koetika tiba di lorongnja bakalan terkagoem-kagoem
akan kaindahan structure gedong, apalagi pas keloear dari gedong
itoe, disoegoehken minoeman dingin jang bikin seger rerongkongan!

Programma PLESIRAN TEMPO DOELOE jang ke-100 pada hari Minggoe
ini adalah combinatie antara naek Bus AC en berdjalan kaki di sekitar
bangoenan bersedjarah Djakarta, tetapi djangan chawatir, kitaorang
soeda sijapken itoe atjara berlangsoeng njaman dan aman sentausa.
Tjotjok boeat seloeroeh anggauta keloearga (addduuuuhh baca kata
anggauta jadi inget naik PPD tahun 80an, yang di body bus-nya ada
tulisan: Dilarang Mengeluarkan Anggauta Badan, hiyyyyaah so 80's!)

So, toenggoe apalagi ?!! Lekas, Sigra daftarken diri toean dan njonjah sekalian sekarang djoega
ke email: adep@cbn.net.id  atawa hoeboengi telefoon-tangan di nummer: 0818 94 96 82 (nomer
urut peserta akan diberikan setelah mendaftar, sehingga nantinya ditransfer uang sesuai dengan
nomer urut) dapat ditransfer setelah mendaftar, doeit bisa ditransfer ke Bank BCA: 2371425693
BCA cab Pondok Indah
atas nama ADE HARDIKA PURNAMA toeloeng dikonfirmasikan segera via
sms ke 0818 94 96 82 atau via email yang seperti biasa, discan aja, lalu kirim ke adep@cbn.net.id
(doeit jang soeda ditransfer tida dapet dikembalikan, tetapi bisa dioper kepada orang laen/teman)

Sekarang juga bisa ditransfer ke rekening MANDIRI: 101.000.44.34.088: ADE HARDIKA PURNAMA
dan juga ke rekening BNI 46, yaitu dgn no.rek: 0148445465 atas nama: ADE HARDIKA PURNAMA
(oh iya kedua bank itu cabang Pondok Indah juga yah, yuk mari dikirim segera, makasih yah, yah)

Tjara membajarnja/transfer, misalnja: Onky Alexander ada di nomer urut 18 maka Onky transfernja
= Rp.150.018 (kalo di mesin ATM ketiknya Rp.150018 <<<<<< angka 18 di belakang mengacu ke no.
urut) djadi ntar bajarnja boekan Rp.150.000 sadja, tetapi ditambah Rp.18 sebagi nomer urut. okeh
bener yah kayak gitu, trims. oh iya kalo soeda mentransfer dan soeda pake no.urut, kabari yaaw!
Kalo mendaftar lebih dari 1 orang dan pengen transfer sekaligus, yang misalnya contoh kayak gini:

18. Onky Alexander
19. Meriam Bellina
20. Btari Karlinda

Transfernya bisa sekaligus = Rp.450.018 (mengacu ke no.urut paling duluan), jadi no.urutnya jangan
dijumlahin jadi 1 yah (18 + 19 + 20 = 57 = Rp.450.057), JANGAN, JANGAN, JANGAN. karena nantinya
malahan bikin bingung, dan udah gitu kan no.urut 57 udah ada yang punya, orang laen, gitu ganti :)
Tetapi kalo mau transfer satu-satu juga boleh, ketik aja Rp.150.018, Rp.150.019 dan Rp.150.020, or
misalnya temen/keluarga mau daftar lagi, dan mendapatkan no.urut yang jauh dari rombongan Anda
(misalnya dapet no.urut: 178), maka nanti kalo mau mentransfer sekaligus, tolong disebutin aja yah
bahwa (misalnya transfer untuk 4 orang sekaligus), duit yang Rp.600.018 itu untuk no.urut: 18, 19,
20 dan 178. Nah, tjoekoep faham kan? semoga toean dan njonja bisa bikin kitaorang gak bingung :)

djangan loepa bawa pajoeng, andoek ketjil ataoe apalah, inget Djakarta panas! djikalaoe nanti pada
tempohnja hoedjan ada toeroen, kitaorang aken moelain ini plesiran sasoedanja itoe hoedjan brenti. 
zo, plesiran tetep dilaksanaken, dan catat: Plesiran Tempo Doeloe tak akan berganti hari/tanggal :)

Memoedjiken dengen hormat,
Ade Purnama (Adep)
SAHABAT MUSEUM
Jakarta-Indonesia
P: 0818 94 96 82
0812 84 27 27 36
Pin BB: 23975CBC
Email: adep@cbn.net.id
Facebook: Ade Purnama
Twitter: @sahabatmuseum
www.sahabatmuseum.com

(beberapa sumber sejarah, dikutip dari buku karya:
Scott Merrillees, berjudul: "Greetings from Jakarta,
Postcards of a Capital 1900-1950"; buku Achmad
Sunjayadi, berjudul:
"Vereeniging Touristen Verkeer
Batavia (1908-1942) Awal Turisme Modern di Hindia
Belanda"; buku memoar Tio Tek Hong, yang berjudul:
"Kenang-kenangan. Riwajat-hidup Saja dan Keadaan
di Djakarta dari Tahun 1882 sampai sekarang"; buku
PDA, yg
berjudul: "The White House of Wetevreden";
buku R.O.
Simatupang, berjudul: "Pedoman Tamasja
Djakarta
dan Sekitarnja", buku Official Tourist Bereau
Weltevreden (Kantoor VTV), berjudul: "Come to Java";
makalah
Mona Lohanda, berjudul: "Paleis te Weltevreden
itu
Ternyata Bukan Istana". buku katalog tentang lukisan
"Johannes Rach 1720-1783, Seniman di Indonesia & Asia"
Perpustakaan Nasional RI ]dan Rijksmuseum Amsterdam.  


Susunan Acara PLESIRAN TEMPO DOELOE:
Postcards from Netherlands East Indies
Minggu, 29 April 2012 – 07.30 – 16.30 !

07.00 - 08.00: Kumpul Parkir Timur Senayan
08.00 - 08.45: Berangkat ke St.Tandjong Priok
08.45 - 09.30: Keliling Station Tandjong Priok
09.30 - 10.00: Berangkat ke Pel.Sunda Kelapa
10.00 - 10.30: Keliling Pelabuhan Sunda Kelapa
10.30 - 11.00: Berangkat ke Batavia Benedenstad
11.00 - 12.00: Keliling Batavia Benedenstad (Noord)
12.00 - 13.00: Makan Siang di Sekitar Jakarta Kota
13.00 - 13.45: Berangkat ke Weltevreden (Ps.Baru)
13.45 - 14.15: Keliling Passer Baroe (Tio Tek Hong)
14.15 - 14.30: Berangkat ke Lapangan Banteng
14.30 - 15.30: Keliling Gd.Departemen Keuangan
15.30 - 16.30: Berangkat ke Parkir Timur Senayan


Attachment(s) from Ade Purnama

1 of 1 Photo(s)


__._,_.___


Ingin bergabung? Kirim email kosong ke: tourismindonesia-subscribe@yahoogroups.com

Klik:

http://tourismindonesia.blogspot.com




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: