27.5.16

[tourismindonesia] PLESIRAN TEMPO DOELOE: Jacatraweg/Djalan Djakarta, Minggu 29 Mei 2016



PLESIRAN TEMPO DOELOE: Jl. P.Jayakarta

Kumpul di Museum Sejarah Jakarta (atau dikenal

dengan nama lain: Museum Fatahillah), Jl. Taman

Fatahillah No.1, depan Taman Fatahillah Kota Tua
Minggu, 29 Mei 2016 djam poekoel 07.30 pagi hari

Rp.60 ribu/org, sudah termasuk:
(thee manis anget)
(snacks di pagi hari)

(masoep Geredja Sion/Geredja Portugis Luar Kota)
(bezoek bekas locatie Monumen Pieter Erberveld)

(bezoek bekas locatie Roemah G.G van der Parra)

(masoep ka Koeboerannja Souw Beng Kong 1644)

(masoep ka Koeboerannja Raden Ateng Kartadria)

(bakal diceritakan oleh Andy Alexander perihal ri-

wayatnya Djalan Djakarta yang amat bersejarah)


Bank BCA: 237.14.25.693
MANDIRI: 101.000.4434.088
atau BNI 46: 01.48.44.54.65


(please kirim email dulu sebelomnya, ntar dibales kok, untuk dapatkan

nomer urut keikutsertaan, jangan langsung transfer yah, ntar kitanya
malah bingung karena dapetin itu uang kaget, bisa dikopi khan jek?!)
(anak ketjil, orang moeda dan orang toea, bayarnya sama yah, oke?)
(semua di-reken dengan satoe prijs/price iatoelah:
Rp.60.000/orang)




Satoe djalan jang sekarang ini nampak garing dan kering, sablonnja Kemerdekaan

ada maroepaken djalanan jang patoet dihindari orang liwat bilangan ini. Kaselama-

tan lebi oetama ketimbang njawa. Toean en Njonja nantinja bakalan kitaorang ka-

ssie liet foto kaadahaannja di awal abad ka-20, koetika djalanan ini masih banjak

poehoen gede, aliran soengainja mengalir djernih, resik poela erg mooi. Ikoetinlah

programma SAHABAT MUSEUM jang bekend tijap-tijap boelannja, jang bertadjoek:

PLESIRAN TEMPO DOELOE: Jacatraweg/Djalan
Djakarta Minggoe, 29 Mei 2016, sedari djam poekoel 07.30 hingga 12.00 WIB 


Kitaorang moelain kisahnja dari halaman belakang Balai Kota Batavia (Stadhuis Ba-

tavia). Sjahdan, sebermoela pada sekitar tahon 1721, ada saorang pemoeda jang

poenja nama Pieter Erberveld, saorang mestizo (atau kalo di jaman sekarang kita

menyebutnya Indo), diaorang poenja bapak ijalah orang Djerman dan iboe dari ne-

geri Siam (sekarang Thailand). Pieter en diaorang poenja pengikoet ditoedoe aken

bikin peroesoehan di malem tahon baroe  1722, jakni pemboenoehan besar-besaran

terhadap orang Belanda di kota Batavia. Itoelah jang soeda memboeat gouverneur-

generaal jang berkoeasa itoe tempo, Hendricus Zwaardecroon, bri prentah oentoek

tangkepin Pieter en diaorang poenja pengikoet agar sitoeatie aman. Tetapi ini actie

tjoemah strategie belaka soepaija Pieter briken diaorang poenja di tanah jang loeas

di bilangan Djalan Djakatra (sekarang Jl. Pangeran Jayakarta). Pieter dan pengikoet-

nja di-bui di Stadhuis (sekarang Museum Fatahillah). Tatkala di dalem di itoe gedong

marika kerap dipoekoel dan di-straf zonder dibri ampoen, sahingga semoea pengikoet

Pieter achirnja pada mengakoe aken sijapken peroesoehan, pada malem tahon baroe

1722. Oh jah, pada itoe tempoh, Pieter Erberveld ada saorang mestizo jang tjoekoep

kaja-raja dan poenja tana jang loeas, salah satoenja sebidang tana di bilangan Portu-

geesche-buitenkerk (Gereja Portugis Luar yang sekarang bernama Gereja Sion). Gere-

dja terseboet soeda ada sedari tahon 1695 dan misih berdiri hingga hari ini. Pieter en

para pengikoetnja dihoekoem mati dengen tjara diiket laloe ditarik berbagi pendjoeroe

mata angin di deket roemahnja di Djalan Djakatra ini (sekarang lokasinya sudah beru-

bah menjadi showroom mobil), dari kedjadian inilah laloe dikenal Kampong Petja Koelit.

Kedjadian ini diabadiken dalem bentoek monument, jang aselinja ada di halaman bela-

kangnja Museum Sejarah Jakarta, jang sablonnja ditarok di Kampong Petja Koelit itoe.

Kaloe-kaloe kitaorang tida tahoe dimana koeboeran Pieter Erberveld berada, laen per-

karanja dengen koeboerannja Gouverneur-Generaal Hendricus Zwaardecroon. Itoe koe-

boeran precies tergeletak di halaman loear Geredja Sion, dengen batoe nisan jang me-

wah dan tjiamik. Nanti deh ditjeritaken oleh Pak Andy Alexander, kerna iaorang demen

sangat kaloe-kaloe soedah bertoetoer djeman VOC, poen kitaorang bole dengerin soe-

atoe pendjelasan perihal orang Mardijker (yang katanya, ini asal muasal dari kata Mer-

deka; sekumpulan budak yang dimerdekakan oleh orang Belanda asalkan ia mau pindah

agama dari Katolik ke Protestan). Begimana roepa en tjara berpakean orang Mardjiker?

Tentoe sadja kitaorang akan kassie liet pepakean golongan Mardijker ka Toean-Njonja.  


Pegi kaloear dari Museum Fatahillah ini, kitaorang bakal toendjoekken bekas locatie roe-

mahnja Souw Beng Kong di sekitaran Museum Seni Rupa & Keramik sekarang ini. Pemim-

pin Kompeni VOC, J.P. Coen kerap koendjoengin iapoenja roemah, saben waktoe terang

boelan, dimana pembesar agoeng itoe doedoek bitjara pada si toean roemah sembari mi-

noem thee (teh) sio-tjiong jang wangi en makan koewe-koewe Tionghoa jang di tempo

itoe masi soeker didapet. Kapitein Souw Beng Kong poenjai bebrapa roemah di bilangan

Batavia, ada jang di Pintoe Besar, jang kamoedian iaorang djadiken kantoor. Berkat ad-

vies J.P.Coen, diaorang achirnja pindah ka roema jang mempoenja perkarangan loeas di

Tijgergarcht (tijger = tiger; gracht = sungai). Selaen itoe, ia djoega poenja sadjoembe-

ah praoe jang dinamaken Tongkang. Itoelah nama Kampong Tongkangan jang sekarang

masih ada, doeloe ada mendjadi tempat mendjadi tempat dimana ini kapitein terseboet

poenja tongkang atjapkali dibikin betoel sampe bagoes en tida djadi kapot (roesak) lagi.


Djalan kaki diteroesken ka Djembatan Batoe, doeloenja dikenal sebagi Djembatan Senti,

tempat sinjo-sinjo "Portugis Hitam" maenken gitar-nja, bersenandoeng: "Terang boelan,

terang boelan di kaliii, boeaja timboel disangka t'lah mati, djangan pertjaja moeloetnja

lelaki, brani soempah, dia takoet mati". Duuh! Soeda deket sini tampaklah Geredja Por-

tugis Loear Kota (loear Tembok Kota Batavia). Geredja toea jang pernanja di salah sa-

toe djalan tertoea di Jakarta itoe doeloenja dikenal dengan nama Jacatraweg, kerna di

oedjoeng djalan deket Djalan Goenoeng Sahari (ataoe Goenoeng Saristraat) di abad ka-

17 ditempatken soeatoe koeboe defense (pertahanan) jang bernama "Redut (benteng)

Jacatra". Nama Jacatra ataoe kadang di-edja: Iacatra ataoe Xajacatra kerap dioetjap-

ken di document lama awal abad ka-17. Tiga abad kamodian digoenakan lagi. Jakarta?


Dalem perdjalanan menoedjoe gedong geredja toea jang oemoernja pada tahon 2016

ini soeda 323 tahon, doeloenja ada satoe djembatan jang legendarisch amet, hingga

koeboeran dari sosok misterius jang dipake namannja oentoek djembatan ini, jang per-

nahnja di Kebon Jahe Kober (sekarang menjadi Museum Taman Prasasti) kerap disam-

perin banjak orang oentoek zberziarah koeboer, kerna tokoh ia dianggep njata/idoep,

padahal tjoemah imaginatie sahadja, tetapi soenggoe bekend di masjarakat kala itoe.


Di sebrang djalan, ada Geredja Portugis Loear Kota, ataoe dalem bahasa Belanda dise-

boet: "Portugueesche-Buitenkerk", bangoenan jang kitaorang bole liet sekarang adalah

gedong jang diberdiriken dalem koeroen waktoe 1693-1695. Bebrapa poeloeh tahon sa-

blonnja, di locatie geredja itoe soeda diadaken ibadat sedjak tahon 1676 di dalem gere-

dja daroerat deket tanah koeboeran. Saboeah lontjeng nan besar, digoenaken oentoek

memanggil orang soepaija hadlir dalem peladjaran Katekismus. Itoe lontjeng hari ini misih

ada di loearan geredja, tepatnja di parkiran mobil. Nistjaja Toean en Njonja seneng sama

geredja itoe, kerna selaen alesan historisch dengan value tinggi, jakni sebagi bangoenan

toea jang ada di Jakarta, jang functienja misih sama dengan maksoed dan toedjoeannja

tatkala ia berdiri doeloe -sebagi geredja- di dalemnja lajaknja museum idoep ataoe living

museum, dengan collectie ja goed (yahud) poenja, krosi dari djaman doeloe en bangkoe

tiga baris jang choesoes dipake boeat goebernoer-djendral kompeni. Kandelaar origineel

tempat narok lilin dengan tjap lambang kota Batavia, mimbar dengan oekiran tjiamik ber-

klir (kleur/warna) emas, piagam pringatan pemboekaan officieel geredja itoe, dengan ta-

hon 1693. Orgel besar di lantai doea, jang ditopang dengan tiang-tiang ketjil lajaknja ti-

ang jang ada di mesigit (masdjid) Angke. Itoe orgel maroepaken pindjeman dari anaknja

Pendeta Mohr, jang doeloenja membangoen observatorium bintang, lajaknja jang di Lem-

bang: Observatorium Bosscha. Letak deripada teropong bintang di Batavia itoe njatanja

di sebrang djalan Harco Glodok, dan sablonnja Kemerdekaan itoe bernama: Gang Torong.

Torong aselinja = toren, ataoe tower (menara). Kkitaorang sekarang ini sering goenaken

kata toren itoe tatkala menjeboet water toren kaloe-kaloe aernja mahoe dikoeres habis.


Halaman geredja loear kota jang sekarang bernama Geredja Sion itoe, pada abad ka-17

maroepaken lahan begraafplaats (koeboeran). Loeasnja bahkan sampe ka djaloer spoor-

weg (kereta api) di Station B.O.S (Bataviasche Oosterspoorwegen/BeOS) di bagian oe-

taranja bangoenan geredja. Ada bebrapa batoe nisan di dalam Geredja Portugis Loear

Kota, jang lebi enak didjelaskan langsoeng di dalemnja pada hari Minggoe, 29 Mei itoe.

Di samping precies geredja ada makam-makam jang bagoes, dan satoe ada makamnja

Gouverneur-Generaal VOC bernama: Hendrick Zwaardecroon, jang kapengen imagenja

bagoes dengan dimakamkan di loear gedong geredja lajaknja pendoedoek biasa, tetapi

koetika ia meninggal doenija dimakamkan dengan oepatjara besar-mewah. Nama Zwa-

ardecroon erat hoeboengannja dengan kedjadiaan tragis di Kampong Petja' Koelit itoe
di wilajah sini. Sosok jang mahoe ditondjolken bagoes, roepanja poenja bagian/sisi ke-

djem dan bengis dalem oeroesan tana di kota Jakarta tempo doeloe, jang mana dalem

perkara ini, saorang Indo bernama Pieter Erberveld mendjadi korbannja, dan di depan

bekas roemahnja Pieter (jang sekarang mendjadi showroom mobil Toyota) doeloenja

diberdiriken monument peringatan lengkap dengan replica tengkorak di atasnja. Kisah

hitam ini nantinja semoga dapet kitaorang tjeritaken setjara pandjang-pendek di moe-

ka Geredja Sion, seraja bentangken poster besar foto dan kartoe post monument itoe.


Sepandjang djalan Jacatraweg itoe doeloenja daerah elite roemah tetirah (peristiraha-

tan) orang berdoeit, djoega roemahnja Goebernoer-Djenderal Petrus Albertus van der

Parra, jang loekisan dirinja ada lantai 2 Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah).
Nama djalan Jacatraweg ini sekarang setjara resmi bernama: Jl. Pangeran Jayakarta.

Brikoet pendjelasan jang bole kitaorang briken perihal riwajatnja Pangeran Jayakarta:

Conflict politiek jang ada kedjadiannja di Kota Jakarta pada tahon 1611 hingga 1619,

toeroet meroebah wadjahnja bandar jang dahoeloe baek-baek sadja mendjadi soea-

toe bilangan jang soenggoe beroebah totaal, mendjadi kota poesat Kompeni di Asia,

sedjak dihantjoerkannja pada tanggal 30 Mei 1619. Tiada lagi kota Iacatra, Jacatra,
Ziajacatra, Djaketra. Sekarang jang ada tjoemah Batavia! Itoe permoesoehan bikin

Pangeran Jayakarta haroes kaboer dan slametken dirinja ke tempat jang soenggoe

djaoeh dari diaorang poenja keraton (istana) di daerah tengah Kali Besar sekarang.

Awal sebermoela kakoeasaan Kompeni bole dibilang moelai dari pengoeasaan satoe 

daerah jang tjoekoep penting di wilajah jang sekarang ini kitaorang kenal sebagei:

"Kota Tua Jakarta". Dari ini locatie, maka Kompeni perlahan-lahan bikin koeat dae-

rah djadjahannja hingga ke seloeroeh Noesantara. Perdjandjian demi perdjandjian,

moelanja berlangsoeng damai dan fair. Djikaloe sasaorang broesaha roegiken kota

Ziajacarata (Jayakarta) biar itoe orang Spanjol, Portugeesch ataoe orang laennja,

laen hal orang Belanda jang sedang ada di Jayakarta toeroet membantoe, begitoe-

poela sebaliknja, tatkala orang Belanda diserboe moesoeh, maka Radja Jayakarta

memberiken pertoeloengan dengan sepenoeh tenaga. Bole dibilang marika kawan.


Namoen, lama-kelamaan Kompeni moelai toendjoekken iapoenja ketjoerangan sa-

perti djikaloe soeda sewa tanah di deketnja Keraton Jayakarta, maka marika fikir

itoe tanah adalah soeda dibeli, laloe bole dibikin besar dan koeat, tetapi menoe-

roet Pengoeasa Jayakarta, itoe keliroe, kerna sewa adalah sewa, dan boekanlah
mendjadi hak milik pribadi. Nampaknja terdjadi sematjem kesalahpengertian di ka-

doea belah fihak, jang terbitken ketjoerigaan, ditambah lagi sedjak Kumpeni tjoba-

tjoba iapoenja meriam en tembakkan cannonnja ka poesat Poeri/Istana Jayakarta,

jang bikin Pangeran Jayakarta djadi marah besar. Tetapi hal ini bole "dibikin damai"

tatkala Kompeni kassie "oeang damai" dengan nominaal jang bole dibilang besar :) 


Tanggal 28 Mei 1619 koetika soldadu VOC tiba di Kota Jayakarta dengen conditie

jang seger dari Molukken, marika moelai kassie antjoer Kota Jayakarta, jang seba-

gian besar roemah-roemahnja terboeat dari kajoe, djerami, dan pagar kajoe. Itoe 

serangan dipimpin langsoeng oleh J.P.Coen goena reboet daerah ini oentoek didja-

diken poesat dagang VOC di kota jang di kamoedian hari diberi nama: Batavia. Aki-

bat kedjadian ini, lantas sang Pangeran angkat kaki dan slametkan dirinja djaoe da-

ri keratonnja. Perdjalanan ditempoeh ke Tenggara, liwat djalan jang hari ini dikenal

sebagi: Jl.Pangeran Jayakarta. Perkara atsal moela itoe djalan bole djadi kerna ini.


Koetika Pangeran Jayakarta bersama pengikoetnja melarikan diri liwatin itoe djalan,

oentoek mengelaboei Kumpeni, maka ia lempar djoebahnja ke dalem soemoer, laloe

kamoedian soldadu Kompeni kassie tembak itoe djoebah jang marika anggep adalah

Pangeran Jayakarta jang sedang semboenji. Sampe ini hari banjak orang fikir bahoe-

wa itoe sitoes bersedjarah di Jl.Pangeran Jayakarta adalah koeboeran aselinja sang

Pangeran Jayakarta. Maskipoen demikian ada bebrapa versi jang berhoeboengan de-

itoe legenda. Menoeroet Pak Rosyid, sang djoeroe koentji Makam Pangeran Jayakar-

ta di Djatinegara Kaoem, itoe koeboeran di Jl. Pangeran Jayakarta sekarang adalah:

Petilasannja Pangeran Jayakarta, jang lebi tepatnja dinamaken: Makam Keramat Pa-

ngeran Jayakarta, walopoen kaloe-kaloe kitaorang liet itoe papan nama (plang), ma-

ka didapatkan bahoewa jang dikoeboer disitoe jalah Raden Ateng Kertadria, sohibnja

Pieter Erberveld, jang ditoedoeh oleh Belanda akan lakoeken makar ataoe penggoeli-

ngan pemerentah, di tahon 1722! Aduuuuh soenggoe djaoeh djarak waktoenja, dari

1619 hingga 1722, njaris satoe abad lamanja. Lantas menoeroet Pak Rosyid, Pange-

ran Jayakarta tjoemah 3 orang sadja, jakni: Tubagus Angke, Jayawikarta dan 1 lagi

Achmad Djakerta jang paling achir, dan wafat di Djatinegara Kaoem di tahoen 1640.

Tiada gelar Pangeran Jayakarta sesoedahnja itoe. Pangeran Jayakarta klaar soedah.


Menoeroet boekoe jang dibikin oleh Adolf Heuken SJ, dichabarkan bahoewa jang poe-

nja sengketa dengan si Kompeni itoe adalah Pangeran Jayawikarta, boekan Achmad

Djakerta. Nantinja kitaorang djoega akan beri tahoe silsilah-nja Pangeran Jayakarta

sedari jang kesatoe, ia itoe adalah Fatahillah! Laloe Achmad Djakerta ini ada maroe-

pakan tjitjit-boejoetnja daripada Fatahillah jang soeda reboet wilajah Soenda Cala-

pa, jang kata orang, tanggal 22 Juni 1527 en merobah namanja dari Soenda Calapa

mendjadi Jayakarta, jang  poenja makna "Kemenangan jang Sempoerna". Soenggoe

interessant itoe Djakarta poenja tjeritera heroik, tetapi sajangnja koerang accurat.

Kaloe-kaloe tadi kitaorang atjapkali menjinggoeng Makam Pangeran Jayakarta, jang

trada orang jang bole taoe itoe dimana letaknja hingga Kompeni pegi dari Noesanta-

ra (pada tahoen 1942, atau pas Merdeka tahoen 1945). Itoe koeboeran di-resiaken

(dirahasiakan), kerna marika chawatier djikaloe Kompeni sampe taoe koeboeran Pan-

geran Jayakarta, maka akan dibongkar soepaija tida mendjadi basis kekoeatan peng-

ikoetnja oentoek memperkoeat diri, dan melawan Kompeni. Bole kitaorang bajangken

keadahaan di djeman doeloe, apalagi denger kata: Djatinegara, maka bole dikira-kira

bahoewa itoe bilangan berada diantara hoetan djati jang lebat, dan dideketnja rawa.


Itoe koeboeran soenggoeh penting boeat para Pengoeasa Kota Jakarta ini, baek itoe

dari kalangan militer, maoepoen dari para Gubernur Jakarta. Setijap Gubernur Jakarta

jang baroe sadja terpilih dichabarkan pasti sempatken dirinja boeat dziarah ke Makam

Pangeran Jayakarta di Djatinegara Kaoem ini, tepatnja di halaman Masdjid Jami' Assa-

lafiyah Pangeran Achmad Djaketra (djoega kerap diseboet sebagi: Masdjid Pangeran

Jayakarta). Moelai dari Bang Ali, Suryadi Soedirdja sampe ka Bang Yos, dichabarken 

singgah di makam legendarisch ini. Ratoesan tahoen lamanja itoe koeboeran diresia-

ken, hingga koetika Henk Ngantung mendjabat sebagei Gubernur Jakarta tahon 1964-

1965, baroe keberadaan itoe makam dioengkapkan kepada masjarakat. Hal demikian

poen dilakoeken oleh para Panglima Komando Daerah Militer Jaya Raya (Kodam Jaya),

dimana tijap tanggal 24 Desember, dalem menjamboet itoe hari kesatoean militernja,

pasti marika itoe dateng ka makam, bahkan marika meletakkan plakaat kesatoeannja.

Achirnja kitaorang sampe di Koeboeran Souw Beng Kong. Brikoet riwajatnja, batjalah:


Alkisah tanggal 30 Mei 1619, tentera VOC jang dipimpin Gouverneur-Generaal (Guber-

nur Jenderal) Jan Pieterszoon Coen kassie serang Djajakarta (Jayakarta), bikin orang

jang tinggal di dalem kota djadi kotjar-katjir tiada karoean, sahingga isi kota mendjadi

kosong. Lantas J.P.Coen terbitken idee goena datengken orang-orang jang tjakap da-

lem hal bikin betoel ini kota jang baroe sadja iaorang kassie hantjoer, soepaia berdja-

lan saperti sedia-kala. Maka dari itoe, Mur Jangkoeng pengoeasa baroe itoe kota min-

ta toeloeng dari sobat jang iaorang kenal koetika misih menetap di Bantam (Banten),

ia itoelah saorang jang pandei dan oelet dalem bekerdja dan tjerdik dalem berdagang.

Tida lama berdiam di Bantam, iaorang berniaga hasil boemi sendiri, atjapkali dibeli oleh

soedagar-soedagar Blanda. Iaorang: Souw Beng Kong! jang amet deket dengan Coen.

Souw Beng Kong ada saorang jang loear biasa. Ia telah oendjoek prestatie goemilang

dengen lakoeken berbagi-bagi pakerdjahan nan penting sahingga Gouverneur-Generaal

J.P. Coen hargaken padanja (maksudnya menghargainya). Tentang sebab-sebab jang

bikin Souw Beng Kong dateng di ini kapoeloan ada terdapet berbagi tjerita. Satoe fihak

bilang, ia ada saorang jang mempoenjain angen-angen besar, maka ingin mengoembara

langka laoetan. Tetapi di djeman itoe pelajaran belon sentausa sebagimana sekarang ini,

maka melaenkan marika jang berhati besar sadja brani menjebrang laoetan lantaran risi-

conja besar. Tetapi Souw Beng Kong boekalah ada itoe orang jang bernjali ketjil. Begi-

toelah dengen berkawan bebrapa orang. Souw Beng Kong tinggalken iapoenja tempat

kelahiran, jaitoe Tang-oa, kamodian menoedjoe Amoy, en dari sini ia landjoetken niat-

nja berlajar ka Laoetan Kidoel. Marika masi moeda en roemadja, penoe dengen angen-

angen moeloek dan tinggi, maski djoega dalem perlajaran itoe tida sadikit jang dapet-

ken ganggoean ombak laoet dan angin keras, tiada membikin hati mereka djadi koen-

tjoep (duh istilahnya!). Lebi doeloe Souw Beng Kong c.s. mendarat di Sit-Lat (Singa-

pore) dimana marika berdiam sampe brapa boelan lamanja. Kamoedian iaorang diadjak

oleh satoe kenalannja soedagar lada jang senantiasa moendar-mandir antara Tiongkok-

Sit-Lat-Java. Ini adjakan ditrima baek oleh Souw Beng Kong c.s. siapa laloe ikoet itoe

kenalan dateng di Java, dengen mendarat di Bantam. Sasoedanja berdiam di Bantam,

ia pindah ka Jacatra, dan menetap di mari hingga ia meninggal doenija di tahon 1644.

 

Berhoeboeng dengen djoemblahnja pendoedoek Tionghoa di Batavia jang semingkin

besar (Menoeroet Prof.P.J.Veth di dalem iapoenja boekoe jang berkalimat „Java" 1e

(eerste) deel, itoe tahon telah lebih dari 400 djiwa), maka J.P.Coen merasa penting

boeat angkat satoe pembesar Tionghoa, goena bikin fihak pamerentah lebih moedah
pada bangsa Tionghoa. Ia anggep soedagar Souw Beng Kong ada itoe orang tjakap

pangkoe itoe djabatan, maka padanja laloe diangkat mendjadi kapitein, satoe pang-

kat atawa gelaran jang tinggi, en menandakan bahoea pembesar agoeng itoe taro

harga pada soedagar terseboet. Sadjek (sejak maksudnya) soedagar Souw Beng

Kong djadi kapitein. Dengan diangkatnja Souw Beng Kong sebagai kapitein, maka

banjak Orang Tionghoa toeroet membangoen kota ini. Pekerdja'an sebagi pandai

besi, djoega toekang bangoenan, pedagang etjeran, toekang kajoe en laen-laen.

Kapitein Souw Beng Kong poela dikenal sebagi kontraktor (aannemer) Tionghoa

pertama di kota Jakarta, ia briken perhatian pembangoenan roemah-roemahnja
ambtenaar/pedjabat Belanda. Selaen itoe toegasnja oeroes pendoedoek Tiong-

hoa, sebagi djoeroe bitjara en penanggoeng djawab marika, poen mendjadi pe-

nasihat resmi mengenai adat-istiadat Tionghoa di pengadilan VOC Belanda itoe.

J.P. Coen en Souw Beng Kong poenja nasip jang berbeda pada achir hajat-nja.

Djikaloe kitaorang masih dapet liet itoe koeboerannja Souw Beng Kong setjara

pasti, tiada halnja dengan Makam J.P.Coen, jang masih tiada kedjelasan pasti,

ada jang bilang di sekitaran Museum Fatahillah ada djoega jang bilang di Muse-

um Wayang, tiada jang taoe jang bener jang mana. Kaloe-kaloe Koeboerannja
Souw Beng Kong hingga hari ini masih ada, terletak di gang senggol di sekitar

Mangga Doea. Masoepnja liwat Gang Taruna di Jl. Pangeran Jayakarta (jang

doeloenja bernama: Gang Souw Beng Kong). Makam itoe dibikin bagoes oleh

Majoor Khouw Kim An di tahon 1929, membikin batoe nisan jang sekarang ini.

Zo, toenggoe apalagi ?! Lekas, Sigra daftarken diri Toean en Njonja sekarang djoega!
kirim email ka: adep@cbn.net.id (adep at cbn dot net dot id) ataoe kaloe mahoe ber-
tanja sablonnja, sila hoeboengi telefoon-tangannja di nummer: 0818949682 (nummer
oeroet peserta akan dibriken sasoeda mendaftar, sehingga nanti ditransfer oeangnja
sasoeai dengen nummer oeroetnja), kamoedian dapet ditransfer oeangnja langsoeng: 
BCA, no.rek 237 14 25 693 BCA can Pondok Indah a.n: ADE HARDIKA PURNAMA 
toeloeng diconfirmatie sigra via email ataoe disms ka nummer 0818949682 selekasnja.
(djikaloe Toean ataoe Njonja ternjata tida djadi ikoetan en soeda transfer, moehoen
ma'af, doeit jang soeda ditransfer tida dapet dikembalikan, tetapi bisa dioper kepada
orang laen/familie/teman)
. Adapoen nummer rekening MANDIRI = 101.000.44.34.088,
a.n: ADE HARDIKA PURNAMA en rekening BNI 46, yaitu dgn no.rek: 01.48.44.54.65
a.n: ADE HARDIKA PURNAMA, kantoor tjabangnja poen ada di Pondok Indah djoega.

Tjara membajarnja/transfer, misalnja: Onky Alexander ada di nummer oeroet 18, maka 
Onky transfernja = Rp.60.018 (djikaloe di mesin ATM ketiknja Rp.60018 <<< angka 18
di belakang mengatjoe ka nummer oeroet, djadi nanti bajarnja boekan Rp.60.000 sadja,

tetapi ditambah Rp.18 sebagi nummer oeroet. Kaloe-kaloe mendaftar lebih dari 1 orang,

dan kapingin transfernja sekaligoes djalan, jang misalnja saperti tjontoh sematjem gini:

18. Onky Alexander

19. Meriam Bellina
20. Btari Karlinda

Transfernja bole sekaligoes = Rp.180018 (mengatjoe ka nummer oeroet jang doeloean),

maka dari itoe, nummer oeroetnja djangan didjoembelahken djadi 1 jah (18 + 19 + 20 =

57 = Rp.180.057). Oh, DJANGAN, DJANGAN, DJANGAN. kerna nantinja malahan bikin kita-

orang mendjadi bingoeng, en bole djadi nummernja ini (oempamanja nummer oeroet: 57)

soedah ada jang poenja, orang laen. Dapet menjebabken kakaliroean. Tetapi kalo mahoe

transfer satoe per satoe djoega boleh, ketik sadja = Rp.60.018, Rp.60.019 en Rp.60.020

ataoe misalnja ada temen/keluarga jang misih kapingin daftar lagi, en dapatken nummer
jang djaoe dari rombongan Toean-Njonja (misal dapet nummer oeroet = 178) maka nan-

tinja djikaloe mahoe mentransfernja sekaligoes/sekali djalan toeloeng diseboetken sadja

bahoewa doeit jang sebanjak Rp.240.018 itoe oentoek nummer oeroet 18, 19, 20, 178. 
 

Djangan loepa oentoek bawa pajoeng, topi, handdoek ketjil, inget Djakarta panas! djika-

laoe pada temponja hoedjan ada toeroen, kitaorang aken moelai plesirannja sasoedanja

itoe hoedjan brenti. Zo, plesiran tetep dilakoekoen, tida berganti hari, ataoe tanggalnja.

 

Route berdjalan kaki: moelain dari Museum Sejarah Jakarta/Stadhuis Batavia - Jl. Lada/

Kanaal Macan/Tijgergracht - Stasiun Jakarta Kota/Station Batavia Benedenstad - Ka-

nal Luar Kota/Stadsbuitengracht - Jl. Jembatan Batu - Gereja Sion/Portugueeschebui-

tenkerk - Jl. P.Jayakarta/Jacatraweg - Kampung Pecah Kulit/Kampong Petjah Koelit -

Bekas lokasi Monument Pieter Erberveld (Showroom Toyota Auto 2000) - Bekas Lokasi

Rumah Gubernur Jenderal van der Parra - Gang Taruna/Gang Souw Beng Kong - Kubur-

an Souw Beng Kong - Kuburan Raden Ateng Kartadria - Jl. P.Jayakarta/Jacatraweg -

Museum Sejarah Jakarta/Stadhuis Batavia.


Memoedjiken dengen hormat,
Ade Purnama (Adep)
SAHABAT MUSEUM

Jakarta-Indonesia

P: 0818 94 96 82

0812 84 27 27 36
Pin BB: 23975CBC
Email: adep@cbn.net.id

Facebook: Ade Purnama

Twitter: @sahabatmuseum

www.sahabatmuseum.org


(beberapa sumber sejarah dibaca dari buku: "Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta",
"Sumber-sumber asli sejarah Jakarta Jilid I, II dan III"; "Batavia in Nineteenth Centu-

ry Photographs" dan "Jakarta, Postcards of a Capital, 1900-1950", Scott Merrillees; 

"Johannes Rach, Seniman di Indonesia dan Asia", terbitan Perpustakaan Nasional RI 

& Rijksmuseum Amsterdam, 2002); "Betawi: Queen of the East", karya Alwi Shahab;

"Ensiklopedia Jakarta, Culture & Heritage, Jilid I, II & III", terbitan Dinas Kebudayaan

dan Permuseuman, di tahun 2005; "Gereja-gereja Bersejarah di Jakarta", karya Adolf

Heuken SJ; "Sejarah para Pembesar Mengatur Batavia", karya Mona Lohanda; buku

karyanya: p.t.P.De Roo De La Faille, Lid Dewan Hindia (semacam Ketua DPR djaman

doeloe?) berjudul: "Hal-Ihwal Kota Betawi Semasa Dahoeloe" terbitan th 1920, jang

dimelajoekan oleh: S.M.Rassat. Dikeloewarkan oleh: Balai Poestaka - Weltevreden -

Batavia; Makalah "Seminar Nasional Perkembangan Teknologi vs Konservasi Arsitek-

tur, Malang 2008, karya: Ir.Wastu Pragantha Zhong; artikel di Koran Kompas yang

berjudul: "Makam Souw Beng Kong, Situs Sejarah yang Dilupakan", karya: M Clara

Westi; Sinopsis Wisata Kampoeng Toea "Kapitan Souw Beng Kong Poenja Koeboer-

an jang Tida Kaoeroes" karya: David Kwa Kian Hauw; Fotokopian "Doa Bersama di

Depan Bongpai Souw Beng Kong di Gang Souw Beng Kong (Gang Taruna), karya:

MATAKIN, PSMTI & Keluarga Souw; Makalah "International Seminar on the Archi-

tecture of Jakarta Historical Museum, 21-22 Agustus 2002, yang berjudul: "Pemu-

garan Jakarta dan Dampaknya Setelah 30 Tahun Kemudian" karya: Ir.Wastu Pra-

gantha Zhong; Artikel di Majalah Sin Po terbitan tahun 1940, yg berjudul: "Kapi-

tein Souw Beng Kong (Officier Tionghoa jang pertama di Java), karya: Lim Thian

Joe; Fotokopian yg berjudul: "Sedjarahnja Souw Beng Kong Kepala bangsa Tiong-

hoa pada tahun 1620. Sebagai pemimpin bangsa Tionghoa, ia sangat di-indahkan

oleh seluruh masjarakat" karya: Phoa Kian Sie (atau Kian Site?) (maaf karena fo-

tokopian, namanya kurang terbaca betul); Brosur dari Gereja Sion, terbitan tahun

2001; "Sejarah Singkat Gereja "De Nieuwe Portuguessche Buitenkerk" (GPIB Sion

DKI Jakarta), karya A.E.Nayoan; lagu "Terang Bulan" dan "Nina Bobo", yang dinya-

nyikan oleh Wieteke van Dort, yg juga dikenal sebagai Tante Lienartikel Kita Sama

Kita "Terang Bulan di Jassenbrug", terbitan Agustus 2000; Toko Merah", karya Tho-

mas B. Ataladjar; "Kota Tua Punya Cerita" terbitan Kompas 2012"; majalah "Coen!

Geroemd en Verguisd", terbitan khusus Westfries Museum, Hoorn, The Netherlands).



PLESIRAN TEMPO DOELOE: Jacatraweg/Djalan Djakarta

Minggoe, 29 Mei 2016

07.30 – 08.00: Pendaftaran Ulang di Museum Sejarah Jakarta

08.00 – 08.15: Penjelasan tentang Pieter Erberveld

08.15 – 08.30: Jalan kaki ke Jl. Jembatan Batu

08.30 – 08.35: Penjelasan tentang Jl. Jembatan Batu

08.35 – 08.40: Jalan kaki ke Gereja Sion

08.40 – 09.20: Keliling Gereja Sion

09.20 – 09.25: Jalan kaki ke Kampung Pecah Kulit

09.25 – 09.35: Penjelasan tentang Kampung Pecah Kulit

09.35 – 09.40: Jalan kaki ke bekas lokasi rumah van der Parra

09.40 – 09.50: Penjelasan tentang rumah van der Parra

09.50 – 10.00: Jalan kaki ke Makam Souw Beng Kong

10.00 – 10.30: Keliling Makam Souw Beng Kong

10.30 – 10.40: Jalan kaki ke Makam Raden Ateng Kartadria

10.40 – 11.00: Keliling Makam Raden Ateng Kartadria

11.00 – 11.30: Jalan kaki ke Museum Sejarah Jakarta

11.30 – 12.00: Acara selesai



__._,_.___

Posted by: "Ade Purnama" <adep@cbn.net.id>


Ingin bergabung? Kirim email kosong ke: tourismindonesia-subscribe@yahoogroups.com

Klik:

http://tourismindonesia.blogspot.com





__,_._,___

Tidak ada komentar: