13.9.16

[tourismindonesia] Plesiran Tempo Doeloe: 8-9 Oktober 2016



 

 
SAHABAT MUSEUM dengan hati seneng presenteren:
PLESIRAN TEMPO DOELOE 
                     
                                          ROMUSHA di SAKETI - BAJAH


Perang Pasifik sudah liwat 71 tahun jang lalu. Kenangan atas
peristiwa sedjarah senantiasa disampeiken dalem peladjaran

di sekolah, via tajangan film documentair tv, film di bioscoop,

dalem bentuk casette recorder (beta/vhs), kepingan cd (vcd/

dvd/bluray), ataupun nonton via internet (youtube, en laennja).
Berbagei matjem film kwaliteit prima diproductie oleh negara-

negara Sekutu pun musuhnja, sedjak beberapa tahun perang

klaar hingga di djaman modern sekarang ini dengan beragam

kisah jang diambil dari kisah njata, novel djuga buku pengala-

man seseorang kutika alemken kehidupan di djaman perang.

 

Dari banjak film jang dibuat, ada satu jang populair pula legen-

darisch, ijalah film jang suda menangken Piala Oscar di tahun

1958 jang bertadjuk: "Bridge on the River Kwai", focus dalem

kisah perkara pembuatan djembatan di atas Sungai Kwai, da-

lem pengerdja'an djalur jang mematiken (The Death Railway)

di sekitaran Burma dan Siam (sekarang: Thailand). Film ini fik-

tif belaka tjeriteranja, namun pindjem riwajat pembangunan itu
djembatan Burma Railway tahun 1942-1943 untuk setting sed-

jarahnja, shooting gambarnja dilakuken di Ceylon (Sri Lanka).

Keadaan serupa djuga terdjadi di negeri kita ini, namun loca-

tie dan kisah sedjarahnja berbeda, tida' fiktif dan situs-situsnja

masih di sana, sebagian masih utuh, sebagian linjap dimakan

djaman, en tida begitu bekend lajaknja film Amerika tersebut,

lantaran bukan Tentara Amerika djuga POW (Prisoner of War)

jang djadi korban kekedjeman Penguasa Djepang itu, namun
pekerdja Romusha jang didatengken dari: Djawa Tengah dan
Djawa Timur, untuk pembangunan djalur rel kereta api jang da-

pet mengangkut batu bara dari Banten Selatan sebagei bahan

mentah, untuk kelantjutan mesin perang punja armada Tentara

Djepang, jang mulai susah mendapatkan oil (minjak) disebab-

ken sudah di-blokkade oleh Tentara Sekutu akses sumbernja.

 

Kitaorang gerombolan SAHABAT MUSEUM nantinja bakal ge-

lar Napak Tilas Romusha dari Saketi sampei Bayah di Banten. 
Dari Saketi (Kabupaten Pandeglang) ke Bajah (di Kabupaten

Lebak), membentang rel kereta api jang pandjangnja hampir

90 KM, melintasin 9 station en 4 halte, mulain dari Station Sa-

keti ke Tjimangoe, Kadoehaoek, Djaloesang (Jalupang) lalu
Pasoeng (Picung), Kerta, Gintoeng, Malingping, terus ke se-

latan liwat Tjilangkahan, Soekahoedjan, Tjihara, Panjawoeng-

an, Bajah, dan jang terachir Goenoengmandoer. Sumber la-

en menjebutkan kalu itu djalur sampe udjungnja Pulo Manuk.

 

Tatkala tiba di Station Saketi, sekitar 4 djam lamanja dari Dja-

karta, kitaorang langsung dapet djeladjahi banjak artefak se-

djarah perkeretapian, sedari djaman Hindia Belanda, hingga

ke djaman kerja paksa Romusha, periode pahit 1943 - 1945.

Mulain dari djembatan kereta api jang letaknja "sembunji" di

balik gang senggol, rel kereta api utuh jang masih memben-

tang seolah "membelah" pasar, puteran lokomotief uap jang

sekarang difunctieken sebagei pondasinja rumah penduduk

(lho, kok bisa?!! bentuknja bulet pula! dudukannja pas betul).

 

Kuliling sekitaran Station Saketi ini, bezoek rumahnja Nenek

Sutinah jang misih sihat sentausa, isteri dari seorang pelaku

Romusha, di djalur rel maut ini. Kitaorang berani bersumpah,

kalu nantinja Tuan-Njonja bakalan betah berlama-lama, apala-

gi jang bakalan kasih tjeritera sedjarah djalur sepur ini adalah

Tuan Aditya Dwi Laksana dari KERETA ANAK BANGSA, jang

2 kali survey locatie pekerdja Romusha di sepandjang djalur

Saketi-Bajah, bersama dengan SAHABAT MUSEUM, selama

2 tahun berurutan 2014 en 2015. Tentu suda faham betul dima-

nakah sahadja titik punten (points) jang bakal dikasi liet pada

Tuan-Njonja sekalian. Djangan lupa batere tustel di-isi penuh!

dan memory card siapken jang kosong en tentu jang banjak.


Spoor (djalur) membentang ke arah Barat dengan tudjuan ac-

hir: Station Labuan, belok kiri arah Bajah. Djedjak besi rel ter-

sebut masih dapet diliet djelas, dan sekarang mendjadi pan-

duan djalan warga. Patok rel sebagei propertynja Kereta Api

tertantjep di bebrapa titik, di radius ratusan meter dari Station

Saketi. Tengok bawah, nampak Wesel (alat perpindahan rel)

jang merupaken saksi bisu betapa sibuk Station Saketi pada

masa djajanja. Sekarang mendjadi bahagian kampung padet.

 

Perdjalanan dilandjutken tudjuan selatan, menelusuri arah rel

ke Bajah. Sedjumblah road-bed (punggung bekas rel) misih

dapet diketemuken, di perdjalanan antara Saketi-Malingping.

Lepas dari Malingping, artefak bekas kekedjaman Romusha

lebih nampak djelas, berupa: pondasi djembatan kereta api,

tjelukan tempat orang berlindung di atas djembatan kutika ke-

reta api melintasi djembatan (sekarang bole dipake sebagei

tempat berfoto, tentu sahadja tida perlu chawatir kereta liwat),

djuga pondasi djembatan jang sekarang dipake untuk dasar
pondasi rumah! Adduh-duh itu kan peninggalan bersedjarah.

Di Bajah inilah Soekarno dimanfa'atken oleh Djepang, untuk

memberikan semangat bekerdja kepada segenap pekerdja

Romusha. Ia turun ke lapangan, gunaken pepakean lajaknja

rakjat jang dipekerdjaken sebagei tenaga Romusha di sana: 

tjelana pendek dari bahan karung, topi dengan nummer urut

970. Tiada berbeda dengan pekerdja Romusha laennja, ter-

lebih lagi Soekarno menjantap makanan jang sama dengan

mereka, menunja: nasi, sajoeran dan ikan asin. Klop sudah.

Kitaorang punja film documentair perihal pidatonja Soekarno

tatkala bitjara di depan ratusan Romusha di Bajah pada tahun

1943, jang nantinja akan diputer langsung di Bajah, sehingga

Tuan-Njonja dapet rasaken suasananja, langsung di Bajah ini.

Locatie kira-kira tempat dimana pidatonja pun akan didateng-

ken. Sekitaran sini, kata sedjumblah orang ada kuburan para 

Romusha jang dimakamken setjara massal. Tempo hari jang

diketemuken tjumah 1 batu nisan, mungkin jang laen ada dju-

ga di sekitaran sini, tetapi tida ditandaken dengan petundjuk.

Tida luput ditjeriteraken perihal actienja Tan Malaka jang turut

bekerdja di Bajah sebagei djurutulis (klerk) dengan nama sa-

maran en tida terbongkar identiteitnja hingga perang berachir.


(Naik Bus AC Trac)
(Menelusuri bekas jejak jalur rel Kereta Api yang dibangun
oleh tenaga Romusha di sepanjang jalan Saketi ke Bayah)
(Menginep di Hotel Swarna Inn Bayah, hotel terbaik di mari)
(Makan & Minum 6 kali, selama plesiran 2 hari, nyam-nyam)


Saptoe-Minggoe
8-9 Oktober 2016
Rp.950.000/orang
(sembilan ratus 
lima
puluh ribu)  

                                                                          
(tempatnya terbatas!

mengacu ke kapasitas

Bus AC-nya. sekarang

ini tersedia 1 unit bus

isi 25 seats, bilamana

peserta bertambah en
unit
 bus tersedia lagi,

yah hayuk aja ikutan)

                     
Kumpul, mulai acara: 
GOR Bulungan Jaksel
jam 06.30 di pagi hari
                                                               
kalau mahu ikutan PTD ini, 
email ke: adep@cbn.net.id 
(adep at cbn dot net dot id)


 

 

 

                                               detailnya mingdep yah

 

 



__._,_.___

Posted by: "Ade Purnama" <adep@cbn.net.id>


Ingin bergabung? Kirim email kosong ke: tourismindonesia-subscribe@yahoogroups.com

Klik:

http://tourismindonesia.blogspot.com





__,_._,___

Tidak ada komentar: