22.9.16

[tourismindonesia] PLESIRAN TEMPO DOELOE: Tinggalkan Djakarta, Sekarang! Minggoe, 25 September 2016



PLESIRAN TEMPO DOELOE: Napak Tilas Hijrah Pemerintah

Kumpulnya di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jl. Imam

Bonjol No.1, Menteng, Jakarta Pusat, di sebelah Gereja Paulus.

Minggu, 25 September 2016 jam 07.30 pagi hari

Rp.360 ribu/org, sudah termasuk:

(Thee Panas)
(Snacks Pagi)
(Makan Siang)
(Snacks Sore)
(Naek Bus AC Trac)

(Puter film documentair perihal peristiwa 3 Januari 1946)
(Kaartjis masoep kulilingin Museum Transportasi di TMII)
(Naek Kereta Api puterin Museum Transportasi, rasahken

begimana naek kereta api lajaknja tatkala hijrah di dalem

suasana ta djelas, menegangkan, penuh risico terbunuh)
(Masoep ke gerbong KERETA LUAR BIASA/KLB jang aseli) 

(Kaartjis masoep TMII atau Taman Mini Indonesia Indah)

(Kaartjis masoep Museum Perumusan Naskah Proklamasi)

(Kaartjis Naek Kereta Api, mulai dari Stasiun Jatinegara -

Stasiun Manggarai; kemudian Stasiun Cikini - Stasiun Be-

kasi; dan dari Stasiun Bekasi - sampe ke Stasiun Klender)

(Naek Bus AC juga, mulai dari Museum Perumusan Naskah

Proklamasi - Stasiun Jatinegara; Stasiun Manggarai - Balai

Yasa Manggarai - "belakang Rumah Soekarno"; lalu Stasiun

Klender - Taman Mini Indonesia Indah; kembali ke Museum

Perumusan Naskah Proklamasi di Jl. Imam Bonjol, Menteng)

(Masoep dalam Dipo Jatinegara, dekat Stasiun Jatinegara)*

(Masoep Balai Yasa Manggarai, dekat Stasiun Manggarai)*
(*masih menanti konfirmasi)

(perihal peristiwa itu akan ditjeriterakan dengan totaal oleh

Aditya Dwi Laksana, dari KAB (Kereta Anak Bangsa), sobat-

nja sahaBATMUSeum jang baek hati. Dr.dr. Rushdy Hoesein,

sejarawan jang kerap meneliti zaman Perang Kemerdekaan di

tahun 1945-1949, keluarga Alm. Hidajat, djuru technis listriek

KLB (Kereta Luar Biasa), dan nantinya kita diizinkan untuk ma-

sup ke dalem Gerbong Kereta Api bersejarah itu, dibukakan se-

luruh gerbong dan kamar-kamarnya. Sesuatu pengalaman jang

djarang dialami segenap masjarakat, djangan sampe ta ikutan!)

Bank BCA: 237.14.25.693
MANDIRI: 101.000.4434. 088
atau BNI 46: 01.48.44.54.65

(begimana tjara mentransfernja,
batja di bagian bawah email ini).

(Please kirim email dahoeloe sablonnja, pasti dibales, goena dapetken
nummer oeroet peserta. Djangan langsoeng ditransfer, sebab malahan
djadi bikin kitaorang bingoeng, lantaran soeda dapet kiriman itoe doeit

jang tida djelas djoentroengannja kerna tida ditoelis nummer oeroetnja)

(anak ketjil, orang moeda poen orang toea, bajarnja sama yah, okeh?!)
(semua di-reken dengan satoe prijs/price, ia itoelah: Rp.360.000/org)



Di suatu siang tanggal 3 Januari 1946, Bung Hatta mendadak berutjap kepada isterinja:

"Nanti malam kita ke Djokdja". Sebagai penganten baru jang menikah di Megamendung,

Djawa Barat, pada tanggal 18 November 1945. Njonja Rahmi, isterinja Drs. Mohammad

Hatta fikir dirinja bakalan diadjak berbulan-madu. Dengan hati berbunga ia menanjakan:

"Untuk berapa lama, Kakak?". Bung Hatta mendjawab: "Paling hanja untuk 3 hari, atau

5 hari". Ach, rentjana ke Djokdja jang 3 sampe 5 hari itu, njatanja njaris 4 tahun lama-

nja menetap di kota ini. Kitaorang dari SAHABAT MUSEUM bakalan kassie tjeritera per-

kara moment mentjekam di achir 1945, dan kisah penjelamatan nan heroik penuh risico

membawa Pemimpin Bangsa, dengan Kereta Api jang dilakuken dengan penuh tipu-mus-

lihat jang djitoe. Ikutin atjara Napak Tilas "Hijrah Pemerintah ke Djokjakarta" bertadjuk:

PLESIRAN TEMPO DOELOE: Tinggalkan Djakarta,

Sekarang! Minggoe, 25 September 2016, moelai dari 07.30 sampe 17.30 klaar 

Indonesia bisa hantjur dalem sekedjap. Sekali ketahuan kereta api membojong Pemim-

pin Bangsa, bole djadi Tentara NICA lekas tembakken sendjatanja menghudjani peluru,

ataupun sekali lempar hand-grenade (granat tangan) ke gerbong, habislah sudah selu-

ruh penumpang jang sembunji di dalem gerbong kereta api. Segenap Pemimpin Indone-

sia terbunuh, kerna isinja gerbong tersebut adalah Presiden, Wakil Presiden, dan sege-

nap menteri. Actie nekat tersebut, dilakuken kutika keadahan kota Djakarta ini dirasah
kian tida menentu.
Tiap siang en malem antjeman tindakan pembunuhan kerap terdjadi.

Djakarta chaos, tijap hari terdengar rentetan boenji tembakan dan chabar orang tewas

di sepandjang djalan, majit mengambang di sungai, bau anjir badan jang membusuk ter-

tjium di seantero kota. Laskar-laskar dan BKR (Badan Keamanan Rakjat) bertempur me-

lawan Tentara NICA jang suda membontjeng Sekutu tatkala turun dari kapal perang di

Pelabuhan Tandjung Priok. Republik Indonesia terapkan Djam Malam. Keadahaan sema-

kin tida tentrem. Sedjumblah pemimpin bangsa ditembakin mobilnja, kutika sedang ber-

pegian kuliling kota, rumah Presiden diteror dan ditembakin oleh Tentara NICA, hingga

achirnja diputusken untuk pindahken Pemerintahan Republik Indonesia selekasnja naik

spoor (kereta api), tudjuan kota jang dianggep aman djuga mendukung kedaulatan RI.

Sekutu sebagei pemenang Perang Dunia II di wilajah Pasifik, dateng kembali ke negara

jang baru sadja merdeka, Indonesia. Tudjuan marika untuk melutjuti Tentara Djepang,

dan membebaskan para tawanan Europa/Belanda di kamp interniran di banjak tempat

di Pulau Djawa, Sumatra, dan locatie laennja. Status quo diberlakukan. Fihak Djepang

jang kalah perang diminta untuk mendjaga status itu hingga Tentara Sekutu sampe di

negeri bekas Hindia Belanda. Bulan September 1945 adalah moment mulainja kekatjau-

an di Djakarta. Ada 4 kubu jang merasa menguasai conditie tempo itu, jakni: Republik

Indonesia, Djepang, Sekutu dengan AFNEI-nja (Allied Forces Netherland East Indies),

dan NICA (Netherlands-Indies Civil Administration, atau "Pemerintahan Sipil Hindia Be-

landa) jang tjoba tandjepken pengaruhnja dan berhasrat merebut kembali negera me-

reka -jang dulunja bernama Hindia Belanda, negeri Belanda di tropis jang indah permai.


Belanda anggep koloninja masih ada, maka dari itu pasukan dikerahkan untuk merebut

Pending Zamrud Khatulistiwa (Gordel van Smaragd). Belanda suda melakukan perdjan-

djian dengan Inggris jang dikenal dengan Civil Affairs Agreement, ditandatangani pada

tanggal 24 Agustus 1945. Perdjandjian itu menjebutkan pengakuan kedaulatan Belan-

dan jang tida boleh disentuh oleh tentara pendudukan (Sekutu) lalu NICA akan melak-

sanakan urusan administrasi pemerintahan sipil, dan seluruhnja diawasi oleh Panglima

Besar Sekutu, Djenderal MacArthur. Disebutkan pula, setelah Sekutu mendarat di In-

donesia, maka seluruh bekas negara Hindia Belanda akan berada di bawah kendalinja

SEAC (South East Asia Command). Pemerintah NICA dipimpin oleh Hubertus Johannes

van Mook, orang Belanda jang lahir di Semarang dan amet mentjintai negeri Hindia ini.

Kedatengan Tentara NICA tida disuka oleh Rakjat Indonesia. Mereka meluapkan actie
dengan menuliskan kata-kata edjekan en pernjataan-penjataan keras, jang ditulisken

di tembok-tembok kota di seluruh Djakarta. Petempuran kerap terdjadi, mulai jang ke-

tjil hingga pembantaian. Pernah kedjadian di suatu hari trem listriek ditembakin Tenta-

ra NICA, padahal isinja penduduk sipil jang sedang melakukan activiteit sehari-harinja.

Bebrapa hari sebelom Pertempuran di Soerabaja, 2 orang pedjabat tinggi NICA ditjulik

oleh laskar pemuda. Maka dari itu sedjak tanggal 20 November 1945 marika mengada-

kan actie pembersihan di sekitaran Menteng, Prapatan dan Senen. Tida tjuma rakjat

biasa jang diserang, tetapi para pemimpin bangsa pun dibrondong peluru. Sjahrir pun

medjadi sasaran tembak, Mohammad Roem terkena peluru di kakinja, Amir Sjarifoedin

mobilnja ditembakin kutika sedang parkir di halaman Bioscoop Metropole, di Menteng.

Peristiwa biadab lainnja adalah tatkala mobil Soekarno turut ditembakin oleh Tentara
NICA Untungnja Bung Karno sedang tida berada di dalem mobil. Pada kasempatan itu,

sopir bernama Toekimin diminta membeli roti, untuk dihidanganken buat para menteri

jang sedang berkumpul di rumah Bung Karno. NICA fikir Bung Karno di dalemnja mobil

dan sekedjap mereka tubruk-ken truk miltairnja-nja ke mobil Soekarno hingga hantjur.

Rumahnja pun ditembakin dengan gentjar di malam hari. Soekarno dan Fatmawati ke-

rap kutjingan-kutjingan pindah dari rumah ke rumah laennja untuk menginap di rumah

orang supaja tida ditangkep en dibunuh oleh NICA. Pagi harinja mereka kembali rumah

Pegangsaan. Kegiatan ini dilakoninnja njaris setijap hari, menjelundup ke rumah orang,

mengetok pintu rumah jang ditudju. Kadang-kadang tida ada orang jang mau mendja-

wab, oleh sebab mereka pun takut sekali pada orang jang tida dikenalnja. Apabila ke-

lihatan muka jang mengintip melalui lobang di atas pintu, Bung Karno lalu berdjingkat,

memandjangkan lehernja, en berbisik "Ini saja, ..Soekarno, ..Presiden" (oh segitunja).

Malem taun baru 1945-1946 boleh dibilang masa puntjaknja ketegangan di Djakarta.

Bunji tembakan jang diletuskan terus-menerus akibat perajaan Old & New Year oleh

Tentara NICA dan Tentara Sekutu di masing-masing tangsi-nja untuk meluapkan ke-

gembiraan pergantian tahun tanpa familie di negeri djauh, menimbulkan suara gaduh

berisik dan mekekakkan telinga. Esok harinja, tanggal 1 Januari 1946 Kepala Eksploi-

tatie Barat (kereta api) Soegandi, diminta untuk lekas menghadap Soekarno, ternja-

ta merundingkan perihal rentjana kepindahan Presiden, Wakil Presiden bersama men-

teri-menterinja tudjuan Djocja, sebagai kota jang mendukung Pemerintahan Republik.

Presiden djuga memberi petundjuk-petundjuk setjara garis besarnja, sedangken per-

kara keamanan dan teknis sepenuhnja dibriken tanggung djawab kepada kereta api.

 

Klaar djumpa Presiden, Soegito sigra hubungin Balai Besar Kereta Api di Bandung, se-

tjara resia pula. Berunding dengan penggawenja, tentuken siapa-siapa jang patut di-

libatken untuk actie berbahaja ini. Pada hari en detik itu djuga, kereta-kereta terse-

but dipreksa serentak, dikasi betul, disiapken untuk didjalanken. Tiada pekerdja jang

tahu untuk apa maksud tudjuannja, hingga itu semuanja diupajaken setjara speciaal.

Delapan rangkaian gerbong disusun dengan nummer serie: DL 8009 voor bagasi, ABG-

L 8001 dan ABGL 8004 voor Kereta Penumpang Kelas 1 dan Kelas 2, FL 8001 voor ke-

reta makan, SAGL 9006 dan SAGL 9004 voor kereta tidur kelas 1, IL 8 voor Presiden

dan IL 7 voor Wakil Presiden. Namun sajang, tjuma 3 dari 8 rangkaian gerbong terse-

but jang tersisa, dan sekarang dapet mudah ditengok di Museum Transportasi, TMII.

 

Memilih siapa-siapa sadja jang akan dilibatkan dalem actie perdjalanan chusus Kere-

ta Luar Biasa ini. Strategie dan trick musti difikirken mateng, perihal pukul berapanja

kereta api berangkat, membuat peta grafik perdjalanan kereta api (gapeka) setjara

chusus untuk kereta ini, djumblah penumpang, barang bawaan, langsirannja dimana.

Lokomotief uapnja pun difikirken pake jang mana, dari dipo mana, conditienja bagai-

mana. Tentu sadja semua ini disijapken dengan amet resia (rahasia), tida semuanja

jang tahu perihal rentjana jang djangan sampe diketahui musuh jang ganas-bringas.

Crew jang dapet dipertjaja, tida bole gegabah, dikumpulken dalem tempoh 2 hari se-

djak prentah dari Presiden dikeluarken. Segenap crew bergerak dengan amet tekun.

Lokomotief uap jang dipilih merupaken jang paling bagus, prima, paling tjepet larinja.


Andeel pekerdja kereta api besar sekali dalem peristiwa bersedjarah ini. Mereka jang

turut actie berbahaja ini, adalah achlinja dalem bidangnja masing-masing. Persiapan

prima didjalanken oleh mereka dengan sungguh-sungguh. Tida ada jang tahu, untuk

apa dan siapa jang akan gunaken kereta api itu, di dalem hati mereka djuga terbesit

sedikit kekuwatiran djikalu actie itu gagal didjalanken akibat tjuriganja Tentara NICA

terhadap kereta api jang digunaken untuk keperluan jang mereka para pegawai kere-

ta api pun djuga tida tahu akan dipake oleh siapa dan kemana tudjuan berangkatnja.

Pukul 5.30 petang hari di dalem Bengkel (sekarang Balai Yasa) Kereta Api Manggarai
diadaken serah terima rangkaian KLB Presiden, jang telah siap pake. Adapun kerabat

jang dipilih jaitu dari: Pelajan Kereta Api (Sapi-ie & Kasban), Restoratur (Moh. Soleh

& Soelaiman), Koki Restoratur (Soekatma), Pelajan Restoratur (Amir, Kasim, Soeban-

di, Adje, Rahali, Djimin, Slamet, Djahidin, Nata, Iljas), Mechanic (Toekimin, Koen Hai,

Irie), Condecteur (Sastrosardono & Soedjono), brikoet Techinisi elekstries (Hidajat).

Sedari pagi, kerabat kerdja kereta api sudah lakuken langsir, dari Station Manggarai

menudju Station Tjikini en Station Gambir supaja Tentara NICA terketjoh dengan ac-

tie idee dengan trick jang knap (pintar) ini. Belanda tida mengira kalu itu merupaken

strategie fihak Republik dalem menjiapken upaja menjelamatkan pemimpin bangsa ini.

Hingga achirnja pada tanggal 3 Januari 1946 petang hari tatkala kereta api brenti di

deket Djalan Pegangsaan Timur, tepat di belakang rumahnja Bung Karno, kerabat ke-

reta api liet rombongan petinggi bangsa jang sudah menunggu dengan sabar kedata-

ngan kereta api jang akan membawa Bung Karno, Bung Hatta dan sedjumlah menteri.

Familie daripada Pak Hidajat ini, nantinja turut bergabung dengan kitaorang di dalem

programma napak tilas kedjadian bersedjarah, jang terbitken prestatie begitu heibat.

Bung Hatta beserta isterinja berdjalan kaki dari rumahnja di Oranja Boulevard (seka-

rang Jl. P.Diponegoro, rumah preciesnja ada di seberang Kantor PDI-P), menudju ke
locatie jang suda disepakati. Mereka mendjindjing 1 koper isi pakean. Menurut kesak-

sian Njonja Rahmi Hatta, ia berkata: "Saja melihat rangkaian gerbong kereta api su-

dah berenti di belakang rumah Bung Karno. Kemudian di beranda depan, Zus Fatma-

wati sedang menimang Guruh, waktu itu masih balita, kemudian Bung Karno dikawal

PPP (Polisi Pengawal Presiden). Kami bersama-sama menudju bagian belakang rumah.

Menerobos belukar, berikut pagar kawat, di bagian belakang. Dengan bergegas, Pak

Mangil, seorang perwira PPP, membuka pagar kawat dan sesudanja menerobos alang-

alang, kami sampai di rel kereta api belakang rumah Bung Karno. Suasana amet men-

tjekam sebab dari kedjauhan sesekali terdengar suara tembakan apalagi sirine tanda

dimulainja djam malam sudah berbunji. Penguasa Inggeris menetapkan penduduk Dja-

karta waktu itu tidak dibenarkan berada di luar rumah sedjak maghrib sampai subuh".
 

Momentum keberhasilan mengawal Presiden dalem hijrah ke Djokjakarta pada tanggal

3 Januari 1946 ini, diabadiken sebagai Hari Bhakti Paspampres (Pasukan Pengamanan

Presiden). Mereka jang mengawal Bung Karno ada 13 orang, bernama: Soekasah, Wi-

narso, Soepandi, Mangil, Rasmad, Didi Kardi, Ramelan, Soehardjo, Soekanda, Karnadi,

Oding Soehendar, Moh, Toha. Bersendjata rangkap, sendjata pandjang M95, revolver

2 KM dan 1 PM (pistol mitraliur) djuga beberapa putjuk sendjata peninggalan Djepang. 
 

Hari semakin gelap, matari tjondong ke ufuk barat, tertutup oleh rimbunnja pohon di

sepandjang bilangan Manggarai-Tjikini. Dengan sembojan aba-aba tanpa suara, loko-

motief uap C2849 diprentahkan masup bengkel untuk disambungkan dengan gerbong

KLB (Kereta Luar Biasa) jang sudah menunggu dengan pintu, djendela tertutup, dan

penerangan pun dimatikan. Klaar digandeng, rem dipreksa betul, lokomotief dan rang-

kaiannja keluar perlahan-lahan dari bengkel menudju emplasemen Station Manggarai

sebagai langsiran. Gerakan ini terus dilandjutken menudju terowongan Pasar Rumput

dan dengan hati-hati KLB diteruskan ke Pegangsaan, brenti tepat di belakang rumah

Bung Karno, jang letaknja memang precies membelakangi rel kereta api deket Tjikini.

Tida ada penerangan sedikitpun, bahkan tiada tjahaja dari sebatang rokok pun pada

malem itu. Sasuda menunggu agak lama, tampaklah rombongan tjalon penumpang di

seberang rel kereta api. Mereka adalah rombongan Presiden, Wakil Presiden, beserta

anggauta kabinet. Tida bole bersuara bila tida perlu, kalaupun bitjara harus berbisik-

bisik, sehingga menambah suasana mentjekam babak penting perdjalanan negeri ini.

Semua orang sudah compleet, sekarang tiba saatnja untuk bergerak pelan menudju

selatan, kembali via Station Manggarai jang didjalanken dengan gerakan langsir per-

lahan masup liwat spoor (djalur) 6, dimana pada spoor 5 sebelumnja sudah ditutupi

dengan barikade rangkaian kereta, gerbong kosong jang menutupi pandangan mata

para Tentara NICA jang biasanja berdjaga di sekitar peron di gedong utama station,

dan males untuk preksa ke djalur kerna situatie jang gelap-gulita dan tiada apapun.


Njonja Rahmi selandjutnja berkata: "Sesaat kemudian kereta api bergerak ke arah ti-

mur. Tidak ada bunji peluit bahkan tidak ada lampu di dalam gerbong jang dinjalakan.

Rangkaian Ekspres Malam dengan call sign KLB (Kereta Loear Biasa), karena berang-

kat di luar djadwal, segera meladju ke arah timur dan sebentar kemudian sudah me-

lewati Station Manggarai, kemudian menerobos garis demarkasi di Djatinegara, jang

didjaga oleh Inggeris sebelum achirnja masup ke wilajah Republik agar sampe Djokja.

Kereta api bergerak lambat lajaknja langsiran di Station Manggarai hanja 5 KM/djam.

Makin lama makin tjepet, 25 KM/djam, namun kutika hampir masup Station Meester

Cornelis, ladjunja diperlambat dan djalan lajaknja langsiran lagi, dan djuga disiasatin

dengan tarok serangkaian kereta en gerbong untuk menutupi pandangan dari peron

1 jang kerap didjaga oleh Tentara NICA, jang kadang-kadang melakuken patroli dari

pintu utama station di sekitaran peron 1 tersebut. Mereka tida ada jang mengira dji-

kalau jang liwat itu adalah pemimpin Republik jang mereka bentji dan pingin dibunuh.

KLB Presiden meluntjur lantjar selepasnja Station Meester Cornelis (Djatinegara) itu,

melintasi Station Tjipinang, Klender dan Krandji. Pendjaga Soldadu NICA jang berdja-

ga di Station Krandji tida mengira kalau akan ada kereta api jang akan liwat Station

Krandji lagi dan baru insjaf/menjadari tatkala udjung ekor kereta api KLB itu meladju
djauh di depan, mengarah ke Station Tjikampek. Begitu masup Station Bekasi, ketje-

patan kereta dimaksimalken hingga mentjapai 60 KM/djam. Karena suda masup dae-

rah Republik jang dianggep sudah aman, lampu segera dinjalaken, djendela dibukain.

Penumpang en djuga pekerdja kereta api sontak mengutjapken Sjukur Alhamdulillah.

Hati lega, pengrasa'an tenang, wadjah tersenjum simpul, bertjakap-tjakap sembari

tertawa gembira, nikmatin udara segar dari balik luar djendela, udara Kemerdekaan.

Hijrah dari Djakarta ke Djokja ini, Njonja Rahmi Hatta kembali mengutjap: "Ternjata,

pada awal 1946, para pemimpin Republik memutuskan untuk meninggalkan Djakarta.

Mereka menilai antjeman di ibukota telah berada diambang batas toleransi. Pasukan

NICA dan pasukan Inggeris senantiasa memantjing insiden. Pada achir 1945, Mr.Moh.

Roem, Djaksa Agung Republik, ditembak tanpa alesan djelas. Beruntung itu pelurunja

hanja kena kaki. Ia selamat, tetapi djadi tjatjat permanent, kalau berdjalan pintjang.

Maka, meniru tauladan Nabi Muhammad SAW, Presiden dan Wakil Presiden, hijrah ke

Djokja, kota kuno jang berada di pendalaman Djawa, tempat Sultan Djokja berkuasa

demi terdjaminnja kelangsungan pemerintahan Republik. Hanja Sutan Sjahrir, selaku

Perdana Menteri jang tetap tinggal di Djakarta, untuk memimpin diplomasi. Reputasi

Bung Sjahrir sebagai pedjuang bawah tanah antifasis di djamannja pendudukan Dje-

pang membuat fihak Inggeris dan Sekutu sama sekali tida berani menjentuh dirinja".

Begimana kelandjutan tjeriteranja? Kitaorang bakal beri kisah compleetnja langsung

di djalanan en di dalem gerbong Kereta Luar Biasa. Djuga perkara peristiwa tanggal

28 September 1945, jang ditetapkan sebagai: Hari Kereta Api. Di Pagi harinja, akan

stel film documentair, pendjelasan perkara actie mendjelang tanggal 3 Januari 1946.

Sungguh suatu activiteit jang suker ditemuken di tempat lain, tjuma ada di program

sahaBATMUSeum pakansi sembari beladjar sedjarah di locatie kedjadiannja langsung.

Zo, toenggoe apalagi ?!! Lekas, Sigra daftarken diri Toean & Njonja sekarang djoega!
kirim email ka: adep@cbn.net.id (adep at cbn dot net dot id) ataoe kaloe mahoe ber-
tanja sablonnja, sila hoeboengi telefoon-tangannja di nummer: 0818949682 (nummer
oeroet peserta akan dibriken sasoeda mendaftar, sehingga nanti ditransfer oeangnja

sasoeai dengen nummer oeroetnja), kamoedian dapet ditransfer oeangnja langsoeng: 
BCA, no.rek 237 14 25 693 BCA cab Pondok Indah a.n: ADE HARDIKA PURNAMA
toeloeng diconfirmatie sigra via email ataoe disms ka nummer 0818949682 selekasnja.
(djikaloe Toean ataoe Njonja ternjata tida djadi ikoetan en soeda transfer, moehoen
ma'af, doeit jang soeda ditransfer tida dapet dikembalikan, tetapi bisa dioper kepada
orang laen/familie/teman). Adapoen nummer rekening MANDIRI = 101.000.44.34.088,
a.n: ADE HARDIKA PURNAMA en rekening BNI 46, yaitu dgn no.rek: 01.48.44.54.65
a.n: ADE HARDIKA PURNAMA, kantoor tjabangnja poen ada di Pondok Indah djoega.


Tjara membajarnja/transfer, misalnja: Onky Alexander ada di nummer oeroet 18, maka 
Onky transfernja = Rp.360.018 (djikaloe di mesin ATM ketiknja Rp.360018 << angka 18
di belakang mengatjoe ka nummer oeroet djadi nanti bajarnja boekan Rp.360.000 sadja,
tetapi ditambah Rp.18 sebagi nummer oeroet. Kaloe-kaloe mendaftar lebih dari 1 orang,
dan kapingin transfernja sekaligoes djalan, jang misalnja, saperti tjontoh sematjem gini:

18. Onky Alexander
19. Meriam Bellina
20. Btari Karlinda 

Transfernja bole sekaligoes = Rp.1080018 (mengatjoe ka nummer oeroet jang doeloean),
maka dari itoe, nummer oeroetnja djangan didjoembelahken djadi 1 jah (18 + 19 + 20 =
57=Rp.1.080.057). Oh DJANGAN, DJANGAN, DJANGAN. kerna nantinja malahan bikin kita-
orang mendjadi bingoeng, en bole djadi nummernja ini (oempamanja nummer oeroet: 57)
soedah ada jang poenja, orang laen. Dapet menjebabken kakaliroean. Tetapi kalo mahoe
transfer satoe per satoe djoega boleh, ketik sadja Rp.360018, Rp.360019, en Rp.360020
ataoe, misalnja ada temen/keluarga jang misih kapingin daftar lagi, en dapatken nummer
jang djaoe dari rombongan Toean-Njonja (misal dapet nummer oeroet = 178) maka nan-
tinja djikaloe mahoe mentransfernja sekaligoes/sekali djalan toeloeng diseboetken sadja
bahoewa doeit jang sebanjak Rp.1.440.018 oentoek nummer oeroet 18, 19, 20 en 178. 

Djangan loepa oentoek bawa pajoeng, topi, handduk ketjil, inget Djakarta panas! Djika-
laoe pada temponja hoedjan ada toeroen, kitaorang aken moelai plesirannja sasoedanja
itoe hoedjan brenti. Zo, plesiran tetep dilakoekoen, tida berganti hari, ataoe tanggalnja.

Memoedjiken dengen hormat,
Ade Purnama (Adep)
SAHABAT MUSEUM
Jakarta-Indonesia

P: 0818 94 96 82

0812 84 27 27 36
Pin BB: 23975CBC
Email: adep@cbn.net.id

Facebook: Ade Purnama

Twitter: @sahabatmuseum

www.sahabatmuseum.org


(beberapa sumber sejarah dibaca dan dikutip dari

sejumlah buku: "Terobosan Sukarno dalam Perun-

dingan Linggarjati", karya Rushdy Hoesein; "Bung

Karno, Penjambung Lidah Rakjat Indonesia", Cindy

Adams; "Maulwi Saelan, Penjaga Terakhir Soekar-

no", karya Asvi Warman Adam, Hendri F. Isnaneni,

Bonnie Triyana, M.F. Mukthi; "Djakarta 1945, Awal

Revolusi Kemerdekaan", Catatan Julius Pour; doku-

men terbitan: Perpustakaan Kereta Api Kantor Pu-

sat,"Mosaik Perjuangan Kereta Api 1945: Pemerin-

tah RI Hijrah"; tayangan program Metro TV "Mela-

wan Lupa, episode Ular Besi Penyelamat Republik")



PLESIRAN TEMPO DOELOE: Tinggalkan Djakarta, Sekarang!

Minggoe, 25 September 2016

07.30 - 08.00: Pendaftaran Ulang di Museum Perumusan Naskah Proklamasi

08.00 - 08.30: Penjelasan ttg peristiwa "Kemerdekaan" dan "Jaman Bersiap"

08.30 - 08.45: Naik Bus AC berangkat ke Stasiun Jatinegara

08.45 - 09.00: Jalan kaki menuju Dipo Stasiun Jatinegara

09.00 - 09.15: Penjelasan tentang persiapan Lokomotif KLB di Dipo Jatinegara

09.15 - 09.20: Jalan kaki ke Stasiun Jatinegara

09.20 - 09.30: Menanti Kereta Api di Stasiun Jatinegara

09.30 - 09.45: Naik Kereta Api ke Stasiun Manggarai

09.45 - 10.00: Bus AC berangkat ke Balai Yasa Manggarai

10.00 - 10.30: Penjelasan ttg persiapan Gerbong Kereta Api di Balai Yasa Manggarai

10.30 - 10.45: Bus AC berangkat ke "bagian depan rumah Bung Karno" 
10.45 - 11.00: Penjelasan ttg "bagian depan rumah Bung Karno" 
11.00 - 11.10: Jalan Kaki ke "belakang rumah Bung Karno" di pinggir rel Kereta Api

11.10 - 11.30: Penjelasan ttg persiapan Hijrah Pemimpin Republik ke Yogyakarta

11.30 - 12.15: Makan Siang di Taman Tugu Proklamasi, Jl. Pegangsaan Timur 56

12.15 - 12.30: Naik Bus AC ke ke Stasiun Cikini

12.30 - 12.45: Menanti Kereta Api ke Stasiun Bekasi

12.45 - 13.30: Naik Kereta Api berangkat ke Stasiun Bekasi

13.30 - 13.40: Kereta Api berhenti di stasiun akhir Stasiun Bekasi

13.40 - 14.00: Kereta Api berangkat ke Stasiun Klender (turun di sini)

14.00 - 14.30: Naik Bus AC ke Museum Transportasi di TMII

14.30 – 16.00: Keliling Kereta Luar Biasa di Museum Transportasi TMII

16.00 – 17.00: Berangkat ke Museum Perumusan Naskah Proklamasi

17.00 - 17.30: Acara Selesai



__._,_.___

Posted by: "Ade Purnama" <adep@cbn.net.id>


Ingin bergabung? Kirim email kosong ke: tourismindonesia-subscribe@yahoogroups.com

Klik:

http://tourismindonesia.blogspot.com





__,_._,___

Tidak ada komentar: