3.1.13

[tourismindonesia] PINTONG: Max Havelaar, Sabtu 5 Januari 2013



PINTONG singkatan dari Pindah Tongkrongan.
Merupakan program santai dari Sahabat Museum,
bisa kemana aja, tak harus ke tempat bersejarah.
biasanya diadakan secara mendadak, suka-suka
aja kapan mau digelar, bisa pas mau nonton film
bareng di bioskop ato cuma pengen makan enak.
pokoknya kemana aja deh, terserah penonton :)

Nah ini bulan Januari ini, di awal permulaan tahun,
mari kita saksikan film yang telah lama melegenda,
dan lumayan sulit ditonton, karena sejak pertama
kali beredar di Indonesia sudah dicekal oleh Orde
Baru, malahan mau dibuat "edited & cut version"
namun (katanya) gak jadi, dan akhirnya beredar
juga 11 tahun kemudian (film produksi thn 1976,
dan tayang di Indonesia thn 1987), ketika masa
kontroversialnya sudah lewat. Ah, lama panjang
juga yah penjelasan intronya, mendingan ikutan:

PINTONG: Nonton Bareng
Max Havelaar

Sabtu, 5 Januari 2013
(malem mingguan nich!)
Jam: 17.30 - 21.30 WIB
di Museum (Bank) Mandiri
(di aula belakang, indoor)
(Perhatikan jadwal acara
di bagian paling bawah!)

Datanglah, Zonder Betalen,
alias GHHHRRAAATTTTIIS :)

--------------------------------------------------------------------

Dan di Minggu depannya, tgl 13 Januari 2013, kita akan samperin lokasi
tempat peristiwa itu terjadi pada tahun 1856. Situs-situs bersejarahnya
sebagian masih ada, Rumah Regent (Bupati) Lebak, Makam Bupati Lebak,
Rumah Max Havelaar (kata orang), dan Jl.Multatuli (nama jalan baru, dan
bukan dari djaman doeloe, untuk mengenang riwayat Multatuli di
Rangkas-
bitung, Lebak). Itu jalan kita bisa berfoto di depan (bawahnya) itu papan
(plang) nama jalan, niscaya Bapak-Ibu bakalan seneng udah foto di suatu
jalan yg mempunyai nilai sejarah yang tinggi. Nah karena dari novel inilah,
kolonialisasi yang buruk akhirnya "diselesaikan" walaupun gak selesai juga
sampe akhirnya selesai ketika Tentara Jepang menyelesaikannya pada tgl
8
Maret 1942, kemudian Indonesia Merdeka tahun 1945 !!! Selesai sudah.

--------------------------------------------------------------------
 
Max Havelaar, tokoh rekaan Multatuli (nama samarannya Douwes Dekker)
adalah sosok Belanda yang baik dan membela kaum pribumi (boleh dibilang
ini adalah alter ego-nya Douwes Dekker). Kegeramannya atas perilaku para
petinggi kompeni bersama centengnya, sudah bikin hati nurani Max Havelaar
terusik. Ia membela kaum yang tertindas, diperlakukan semena-mena seenak
hati oleh penguasa negeri. Ketika Max Havelaar bertugas di Menado, ia begitu
diharapkan masyarakat yang ingin menuntut keadilan dan mengadu kepadanya.
Mungkin Max merupakan oase di tengah-tengah kekalutan pada masa itu, dan
harapan rakyat kecil di jaman itu, mungkin sama persis dengan harapan Warga
Jakarta saat ini akan hadirnya Jokowi yang dipercaya akan memberikan peruba-
han nasib (pada kota Jakarta yang udah parah akut). Kurang lebihnya demikian.
 
Pada suatu hari Max dipromosikan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk
ditempatkan di Java (Jawa). Kabar itu langsung disambut dengan gembira oleh
istrinya. Namun ketika ditanyakan lebih detil dimana Jawa-nya, Max sambil ter-
senyum berkata "Lebak". Sang istri langsung shock, karena Lebak merupakan
daerah yang gersang. Kenapa gersang dan tidak menarik? Kita akan saksikan
itu semua di film bersejarah ini. Lebak yang ijo royo-royo, sawah yang subur
tapi tidak membuat rakyatnya makmur. Ternyata Regent (Bupati) di Lebak ini
(menurut novel dan filmnya) begitu korup dan berkuasa absolut. Rakyat Lebak
tak ada yang berani melawan, membantah, mencegah ketika kerbaunya mesti
diambil paksa oleh Demang untuk diberikan kepada Bupati. Para pria pun tidak
bisa bekerja di sawah karena mesti "turut membantu" sang Bupati membersih-
kan perkarangan rumahnya dan juga kegiatan Bupati lainnya dengan "sukarela"
 
Upaya Max untuk menegakkan keadilan bagi rakyat pribumi itu, didukung oleh
Gubernur Jenderal, yg mengatakan pada Max: "It's not right that Europe gets
the profit and the natives nothing". "They are people like us". "With the same
abilities and the same destination". "We are not the only ones to blame. "Their
own regents are guilty too". Duuuuhh gimana kelanjutan dari ucapan Gubernur
Jenderal ini? Kita ikutin saja alur filmnya, hingga akhirnya Max.. titik... titik...
(gak boleh dilanjutin lagi yah bocorannya, cukup di sini aja sinopsisnya yah)
(Bapak-Ibu akan menyaksikannya sendiri, apakah cita-cita Max berhasil dan
berjalan lancar, atau terjegal oleh si ini itu atau aturan begini begitu. Entah)
 
Kembali ke soal Jokowi, Max Havelaar pun blusukan ke kampung-kampung dan
melihat langsung segala problema yang terjadi dalam masyarakat yang wilayah-
nya Ia urusin, walaupun ada pemimpin lokal (Bupati/Regent), tapi Max sebagai
Assistent-Resident turut berperan dalam menyejahterahkan rakyatnya, dan itu
sampe harus "menggaji" Bupati pake uang sendiri, karena Ia fikir kalo Bupati itu
dapet duit banyak, maka dia gak akan menyengsarakan rakyatnya dan duitnya
masyarakat gak diambil. Ah, Max Havelaar sudah lama berfikir kalo pejabat di-
gaji gede maka gak akan "main duit" lagi dan fokus bekerja. Namun Max keliru.
 
Max Havelaar menjabat sebagai Assistent-Resident (katanya doeloe Kepatihan)
dan Resident (ah apa pulak ini? tolong dibantu jawab yah) bermukim di Serang.
Kalo Regent adalah Bupati, yang pada waktu itu dijabat oleh Raden Toemeng-
goeng Adipati Kartanata Nagara, dan nanti PTD: Multatuli di Lebak tgl 13 Jan
mendatang kita juga akan mengunjungi makamnya, yang terletak dekat dgn
rumahnya di sekitaran sini-sini juga. Jadi Bapak-Ibu pada mau ikut ke Lebak?
 
--------------------------------------------------------------------

(Semua peserta yang kepengen nonton DIWAJIBKAN mendaftar lewat
email adep@cbn.net.id = adep at cbn dot net dot id, jika tidak, kagak
bakalan diperbolehkan masuk Museum Mandiri. Maap, verboden Tuan!)
(please kirim email dulu sebelomnya, ntar dibales kok, untuk dapatkan
nomer urut keikutsertaan, biar semua nama tercatat dan terdata rapi)

(Makanan Ringan, Minuman Panas & Dingin, Pop-Mie tersedia di lokasi
layar tancep, dengan harga yang tidak mencekik leher seperti yg ada
di "Bioskop-Bioskop Kesayangan Anda". Semua harga di bawah ceban)

(Disarankan bawa alas buat duduk, apakah itu koran bekas, tiker atau
apa aja biar celana gak kotor, lalu bawa autan juga kalo perlu, senter
jangan lupa dibawa karena ntar pan gelap gitu pas nonton, biar kagak
kesandung atau keselengkat orang laen, duh bahasa gue betawi bgt!)

--------------------------------------------------------------------

(oh iya letak Museum (Bank) Mandiri ini: kalo naik busway, pas di halte
paling ujung, yaitu Halte Stasiun Kota, pas keluar dari haltenya nih, lgs
nyebrang ke kiri jalan aja, (lewat bawah tanah yah) kalo ke kanan khan
ke Stasiun Jakarta Kota,
pokoknya keliatan kok gedungnya gede banget
dan di situ juga ada
plang yang bertuliskan Museum Mandiri (gede juga)

Parkir motor bisa di halaman dalam Museum Mandiri, kalo dari arah Glodok/
Jl.Pintu Besar Selatan, pas di lampu merah (kalo ke kanan ke arah Mangga
Dua). Ambil belok kiri aja, lurus sampe ktemu puter balik di bawah fly-over,
lakukan puter balik, lalu lurus aja ke arah menuju timur (Stasiun Kota) nanti
ketemu pintu masuk ke Museum (Bank) Mandiri yang di bagian belakangnya,
minta tolong saja sama satpam sini untuk masuk ke dalem parkiran museum.

Parkir mobilnya, ada baiknya liwat depan aja, atau di
Museum Fatahillah sono,
atau di parkiran Bank BNI aja (Parkiran Bank BNI deket Beos, foto lokasi parkir
akan dikirim via email bagi yg mau aja) yg sebelah utara Stasiun Jakartakota.
Areal parkirnya lumayan luas, terbuka 24 jam, ada Satpam yang jagain juga.
Dari parkiran ini tinggal jalan kaki nyebrang ke Museum (Bank)
Mandiri, boleh
lewat bawah tanah (yg terletak di bagian selatan Stasiun Jakartakota), juga
bisa nyebrang biasa lewat
depan Bank Mandiri (di bagian utara Halte Busway).

Cara mencapai parkiran ini: kalo dari arah utara, setelah muter di daerah Jakarta
Kota sono, sebelumnya sampe di Stasiun JakartaKota, ada parkiran di sebelah kiri-
nya jalan, tepatnya setelah Gedung BNI yang besar itu di Jl.Lada yang lewatin be-
lakang Museum Keramik. Gampang kok nyarinya, melipir di kiri jalan aja setelah le-
watin Museum Seni Rupa & Keramik ini. Nanti ketemu ATM BNI, pagernya abis ini.

Sekian dulu pemberitahuan nonton bareng ini, jikalau ada temen, keluarga, kecengan,
gebetan, cem-cem-an yang mau diajak, silahkan aja didaftarin lewat email ini, eh kalo
bisa Jumat malem ini yakh terakhir pada daftarnya, karena kalo Sabtu khawatir panitia
udah pada rempong utk menyiapkan acaranya. Ditoenggoe Kehadiran Para Tetamoe :)
 

Memoedjiken dengen hormat,
Ade Purnama (Adep)
SAHABAT MUSEUM
Jakarta-Indonesia
M: 0818 94 96 82
0812 84 27 27 36
Pin BB: 23975CBC
YM id: bang_adep
Email/FB: adep@cbn.net.id
Twitter: @sahabatmuseum
www.sahabatmuseum.org

--------------------------------------------------------------------

Susunan Acara: Nonton Bareng "Max Havelaar"
17.30 - 18.00: Pendaftaran Ulang di Museum Mandiri
18.00 - 18.15: Break Sholat Maghrib (ada Mushola)
18.15 - 18.30: Pendaftar yang sudah masuk kuota*
boleh masuk aula, yg Waiting List liet kapasitasnya
terlebih dahulu, kalo masih ada space kosong (jika
ada yg cancel) maka yg di Waiting List bisa masuk)
18.30 - 18.45: Sambutan, Sambutan & Sambutan
18.45 - 21.30: Nonton Bareng film "Max Havelaar"
21.30 - 22.00: Klaar, pada pulang dah semua :)

*kuota bisa 250 - 300 orang, duduk lesehan selama 
  2 jam 45 menit (kali-kali aja bisa sekalian slonjoran)



__._,_.___


Ingin bergabung? Kirim email kosong ke: tourismindonesia-subscribe@yahoogroups.com

Klik:

http://tourismindonesia.blogspot.com




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: