27.9.14

[tourismindonesia] PLESIRAN TEMPO DOELOE: Kereta Api Penjelamat Republik, Minggu 28 September 2014



PLESIRAN TEMPO DOELOE: Riwayat Kereta Api di TMII

Kumpul di Museum Transportasi Taman Mini Indonesia Indah
Minggoe, 28 September djam poekoel 07.30 pagi hari

Rp.0/orang, belum termasuk:
(tiket Pintu Gerbang Utama TMII)

(tiket Museum Transportasi TMII)

(Biaya Pintu Gerbang Rp.10.000/orang utk Anak & Dewasa)
(Biaya Masuk Kendaraan: Motor Rp.6.000, Mobil Rp.10.000)

(Museum Transportasi TMII memiliki koleksi yg bernilai sejarah

tinggi, yaitu Gerbong Kereta Api yg digunakan oleh Bung Karno, 

Bung Hatta dan para Menteri Kabinet RI utk menyelamatkan diri

hijrah ke Djocjakarta pada tgl 3 Januari 1946 ketika keadaannja
Djakarta dirasa semangkin genting, tak aman, amat berbahaya).

(perihal peristiwa itu akan ditjeriterakan dengan total oleh KAB/

Kereta Anak Bangsa, sobatnja sahaBATMUSeum jang baek hati,

dan nantinya kita diizinkan untuk masuk ke Gerbong Kereta Api

bersejarah itu, dibukakan seluruh gerbong dan kamar-kamarnya.

Sesuatu pengalaman yang jarang dimiliki segenap masyarakat :)


(silahkan kirim email kepada kami sebelomnya, untuk konfirmasi
keikutsertaan pada acara kelilingin Museum Transportasi nanti,
alamat emailnya: adep@cbn.net.id adep at cbn dot net dot id)



Djakarta chaos, tijap hari terdengar rentetan boenji tembakan dan chabar orang tewas

di sepandjang djalan, majit mengambang di sungai, bau anjir badan jang membusuk ter-

tjium di seantero kota. Laskar-laskar dan BKR (Badan Keamanan Rakjat) bertempur me-

lawan Tentara NICA jang suda membontjeng Sekutu tatkala turun dari kapal perang di

Pelabuhan Tandjung Priok. Republik Indonesia terapkan Djam Malam. Keadahaan sema-

kin tida tentrem. Sedjumblah pemimpin bangsa ditembakin mobilnja, kutika sedang ber-

pegian kuliling kota, roema Presiden diteror dan ditembakin oleh Tentara NICA, hingga

achirnja diputusken untuk pindahken Pemerintahan Republik Indonesia selekasnja naik

spoor (kereta api), tudjuan kota jang dianggep aman djuga mendukung kedaulatan RI.

Ikutin programma SAHABAT MUSEUM jang djarang-djarang ada ini, dengan thema jang
bagus dan tida banjak orang jang tahu perihal riwajat kronologis kedjadian sebenernja: 

PLESIRAN TEMPO DOELOE: Kereta Api Penjelamat
Republik
Minggoe, 28 September 2014 dari djam poekoel 07.30 sampe 10.30-an

Sekutu sebagei pemenang Perang Dunia II di wilajah Pasifik, dateng kembali ke negara

jang baru sadja merdeka, Indonesia. Tudjuan marika untuk melutjuti Tentara Djepang,

dan membebaskan para tawanan Europa/Belanda di kamp interniran di banjak tempat

di Pulau Djawa, Sumatra, dan locatie laennja. Status quo diberlakukan. Fihak Djepang

jang kalah perang diminta untuk mendjaga status itu hingga Tentara Sekutu sampe di

negeri bekas Hindia Belanda. Bulan September 1945 adalah moment mulainja kekatjau-

an di Djakarta. Ada 4 kubu jang merasa menguasai conditie tempo itu, jakni: Republik

Indonesia, Djepang, Sekutu dengan AFNEI-nja (Allied Forces Netherland East Indies),

dan NICA (Netherlands-Indies Civil Administration, atau "Pemerintahan Sipil Hindia Be-

landa) jang tjoba tandjepken pengaruhnja dan berhasrat merebut kembali negera me-

reka -jang dulunja bernama Hindia Belanda, negeri Belanda di tropis jang indah permai.

Belanda anggep koloninja masih ada, maka dari itu pasukan dikerahkan untuk merebut

Pending Zamrud Khatulistiwa (Gordel van Smaragd). Belanda sudah melakukan perjan-

jian dengan Inggris, jang dikenal dengan Civil Affairs Agreement, ditandatangani pada

tanggal 24 Agustus 1945. Perdjandjian itu menjebutkan pengakuan kedaulatan Belan-

dan jang tida boleh disentuh oleh tentara pendudukan (Sekutu) lalu NICA akan melak-

sanakan urusan administrasi pemerintahan sipil, dan seluruhnja diawasi oleh Panglima

Besar Sekutu, Djenderal MacArthur. Disebutkan pula, setelah Sekutu mendarat di In-

donesia, maka seluruh bekas negara Hindia Belanda akan berada di bawah kendalinja

SEAC (South East Asia Command). Pemerintah NICA dipimpin oleh Hubertus Johannes

van Mook, orang Belanda jang lahir di Semarang dan amet mentjintai negeri Hindia ini.

Kedatengan Tentara NICA tida disukai oleh Rakjat Indonesia. Mereka meluapkan actie

dengan menuliskan kata-kata edjekan en pernjataan-penjataan keras jang ditulisken

di tembok-tembok kota di seluruh Djakarta. Petempuran kerap terdjadi, mulai jang ke-

tjil hingga pembantaian. Pernah kedjadian di suatu hari trem listriek ditembakin Tenta-

ra NICA, padahal isinja penduduk sipil jang sedang melakukan activiteit sehari-harinja.

Bebrapa hari sebelom Pertempuran di Soerabaja, 2 orang pedjabat tinggi NICA ditjulik

oleh laskar pemuda. Maka dari itu sedjak tanggal 20 November 1945 marika mengada-

kan actie pembersihan di sekitaran Menteng, Prapatan dan Senen. Tida tjuma rakjat

biasa jang diserang, tetapi para pemimpin bangsa pun dibrondong peluru. Sjahrir pun

medjadi sasaran tembak, Mohammad Roem terkena peluru di kakinja, Amir Sjarifoedin

mobilnja ditembakin kutika sedang parkir di halaman Bioscoop Megaria deket Menteng.

Peristiwa biadab lainnja adalah tatkala mobil Soekarno turut ditembakin oleh Tentara
NICA Untungnja Bung Karno sedang tida berada di dalem mobil. Pada kasempatan itu,

sopir bernama Tukimin diminta untuk membeli roti, untuk hidangan buat para menteri

jang sedang berkumpul di rumah Bung Karno. NICA fikir Bung Karno di dalemnja mobil

dan sekedjap mereka tubruk-ken truk miltairnja-nja ke mobil Soekarno hingga hantjur.

Rumahnja pun ditembakin dengan gentjar di malam hari. Soekarno dan Fatmawati ke-

rap kutjingan-kutjingan pindah dari rumah ke rumah lainnja untuk menginap di rumah

orang supaja tida ditangkep en dibunuh oleh NICA. Pagi harinja mereka kembali rumah

Pegangsaan. Kegiatan ini dilakoninja njaris setijap hari, menjelundup ke rumah orang,

mengetok pintu rumah jang ditudju. Kadang-kadang tida ada orang jang mau mendja-

wab, oleh sebab mereka pun takut sekali pada orang jang tida dikenalnja. Apabila ke-

lihatan muka jang mengintip melalui lobang di atas pintu, Bung Karno lalu berdjingkat,

memandjangkan lehernja, en berbisik "Ini saja, ..Soekarno, ..Presiden" (oh segitunja)

Malem taun baru 1945-1946 boleh dibilang masa puntjaknja ketegangan di Djakarta.

Bunji tembakan jang diletuskan terus-menerus akibat perajaan Old & New Year oleh

Tentara NICA dan Tentara Sekutu di masing-masing tangsi-nja untuk meluapkan ke-

gembiraan pergantian tahun tanpa familie di negeri djauh, menimbulkan suara gaduh

berisik dan mekekakkan telinga. Esok harinja, tanggal 1 Januari 1946, Kepala Eksploi-

tasi Barat (kereta api) Bapak Soegandi diminta untuk menghadap Bung Karno, ternja-

ta merundingkan perihal rentjana kepindahan Presiden, Wakil Presiden bersama men-

teri-menterinja tudjuan Djocja, sebagai kota jang mendukung Pemerintahan Republik.

Presiden djuga memberi petundjuk-petundjuk setjara garis besarnja, sedangken per-

kara keamanan dan teknik sepenuhnja dibriken tanggung djawab kepada Kereta Api.

Persiapan selandjutnja dibitjaraken oleh Pak Soegito kepada Balai Besar di Bandung.

Memilih siapa-siapa sadja jang akan dilibatkan dalem actie perdjalanan chusus Kere-

ta Luar Biasa ini. Strategie dan trik musti difikirken mateng, perihal poekoel brapanja

kereta berangkat, membuat peta grafik perdjalanan kereta api (gapeka) setjara chu-

sus untuk kereta ini, djumblah penumpang, barang bawaan, langsiran dimana sadja.

Lokomotief uapnja pun difikirken pake jang mana, dari dipo mana, conditienja bagai-

mana. Tentu sadja semua ini disijapken dengan amet resia (rahasia), tida semuanja

jang tahu perihal rentjana jang djangan sampe diketahui musuh jang ganas-bringas.

Crew jang dapet dipertjaja, tida bole gegabah, dikumpulken dalem waktu 2 hari se-

djak prentah dari Presiden dikeluarken. Segenap crew bergerak dengan amet tekun.

Andeel pekerdja kereta api besar sekali dalem peristiwa bersedjarah ini. Mereka jang

turut actie berbahaja ini, adalah achlinja dalem bidangnja masing-masing. Persiapan

prima didjalanken oleh mereka dengan sungguh-sungguh. Tida ada jang tahu, untuk

apa dan siapa jang akan gunaken kereta api itu, di dalem hati mereka djuga berdesir

sedikit kekhawatiran djika actie itu gagal didjalanken akibat tjuriganja Tentara NICA

terhadap kereta api jang digunaken untuk keperluan jang mereka para pegawai kere-

ta api pun djuga tida tahu akan dipake oleh siapa dan kemana tudjuan berangkatnja.

Hingga achirnja pada tanggal 3 Januari 1946 petang hari tatkala kereta api brenti di

deket Djalan Pegangsaan Timoer, tepat di belakang rumahnja Bung Karno, mereka li-

et rombongan petinggi bangsa jang sudah menunggu dengan sabar datangnja spoor

jang akan membawa Bung Karno, Bung Hatta dan sedjumlah menteri ke Djocjakarta.

Hari semakin gelap, matari tjondong ke ufuk barat, tertutup oleh rimbunnja pohon di

sepandjang bilangan Manggarai-Tjikini. Dengan sembojan aba-aba tanpa suara, loko-

motief uap C2849 diprentahkan masup bengkel untuk disambungkan dengan gerbong

KLB (Kereta Luar Biasa) jang sudah menunggu dengan pintu, djendela tertutup, dan

penerangan pun dimatikan. Klaar digandeng, rem dipreksa betul, lokomotief dan rang-

kaiannja keluar perlahan-lahan dari bengkel menudju emplasemen Station Manggarai

sebagai langsiran. Gerakan ini terus dilandjutken menudju terowongan Pasar Rumput

dan dengan hati-hati KLB diteruskan ke Pegangsaan, brenti tepat di belakang rumah

Bung Karno, jang letaknja memang precies membelakangi rel kereta api deket Tjikini.

Tida ada penerangan sedikitpun, bahkan tiada tjahaja dari sebatang rokok pun pada

malem itu. Sasuda menunggu agak lama, tampaklah rombongan tjalon penumpang di

seberang rel kereta api. Mereka adalah rombongan Presiden, Wakil Presiden, beserta

anggauta kabinet. Tida bole bersuara bila tida perlu, kalaupun bitjara harus berbisik-

bisik, sehingga menambah suasana mentjekam babak penting perdjalanan negeri ini.

Semua orang sudah compleet, sekarang tiba saatnja untuk bergerak pelan menudju

selatan, kembali via Station Manggarai jang didjalanken dengan gerakan langsir per-

lahan masup liwat spoor (djalur) 6, dimana pada spoor 5 sebelumnja sudah ditutupi

dengan barikade rangkaian kereta, gerbong kosong jang menutupi pandangan mata

para Tentara NICA jang biasanja berdjaga di sekitar peron di gedong utama station,

dan males untuk preksa ke djalur kerna situatie jang gelap-gulita dan tiada apapun.

Kereta api bergerak lambat lajaknja langsiran di Station Manggarai hanja 5 KM/djam.

Makin lama makin tjepet, 25 KM/djam, namun kutika hampir masup Station Meester

Cornelis, ladjunja diperlambat dan djalan lajaknja langsiran lagi, dan djuga disiasatin

dengan tarok serangkaian kereta en gerbong untuk menutupi pandangan dari peron

1 jang kerap didjaga oleh Tentara NICA, jang kadang-kadang melakuken patroli dari

pintu utama station di sekitaran peron 1 tersebut. Mereka tida ada jang mengira dji-

kalau jang liwat itu adalah pemimpin Republik jang mereka bentji dan pingin bunuhin.

KLB Presiden meluntjur lantjar selepasnja Station Meester Cornelis (Djatinegara) itu,

melintasi Station Tjipinang, Klender dan Krandji. Pendjaga Soldadu NICA jang berdja-

ga di Station Krandji tida mengira kalau akan ada kereta api jang akan liwat Station

Krandji lagi dan baru insjaf/menjadari tatkala udjung ekor kereta api KLB itu meladju
djauh di depan, mengarah ke Station Tjikampek. Begitu masup Station Bekasi, ketje-

patan kereta dimaksimalken hingga mentjapai 60 KM/djam. Karena suda masup dae-

rah Republik jang dianggep sudah aman, lampu segera dinjalaken, djendela dibukain.

Penumpang dan djuga pekerdja kereta api, serentak oetjapken Sjukur Alhamdulillah.

hati lega, pengrasaan tenang, wadjah tersenjoem simpoel, bertjakap-tjakap seraja

tertawa gembira, nikmatin udara segar dari balik luar djendela, udara Kemerdekaan.

Begimana kelandjoetan tjeriteranja? Kitaorang bakal landjoetken kisahnja langsoeng

di luar maupun di dalem gerbong Kereta Luar Biasa ini. Djuga perihal sedjarahnja tgl

28 September 1945 jang ditetapkan sebagai: Hari Kereta Api. Museum Transportasi

djuga memiliki belasan lokomotief uap lainnja, dari jang gede sampe jang gede sekali.

Banjak istilah, code, inisial dalem perkeretaapian jang orang awam tida faham, akan

didjelasken tuntas sampe Tuan dan Njonja puas. Di Pagi harinja akan di-stel pendje-

lasan perihal peristiwa mendjelang tgl 3 Januari 1946, dan dampaknja bagi Republik.

Sungguh suatu kegiatan jang suker ditemuken di tempat lain, tjuma ada di Museum

Transportasi Taman Mini Indonesia Indah dan tentunja bersama sahaBATMUSeum :)

Djangan loepa oentoek bawa pajoeng, topi, handdoek ketjil, inget Djakarta panas !!!

djikalaoe pada temponja hoedjan ada menggoejoer, kitaorang aken moelai ini plesiran

sasoedanja itoe hoedjan brenti. Zo, plesiran tetep dilakoekoen, en tida berganti hari

ataoe tanggalnja. Tetap tanggal itoe.


Memoedjiken dengen hormat,
Ade Purnama (Adep)
SAHABAT MUSEUM

Jakarta-Indonesia

P: 0818 94 96 82

0812 84 27 27 36
Pin BB: 23975CBC
Email:
adep@cbn.net.id

Facebook: Ade Purnama

Twitter: @sahabatmuseum

www.sahabatmuseum.org

(beberapa sumber sejarah dikutip dari sejumlah buku:
"Terobosan Sukarno dalam Perundingan Linggarjati",

karya Rushdy Hoesein; "Bung Karno, Penjambung

Lidah Rakjat Indonesia", Cindy Adams; dokumen
terbitan: Perpustakaan Kereta Api Kantor Pusat,

"Mosaik Perjuangan Kereta Api 1945: Pemerintah

RI Hijrah"; dan tayangan program "Melawan Lupa"

dengan episode: "Ular Besi Penyelamat Republik").  


Susunan Acara PLESIRAN TEMPO DOELOE – 28 September 2014

07.30 - 08.00: Pendaftaran Ulang di Museum Transportasi TMII

08.00 - 08.30: Nonton Film ttg Riwayat Kereta Api Penyelamat Republik

08.30 - 09.00: Penjelasan ttg gerbong (wagon) Kereta Api KLB & Lokomotif

09.00 - 09.45: Keliling Kereta Api Luar Biasa

09.45 - 10.30: Keliling Lokomotif Uap

10.30 - 11.00: Acara selesai



__._,_.___

Posted by: "Ade Purnama" <adep@cbn.net.id>


Ingin bergabung? Kirim email kosong ke: tourismindonesia-subscribe@yahoogroups.com

Klik:

http://tourismindonesia.blogspot.com





__,_._,___

Tidak ada komentar: